Chapter 10

959 169 19
                                    

Jangan lupa vote dan komen kalo mau lanjut.

#####

Sore hari, Amane tengah duduk di teras sembari menatap pemandangan matahari terbenam di teras rumah dengan tatapan seduh. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa tubuhnya, rambut Amane ikut bergoyang. Saat Amane membenarkan posisi jepit rambutnya ia kembali teringat dengan hadiah pemberian sang adik.

sejak kepergian (m/n) Amane tak pernah lagi memakai jepit rambut itu.  

Ia takut jika benda yang merupakan satu-satunya barang berisi kenangan bersama sang adik itu rusak.

"(M/n), dimana pun kau berada, aku harap kau dalam keadaan baik-baik saja," lirih Amane.

"Amane," suara lembut dan menenangkan itu memanggil namanya.

Amane menoleh ke asal suara, di belakangnya ada sang suami sedang menatapnya dengan senyuman yang selalu terbentuk di wajahnya.

"Kagaya-sama, apa ada yang anda butuhkan?"

"aku hanya ingin bertemu denganmu, Amane," Kagaya kemudian duduk di sebelah Amane.

Keheningan melanda keduanya selama beberapa saat. Wajar, love language mereka berdua adalah quality time, dan keduanya juga sama-sama introvert.

Yang menghancurkan keheningan malam ini adalah kedatangan seekor burung gagak.

"Kwak! Kwak!"

Amane mengangkat lengannya sebagai tempat burung gagak itu bertengger.

"Kwak! Pemburu itu ditemukan, Kwak! Dia sekarat, Kwak!"

Kagaya sedikit mengernyit, "begitu ya, kirimkan beberapa hashira yang berada di lokasi terdekat untuk menjemputnya, lagi."

Setelah mendengarkan perintah sang majikan gagak itu pun kembali terbang.

Amane mengetahui ciri-ciri pemburu iblis yang tengah jadi bahan gosip akhir-akhir ini. Rambut abu-abu terang, mata hitam pekat, sebenernya itu agak mirip ciri-ciri (m/n) yang ia ingat.

Jauh di lubuk hatinya, Amane berharap jika pemburu iblis gila itu bukan (m/n).

#
#
#

Sementara itu, beberapa jam sebelum si gagak memberikan kabar. (m/n) tangah terikat disebuah pohon mengunakan rantai.

"HOI! APA-APAAN INI APIK?" (M/n) berteriak kesal.

Si tersangka pengikatan (m/n) hanya duduk santai di atas batu besar.

"Diamlah, aku sedang bersiap-siap untuk ritual pengusiran setan."

Apik, dengan sesajen di tangan kirinya dan es krim mixser di tangan kanannya mulai berjalan mendekati (m/n) yang terikat di pohon wisteria.

(M/n) mulai bergumam, "sejak kapan mixue dijadiin sesajen?"

Apik yang mendengar itu pun kesal,"enak aja, nih es krim yang buat gua makan lah. Udah jauh-jauh gua beli, ya kali dijadiin sesajen."

"Oh, kirain ...."

Nyem!

Apik menghabiskan es krim itu dalam sekali tegukan, membuat (m/n) sedikit ngilu. Pasalnya (m/n) punya gigi sensitif.

"Lo mau apa?" tanya (m/n) saat apik sudah berada di hadapannya.

"Mau gaji di naikkan tiga kali lipat," sungguh jawaban yang tidak berfaedah.

"Lepasin gua."

Apik menggeleng, dia mengambil salah satu dupa yang ada di dalam nampan sesajen kemudian menunjukkan dupa itu pada (m/n).

pemburu iblis gila! (kny x mreader) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang