"Maaf j-jungwoo tapi ini su-sudah terlalu malam apa sebaiknya kau bermalam di sini terlebih dahulu??"
Mark menahan tangan lelaki itu yang baru saja ingin beranjak pergi, mark tidak perduli jika jeno akan marahan terhadapnya jika di larangnya orang asing masuk ke rumah ini tanpa seizin kedua orang tuanya, lagi pula mereka sudah tiada.
"Maaf tapi sepertinya suami mu keberatan akan hal itu" jungwoo sedikit melirik jeno yang tengah berdiri tak jauh dari mereka dengan sorot mata yang tajam menatap jungwoo yang sudah bergetar takut di tempat.
Lantas mark mengikuti arah tatap jungwoo mark tau apa yang lelaki itu pikirkan tetapi ini sudah malam mark takut jika lelaki ini kenapa kenapa.
"J-Jeno tidak keberatan" mark menatap jeno sekilas dan tanpa ingin mendengar balasan nya mark bergegas pergi dengan jungwoo yang ia tarik menuju kamar dimana untuk nya.
Kamar ini terletak di sudut paling belakang yang mana dekat dengan gudang dan itu adalah kamar tamu yang memang sudah lama tak ada yang menempetinya.
Terlihat kasur serta mejanya yang memang sudah berdebu.
"Maaf t-tapi hanya ada tiga kamar di rumah ini dan hanya ini lah yang ada" mark melihat kebelakang dimana jungwoo berada sembari menjelaskan jika hanya kamar inilah yang tersisa, lagi pula ini tidak buruk hanya sprei nya saja yang harus mark gantikan.
"Tidak apa ju-jungwoo??" jungwoo yang tengah melihat seisi kamar pun lantas sedikit tersentak mendengar apa yang mark katakan ia pun menganguk.
"O-Ohh tidak apa, aku sangat berterimakasih" setelah mengatakan hal tersebut mark serta jungwoo pun mulai memasuki kamar tersebut yang hanya di sertai lampu kuning yang cukup gelap, secara refleks mark memengangi purutnya yang untuk pertamakalinya mark memasuki kamar ini setelah beberapa tahun lalu dan bahkan tidak ada yang berubah hanya terkesan sedikit menyeramkan.
"Terimakasih ini kamar yang bagus" jungwoo masih terus mengamati setiap sudut kamar itu walau dalam lubuk hati terdalam tersimpan rasa takut.
"Baiklah aku akan mengambilkan sprei baru" setelah mendapatkan angukan yang jungwoo berikan segeralah mark pergi untuk mengambil barang tersebut meninggalkan jungwoo yang menghelanafas kasar.
"Siall rumah ini bahkan lebih seram dari apa yang ku pikirkan!" jungwoo mulai melepas kacamatanya tersebut seraya mengelap matanya yang sedikit berair, ini melebihi ekspetasinya.
Drtt..Drtt
Di sela sela dirinya yang tengah mendumal sebal benda pipih di kantong celana tersebut pun mulai berdering kencang membuatnya segera cepat meraih benda tersebut.
"Hallo jungwoo apa kau sudah menemukan rumahnya??" Suara yang terdengar dari sebrang sana mulai berbicara kepadanya dengan nada yang tak terdengar santai.
"Hm" jungwoo hanya membalasnya dengan deheman ia tidak mau terlalu banyak berbica disini banyak kuping yang dapat mendengarnya.
"Carilah informasi sebanyak mungkin!" setelah mengatakan hal tersebut lelpon pun secara otomatis di matikan membuat ia hanya menghelan nafas dan secara bersamaan dengan hal tersebut pintu kamar itu pun kembali terbuka menampilkan mark yang kini tengah membawa sprei kasur tersebut.
Melihat kedatangan mark lantas jungwoo pun memasang kembali kaca matanya yang sempat ia lepaskan dan berlalu berjalan berinisiatif membatu mark.
"Maaf jika merepotkan" jungwoo mengambil alih sprei tersebut yang ia taru di atas kasur itu tidak lupa juga menampilkan senyumnya kepada mark.
"Tidak apa, bukankah kita harus saling membantu?" jungwoo mendadak ternyum senyum sendiri mendengar penuturan mark yang menurutnya sangat manis, pipinya mulai terasa panas.
"Ba-Baiklah jika begitu aku a-akan istirahat" sambung jayden seraya menunjuk arah kasur dengan ibu jarinya yang didapati angukan oleh mark.
Lantas mark pun mulai pergi meninggalkan jungwoo setelah memberikan ucapan selamat malam dan tidak lupa juga mark menutup pintu itu.
Jungwoo tersenyum kikuk setelah melihat kepergian mark, kini hanya tersisalah dirinya seorang di dalam kamar ini, jikalau bukan sebab pekerjaan ia takan mau pergi jauh jauh hanya untuk datang kemari.
.
Mark mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil setalah usai ia membersikan diri.
Mark mulai mengambil duduk di pingir kasur tersebut seraya sesekali melihat jeno yang tengah membaca buku.
Hening tak ada yang mengangkat suara selain hanya pada saat jeno membuka lembaran baru dari buku tersebut mark mencuri curi pandang pada buku itu yang menurutnya tak asing.
Mulai sadar dengan mark yang terus memperhatikan nya membuat jeno pun berhenti membaca ia perhalan mulai menolehkan kepala sembari menutup buku itu.
Mark sontak mengalihkan pandangannya saat mata tajam jeno menatapnya, mark berinisiatif ingin beranjak tetapi mendengan jeno yang berbicara membuatnya urung kembali.
"Kau kenal dengan nya?" jeno bertanya dengan menyebut kata 'nya yang dapat dengan cepat mark sadari siapa yang jeno maksud.
"Tidak, dia hanya orang asing yang ingin meminjam mantel" jawab mark yang kini mulai membalikan tubuhnya menatap jeno berada, lantas lelaki itu pun menganguk sebelum kembali membaca bukunya.
Mark hanya dapat menghelan nafas melihatnya ia berinisiatif ingin pergi tetapi suara jeno kembali terdengar membuatnya pun urung kembali.
"Dia bukan orang yang baik" jeno masih tenang dengan posisinya yang masih tetap membaca buku, yang mana sangat berbanding balik dengan mark yang kini justru mulai binggung.
"Kau tak boleh asal menuduh!" mark menyangkal perkataan jeno ia yakin jika jungwoo adalah orang yang baik tetapi ada apa dengan jeno ini?
"Liat saja nanti" jeno bergumam pelan sembari ternyum sumbringah yang sayangnya mark tak dapat lihat, mark telah deluan berlalu pergi menuju entah kemana langkah nya menuju keluar itu yang jeno lihat.
Maaf untuk jarang up nya yaa.
KAMU SEDANG MEMBACA
VERY STRANGE PREGNANCY [END]
Horor[JENOXMARK][REVISI] Mark merasakan hal aneh yang mulai janggal pada kehamilan pertamanya. Rasa aneh itu semakin menjadi saat ia mengetahui satu hal. JUST FANTASY
![VERY STRANGE PREGNANCY [END]](https://img.wattpad.com/cover/301972889-64-k442622.jpg)