chapter 4.

1.5K 242 33
                                    

(m/n) terus berlari, tak peduli seberapa lelah dirinya, tak peduli seberapa sakit lukanya, ia terus berlari sampai dirinya bisa melupakan trauma itu meski hanya sepersekian detik.

Salju mulai turun, hawa dingin menyentuh kulit (m/n).

Bruk!

"Ugh!"

(M/n) tersandung oleh sebuah dahan pohon yang tumbang. Nafasnya terengah-engah, dia mencoba bangkit kembali namun percuma. Tubuhnya sudah mencapai batasan, atau bahkan sudah melebihi batas tubuh manusia.

Disaat kesadarannya mau hilang ia samar-samar mencium bau tanah. Sungguh, bau tanah.

Bau yang muncul saat hujan pertama turun di musim kemarau. Seperti bau tanah segar yang di siram air hujan. Entah kalian tau atau tidak, memang seperti itulah bau yang (m/n) cium.

Ah. Dia teringat kakaknya lagi.

Suara langkah kaki terdengar. Seseorang datang, (m/n) sudah kehilangan kesadarannya. Wujud orang itu terlihat, seseorang dengan tinggi 169 cm. Rambut berwarna putih bersih seperti salju serta mata hitam pekat.

"Astaganaga, gua baru Dateng loh. Nih anak udah mau meninggal aja"

Sosok itu berkata. Dia menjentikkan jarinya lalu tubuh (m/n) menghilang bersama orang itu.

.
.
.
.
.

(M/n) membuka matanya, tubuhnya terasa sakit di beberapa tempat yang diperban. Dia mencoba bangun tapi suatu teriakan menghentikan niatnya.

"Jangan bergerak!"

Entah kenapa tubuh (m/n) benar-benar berhenti bergerak mematuhi perintah dari orang yang baru saja masuk.

"Kau butuh istirahat. Jangan merepotkan ku"

Orang itu berkata dengan malas sambil menggaruk rambutnya yang berantakan. Tubuh (m/n) pun kembali bisa digerakkan, dia kembali rebahan di tempat tidur. Ia menatap orang itu tajam.

"You can call me Apik"

(M/n) membulatkan bola matanya, dia tak salah dengar. Orang ini berbicara bahasa Inggris. Bahasa yang tidak diketahui oleh orang Jepang di masa ini.

Melihat (m/n) yang kebingungan orang itu menghela nafas.

"Harusnya kau sudah tau aku siapa"

"... Kau... Waria?"

"ENAK AJA! JANGAN BICARA YANG TIDAK-TIDAK KAU DASAR MANUSIA!"

(M/n) memutar bola matanya malas.

"Lalu kau siapa? Jangan bertele-tele, langsung to the poin saja"

Ia berkata dengan nada mengancam.

"Tampa kau ancam pun aku akan memberitahu. Nama baruku adalah Apik. Aku hanya akan datang saat kau butuh bantuan-"

"Kau pikir aku lemah!"

(M/n) membentak kala Apik mengucapkan kata bantuan. Dia tidak suka di kasihani.

Mendengar bentakan (m/n), apik hanya tersenyum remeh. Sudah lama dia tidak bertemu orang yang tak sadar akan kondisi tubuhnya sendiri.

"Jangan sombong, kau jadi mirip Lucifer"

Apik bergumam pelan namun (m/n) masih bisa mendengar.

"Memangnya kau ini malaikat?"

"Ya ya ya, terserah. Jika kau dalam bahaya besar atau butuh bantuan panggil namaku tiga kali"

Apik membuka pintu dengan pelan, cahaya matahari menyinari dirinya.

"..." (M/n) diam, dia malas berbicara.

pemburu iblis gila! (kny x mreader) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang