.......
......
.....
....
...
..
.
"Akh!" Mark mulai terbangun sembari meringis pelan saat merasakan perutnya yang sedikit tertekan.
Mark membuka matanya perlahan dan dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul mark mendadak membulatkan matanya terkejut saat dirinya yang melihat jeno kini tengah mengukungnya dengan kedua tangan yang berada di sisi kepalanya, jeno tengah asik menciumi seluruh tubuh bagian atas nya tanpa memperdulikan sang pemunya yang telah terbangun.
"J-Jeno apa yang kau la-lakukan!?" mark berusaha mendorong bahu jeno yang kini menempel di perutnya, jeno tengah menghisap dada mark layaknya seorang bayi tanpa menghiukan perkataan yang mark berikan.
"Akh! S-Sakit jeno!!" Mark semakin berusaha keras mendong bahu jeno yang justru semakin menempel erat padanya bahkan sesekali jeno mengigit dadanya yang membuat mark pun menjerit kesakitan.
"Je-no! Anak ku!" Mark berteriak kencang yang mana membuat jeno langsung menyudahi aksinya tersebut, bagaimana tidak jeno menekan tubuh besarnya kepada perut mark.
"Kau yakin ini anak mu?" Jeno bertanya pelan tepat di depan wajah mark yang lantas terdiam saat mendengar apa yang jeno katakan tersebut.
"A-Apa yang kau katakan!" Mark sekali lagi mendorong bahu itu saat melihat jeno yang dirasa tengah lengah, tetapi jauh berbalik itu tidak sesuai dengan apa yang di harapkan mark, jeno bahkan tidak bergeser sedikit pun.
Tidak ada lagi yang jeno katakan ia justru begitu saja beranjak dari atas tubuh mark seakan kini moodnya menurun, lantas mark menghelan nafas lega mark kira jeno akan berbuat jauh seperti biasanya lagi.
Tetetapi sebelum itu seperti ada yang berubah!. Mark sadar, bagaimana dirinya kini berada di kamarnya bukankah tempat terakhir mark sebelum menutup matanya tersebut di sebuah lorong gelap nan sunyi?
Kini bagaimana dirinya berada di rumahnya sendiri mark tidak habis pikir apa ada yang memindahkannya atau semacamnya.. mark tidak tau
"J-Jeno bagiamana a-aku berada di sini?" Mark memilih untuk bertanya kepada jeno yang hanya berdiri terdiam di depan kaca besar jendela terdebut, lantas jeno pun membalikan badannya melihat mark yang berada di kasur itu.
Tidak ada yang jeno katakan kecuali yang mark lihat hanya jeno yang mengakat bahunya acuh seperti biasa jeno sangat minim dengan berbicara, kecuali memang sedang penting.
Mark menganguk lelaki manis itu pun beranjak dari duduknya untuk menuju kamar mandi mengabaikan jeno yang menatapnya tersebut, mark sudah terbisa oleh sifat aneh lelaki itu.
--
Mark menatap lama wajahnya yang terpampang jelas di cemin itu, tidak ada yang berubah kecuali hanya perutnya yang semakin hari semakin besar entah berapa umur kehamilannya saat ini mark tidak tau ia bahkan tidak pernah pergi untuk memperiksakan kandungannya tetapi mark berharap ia cepat melahirkan, ini begitu sulit bagi mark yang tak atau apa pun, dengan ganguan yang terus mengikutinya.
"Bisakah kau segera lahir??" mark mengusap usap perutnya tersebut yang hanya terlapiskan oleh kaos putih tipis, lambat lambat mata bulat itu mulai berkaca kaca sebelum meneteskan cairan putih bening yang begitu saja mengalir melewati pipi yang tidak lagi cubby itu.
"Segeralah lahir agar aku memiliki teman!" ucap mark di sela sela tangisnya tersebut, hanya saja selama ini mark merasa hidup seorang diri walau pun memiliki kedua orang tua yang utuh itu tidak berpengaruh kepadanya sebab kedua orang tuanya hanya datang saat ingin melakukan hal hal aneh itu.
Bahkan lihat lah sekarang. Ke dua orang tuanya tersebut telah tiada ia tidak memiliki siapapun lagi kecuali bayi yang berada di dalam kandungan tersebut tetapi itu juga mark masih sangat meragukannya, sebab ada jeno yang bisa saja membawa bayi ini ikut bersamanya teringat jika pernikah mereka hanya sebatas agar mark melahirkan seorang keturan.
Tentu mark sangat tidak ingin jika jeno nanti membawa anaknya tersebut dan dari situ lah mengapa mark saat ini ingin agar bayi ini segera lahir sebab mark telah merencanakan sesuatu.
Tetapi terlepas dari itu semua tanpa mark sadari jeno kini sudah berada di depan pintu itu jeno masuk saat mendengar mark yang menagis.
.
"Dimana buku itu berada?" mark bergumam pelan sembari mengobrak abrik laci lemari tua milik orang tuanya itu, mark mendadak teringat tentang apa yang mahluk itu katakan dan berakhir lah kini mark susah payah mencari buku itu.
Semua tempat mark sudah cari dari mulai gudang, ruang bawah tanah, dan terakhir di kamar ke dua orang tuanya ini, tetapi buku itu tetap saja tidak ketemu memang ada satu lagi rungan yang mark belum kunjungi yaa itu kamarnya sendiri tetapi jika mark pikir ulang itu tak kan berhasil entah mengapa tetapi mark sudah bisa menduganya.
"Apa yang kau lakukan?" Mark menolehkan wajah saat mendengar suara berat itu yang mengalun tepat di samping wajahnya terlihat jeno dengan wajah datarnya yang tengah memengang sebuah kantung plastik.
Mark tersentak pelan melihat jeno yang tiba tiba saja muncul bak mahluk halus dengan pakaian serba hitam itu berlalu ia melirik kantung yang jeno bawa tersebut.
Jeno menyodorkan kantung hitam itu kepada mark yang hanya terdiam melihatnya entah apa yang ada di dalam nya jeno tidak berkata apapun, lantas mark meraih kantung itu.
"Apa ini?" Setelah menerimanya mark tidak langsung melihat isi dari dalamnya tetapi ia menatap jeno berharap jeno menjawabnya, dan benar saja jeno menjawabnya walaupun hanya dengan mengangkat bahu.
Lantas kepalang penasaran mark pun sedikit mengintip kedalam kantung itu dengan menyipitkan kedua matanya ia merasa cukup ragu.
Tetapi apa yang ia lihat membuat mark pun terbingung, terdapat sebuah obat obatan yang cukup banyak dengan berbagai warna, mark pun menatap jeno penuh tanda tanya.
"Aku lupa jika ayah mu memberikan itu kepada ku untuk mu, minum lah" apa yang jeno katakan justru semakin membuat mark binggung lantas mark memberikan kembali kantung itu kepada jeno.
"A-Aku tidak mau!" jeno mengambil kembali kantung itu yang mark sodorkan kepadanya, semula alis lelaki itu menaik satu menatap mark heran.
"b-bisakah kau pergi?" setelah menyerahkannya mark menyuh agar jeno segera pergi meninggalkan nya sebab mark merasa tidak nyaman saat berada dekat dengan jeno yang hanya diam memperhatikan nya. Lebih baik lelaki itu pergi.
Tetapi bukannya menuruti jeno justru masih terdiam di tempatnya tanpa menjawab maupun bergerak ia hanya memperhatikan mark yang terlihat telah risih akannya.
Mark berusaha agar mengabaikan jeno ia memilih untuk focus pada apa yang ia tuju pada saat sampai diamana buku yang ia cari sejak tadi itu pun tetap saja tidak ketemu dan lantas mark pun teringat akan satu hal.
Selain hanya orang tuanya yang tau tetang buku itu jeno juga tau.
--tbc.
Ada yang berteori tentang cerita ini kah?? :)
KAMU SEDANG MEMBACA
VERY STRANGE PREGNANCY [END]
Horror[JENOXMARK][REVISI] Mark merasakan hal aneh yang mulai janggal pada kehamilan pertamanya. Rasa aneh itu semakin menjadi saat ia mengetahui satu hal. JUST FANTASY
![VERY STRANGE PREGNANCY [END]](https://img.wattpad.com/cover/301972889-64-k442622.jpg)