XVIII

1.8K 119 3
                                        

"Apa kau yakin?" Jungwoo sekali lagi bertanya kepada mark yang kini sudah siap, hanya saja dirinya merasa khawatir akan rencana ini.

"Aku yakin!" ujar mark menjawab jungwoo dengan sunguh sunguh.

Dan kini mereka berdua pun mulai menaiki mobil tersebut yang telah sampai untuk beberapa menit lalu.

"Jungwoo i-ini-" terdapat keraguan dari sang supir, teman dari jungwoo itu, kali ini dirinya merasa was was dan merasa  di pantau, teringat siapa yang kali ini ia bawa.

"Jalanlah!" ujar jungwoo setelah menganguk di ikuti dengan mark yang samanya menganguk.

"Huh! Baiklah"

Dan mobil itu pun perlahan mulai berjalan meningalkan pekarang rumah tua tersebut, berjalan keluar dari area pingir hutan ini.

.
.

"Apa kau baik-baik saja?" jungwoo bertanya pelan di keadaan yang hening ini, ia melihat wajah pucat mark yang dalam kekhawatiran hanya saja jungwoo takut jika terjadi sesuatu oleh mark.

"A-Aku baik-baik saja" ujar mark membalas jungwoo, ia ternyum fan setelah itu kembali menatap jalan yang masih di penuhi oleh rimbunan pohon besar itu.

"T-tapi jungwoo.. apa-"

"Hm? Ada apa luke?" jungwoo menatap heran kepada lelaki bernama luke atau lucas itu, terdapat keraguan dari wajah itu yang tengah focus menyetir.

"Ah sudahlah" lucas menghelan nafas pasrah dirinya tak tau harus apa, yang ia tau ia hanya harus cepat pergi membawa mark dan temannya itu dari hutan ini. Secepatnya!

Kringg'

Tiba-tiba saja benada pipih yang berada pada pangkuan lucas itu berdering nyaring, membuat vocusnya pun kini terbagi dua.

Jungwoo serta mark menatap lucas bersama.

Lucas mulai meraih benda yang terus berdering itu lalu ia tekan ke mode speker.

"Hal-" belum sempat lucas menyapa, tetapi sudah terdengar teriakan dari sebrang sana yang mana membuat lucas meringis pelan mendengarnya, tetapi dalam secara bersamaan terlihat seekor rusa yang menyebrang memebuat lucas mulai ke hilangan kendali dan..

Shttt!

Ban mobil itu pun berdecit saat rem tiba-tiba di injak, jungwoo lucas serta mark menghelan nafas lega melihatnya, begitu juga rusa tadi yang beruntung nya tidak tertabrak.

"Huh! Syukur la- LUCAS!"

BRAK!

.
.

"Mark!"

Derap langkah kaki yang terkesan terburu buru itu mulai masuk secara paksa kedalam rumah itu.

Langkahnya mulai berjalan menelusuri setiap ruang.

"Mark!" Teriakan nya pun bergema ke setiap rumah, dirinya merasa panik saat tak melihatnya sosok kecil itu di dalam rumah ini.

"Mark!" teriaknya sekali lagi, tetapi tak ada respon juga yang ia dapatkan membuat dirinya pun semakin di landa rasa panik, tak sampai situ saja dirinya pun mulai memberanikan diri menuju ruang bawah yang ia sempat tau.

Gelap, satu kata yang dapat di gambarkan dari ruang ini, dan begitu berdebu terlihat secara samar samar jika banyak nya buku buku tua.

"M-Mark apa kau disini?" ujar nya sembari melihat sekelilingnya yang kini sangat sunyi.

Matanya kerap mencari sosok mark di dalam ruang ini, tetapi tak lama pun ia mulai memuruskan untuk kembali keluar sebab suasananya yang semakin membuat sesak oleh debu.

Dengan perlahan tanganya pun mulai menutup pintu yang terlekat sama rata dengan lantai kayu itu.

Dirinya sejenak menghelan nafas sembari menatap sekelilingnya yang bahkan tampak sangat sepi, tak ada seorang pun saat ini.

Bruk'

Sebuah suara barang yang jatuh membuat dirinya pun menoleh melihat ke arah sumber suara, dan tak lama mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekat membuat dirinya pun panik.

Ia mulai mencari tempat untuk bersembunyi, tetapi tak ada satu pun yang memungkin kan nya dapat tersembunyikan membuatnya pun terpaksa mau tak mau memasuki ruang bawah tanah itu.

Tap'

Tepat pada waktunya saat dirinya mulai bersembunyi, tepat sekali di atas pintu ini sosok itu berdiri.

Dirinya mulai menghelan nafas lega dari celah celah kecil itu ia dapat melihatnya jika sosok itu tengah terdiam menatap sekitarnya.

"hufh! Untung saja!" ujarnya dengan penuh rasa panik, tetapi tak sampai situ saja saat ini dirinya kembali panik  setalah tau jika ia berada di ruang yang sesak ini dan cahanya pun hanya ala kadarnya saja.

Ia mulai berindik ngeri tak lama bau anyir darah pun mulai tecium olehnya.

"Bau apa ini?" ujar bertanya seraya menatap sekelilingnya dengan seksama, tak ada apapun sampai pada di mana ia dapat melihat satu pintu lagi di ujung sana.

Sebuah pintu tua berwarna hitam kelam dengan pahatan bintang yang menghiasinya, itu terlihat jelas sebab bercat merah bak darah.

"Apa itu?" dirinya mulai merasa penasaran seiringnya bau darah ini yang semakin tercium jelas, dan tanpa rasa takut dirinya pun mulai berjalan mendekat seakan mengabaikan yang lainya, bahkan dirinya lupa pada tujuan awalnya saat ini, yang terpentingkan saat ini adalah pintu tersebut.

Apa yang ada di dalamnya' Itulah yang kini ada dalam otaknya.

Krekk..

Perlahan pintu pun mulai ia buka, tak di kunci maupun gembok membuatnya lebih mudah untuk membukanya.

Dan saat pintu itu terbuka bau anyir dari darah pun semakin kuat tercium oleh nya.

Dirinya tetap memaksakan untuk masuk walau pun tak tahan akan bau ini.

"..." Dirinya hanya terdiam dengan tubuh yang kaku serta raut wajah yang tak dapat di jelaskan dengan apa yang ia lihat saat ini.

"t-tolong-" suara lirih itu mulai terdengar yang mana di ikuti dengan suara rintihan rintihan kecil yang membuat yang semakin terdiam kaku.

Dan apa saat itulah apa yang ia dengar memanglah benar adanya.






Hallo semuanya!!
Aku balik lagi, semoga gak bosen yaa..

Btw mencium bau" ingin tamat nih:)

VERY STRANGE PREGNANCY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang