chapter 9

3.9K 270 1
                                    


Tiba - tiba pandanganku buram dan semuanya menjadi gelap, aku pun sayup - sayup mendengar farel memanggil namaku.

-----

Mataku mulai terbuka perlahan, kepalaku masih berat dan pandanganku masih berkunang - kunang.

"vio, kamu udah sadar?" tanya adrian yang samar - samar kudengar, "hmm ini dimana?" tanyaku lalu berusaha bangun dari kasur, "eh kata bu nida jangan bangun dulu" cegah adrian lalu menarikku duduk kembali, aku pun duduk dikasur sambil memijit keningku, "pusing?" tanya adrian lalu membantu memijit keningku, "iya" ucapku lalu membiarkan adrian memijit keningku.

"selamat siang adrian, viola" sapa bu nida perawat yang berjaga di uks, "selamat siang bu" sapa adrian dan aku bersamaan, "kamu minum obatnya dulu la, tapi sebelumnya makan dulu ya" ucap bu nida lalu memberiku obat, air putih, dan roti. "makasih bu" ucapku sambil tersenyum, "sama - sama, ibu tinggal dulu ya" ucap bu nida lalu pergi.

Adrian pun membuka bungkus roti, tapi matanya terlihat berkerut, "kenapa ian?" tanyaku, "eh, ini kok rasanya nanas sih? Yaudah, aku beli roti dulu ya" ucap adrian lalu menaruh roti nanas di meja, "gak usah ian, nanti jadi ngerepotin kamu lagi" ucapku dengan raut tidak enak, "jangan ngomong gitu vi, masa aku harus biarin kamu makan yang buat kamu alergi sih.. Yaudah aku pergi dulu ya" ucap adrian lalu mengelus kepalaku dan pergi, aku hanya melihat punggung adrian sampai menghilang dibalik pintu ruang uks.

Aku pun berbaring di kasur,

"tapi.. Tapi kenapa? Kenapa kamu pura - pura gak kenal aku?"

"agar kamu sadar"

"gw sebenarnya.."

"gw sebenarnya suka sama lu vio"

Benarkah itu farel?

Benarkah tadi itu nyata?

Aku pun memegang dadaku dan tanganku merasakan detak jantungku yang sudah berdetak sangat cepat.

Benarkah ini yang namanya jatuh cinta?

-----

Farel pov

Gw pun duduk di atap sambil menatap langit yang sudah membiru indah.

Entah mengapa pikiran gw tercenung memikirkan kejadian tadi.

"viola! Viola!" panggil gw sambil mengguncang - guncangkan tubuh viola, terlihat darah segar yang keluar dari hidungnya yang membuat gw semakin panik, gw pun mengangkat viola dan buru - buru membawanya ke uks, untunglah saat itu koridor terlihat kosong karna masih jam belajar.

"untung kamu buru - buru membawanya ke uks, jadi penyakitnya yang kambuh bisa ditangani" ucap bu nida terlihat lega, "penyakit? Penyakit apa bu?" tanya gw heran, "sebenarnya ini privasi yang hanya diketahui ibu, adrian saja disekolah ini.. tapi karna kamu sepertinya dekat dengannya, jadi ibu akan memberitahunya"

"hoi! Ngelamunin apa lu?!" teriak refal sambil menepuk keras punggung gw, "uanjir lu fal! Gw pikir apaan" ucap gw kaget sedangkan refal tertawa tanpa dosa lalu segera duduk disamping gw.

"maaf" ucap refal, "buat?" tanya gw, "buat jadi lu yang dinginnya minta ampun" ucap refal agak menyesal, "yaelah, gw kira apaan? Selow aja fal" ucap gw sambil tertawa, "tapi.." "thanks, berkat bantuan lu.. Gw bisa nyatain perasaan gw ke viola" potong gw sambil tersenyum kecut, "really?!! Terus dia jawab apa??!!" tanya refal histeris sambil memukul bahu gw, "sakit dasar pea!! Kalo lu masih mukul, ntar gw gak ceritain nih" ancam gw, lalu refal menurut dan diam sambil melihat gw dengan serius, gw pun menceritakan kejadian sebelumnya dan refal hanya manggut - manggut saat mendengarkan cerita gw.

"so, itu viola lu tinggalin gitu aja gitu?" tanya refal sarkas saat selesai mendengar cerita gw, "ya enggaklah, pas di uks gw telponin adrian biar dia yang nemenin viola" ucap gw lirih, "hati lu apa gak sakit rel?" tanya refal hati - hati, gw pun mengepalkan tangan gw kuat - kuat.

"GW SAKIT!! SAKIT BANGET FAL!!" teriak gw yang sontak membuat refal gelagepan karna tingkah gw, "sabar mas broh! Sabar" ucap refal dengan muka kocaknya sambil mengelus punggung gw, gw pun tertawa melihatnya.

"thanks, walaupun lu rada - rada.. Setidaknya lu selalu ngebuat gw nyaman" ucap gw sambil tersenyum, refal pun tersenyum tapi senyumannya berubah menjadi senyuman jahil, "iya dong say.. Kan akyu cintah kamyuh celaluh" ucap refal alay sambil bersikap kayak tante girang, gw pun sontak berlari menjauhinya. "najis lu!! Gw tarik kata - kata gw tadi!!" teriak gw sambil pergi menjauh dari refal.

-----

Saat gw berjalan di koridor, banyak cewek yang menyapa gw, tapi gwnya sih diem aja, soalnya MALES.

"rel, bisa minta nomernya?" tanya cewek yang tiba - tiba udah nongol di depan gw, "maaf, siapa anda?" tanya gw formal sambil menatap heran cewek itu, "aku cynthia, anak kelas 12" ucap cewek itu dengan suara diimut - imutkan.

Hadeh.. Dari sekian banyak cewek, tapi kenapa sih harus kakak kelas?

Ganjen lagi.. -___-"

"maaf, itu privasi gw.. Jadi gw gak bisa ngasih tau" ucap gw yang beralih panggilan gw elo lalu pergi tapi di cegah oleh cyinthia, "pliss.. Aku butuh nomer kamu" ucapnya dengan wajah memelas, "maaf, tapi bisa gak lu minggir" ucap gw dingin, "enggak sebelum lu kasih tau" ucap cewek itu kembali ke suara aslinya dengan bahasa gw elu.

gw pun berbalik arah dan pergi, tapi tiba - tiba cewek itu menarik tangan gw dari belakang lalu mencium pipi gw.

Semua cewek yang ada di dalam koridor pun menjerit, gw pun segera melotot saat mata gw bertemu dengan  sepasang mata yang menatap gw dengan tatapan sedih dan kecewanya.
Viola!

Mati gw!

Hei readers!!

Sorry lama update karna author abis berjuang ngelawan UN

Please give me your comment and vote, bye! ^^

Because of youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang