Happy Reading, Cintaku.
★★ Perasaan Tenggara
Shabira berjalan lesu keluar rumah setelah Tiffany memberitahu bahwa Tenggara sudah menunggu di depan rumah. Tadinya ia akan berangkat diam-diam, berpikir bahwa Tenggara adalah murid yang suka kesiangan, tapi ternyata laki-laki itu berangkat lebih pagi.
"Telat 2 menit," ucap Tenggara seraya menatap jam tangan hitam di tangannya.
"Gila lo, 2 menit doang," ketus Shabira.
"3 menit," ucapnya lagi.
Shabira dengan dongkol memakai helmnya, lalu naik ke atas motor Tenggara dengan tidak rela. Ia menatap motor di halaman rumahnya dengan sedih.
"Pegangan!" titah Tenggara.
"Males," jawab Shabira seraya melipat tangannya di dada.
Tenggara tersenyum miring, dengan sengaja ia menarik gasnya dengan tiba-tiba, membuat Shabira hampir terjungkal ke belakang dan repleks memeluk laki-laki itu.
"Dibilangin ga usah ngeyel makanya," gumam Tenggara yang terdengar samar-samar oleh Shabira, lalu menjalankan motornya menembus jalanan kota yang masih cukup lenggang.
Shabira lebih memilih menikmati suasana pagi dengan tangan yang melingkar di perut Tenggara, karena laki-laki itu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Jika saja bukan menyangkut keselamatan pribadi, ia sangat enggan.
Wanita itu masih berfikir dan ingin mencari tahu siapa 2 orang gadis yang membawanya ke kamar villa, dan menjebaknya dengan memberi alkohol pada minuman yang ia minum.
Ia tidak bisa menebaknya, karena semua orang tidak suka kepadanya. cewek tempramental, itulah sebutan untuk dirinya di sekolah lama. Tidak ada yang mendekatinya, Namun mereka dengan terang-terangan selalu mengolok-oloknya.
Ia ingin mengeluh tapi entah kepada siapa ia bercerita, ia terlalu tertutup dan tak bisa mengekspresikan kesedihannya.
"Lo mau peluk gua sampe kapan?" tanya Tenggara yang membuat Shabira melepaskan tangannya segera, ia bahkan tak sadar jika mereka kini tengah menjadi sorotan anak-anak SMANES.
SMANES adalah SMA favorite yang ada di kota tersebut, dan sekolah swasta itu milik keluarga Pandegas, yaitu keluarga Tenggara sendiri. Tidak heran jika semua siswi-siswi mengidolakan laki-laki itu.
"Sampe gua dibully sama fans-fans lo yang matanya hampir pada keluar itu, gua ilangin kepala lo! paham?" ancam Shabira dan berniat berlalu dari hadapan laki-laki dengan ekspresi datarnya itu, tapi Tenggara dengan cepat mencekal lengan Shabira dan membuat langkah wanita itu terhenti.
Shabira bertanya lewat tatap, dan Tenggara malah sibuk mencari sesuatu dari dalam sakunya.
Semua siswi SMANES menjerit tertahan ketika menyaksikan Tenggara si cowok triplek menempelkan hansaplast pada bibir Shabira yang lukanya belum sembuh itu.
"Takut dikira gua yang tonjok," ucap Tenggara seraya meninggalkan Shabira di parkiran dengan pikiran yang kacau.
"Cowok gila," desis Shabira seraya menatap siswi-siswi yang menatapnya dengan berbagai ekspresi dari lantai dua.
***
Shabira selalu memasang telinga ketika teman sebangkunya bercerita tentang hal random, dari mulai membicarakan kenapa harus ada pelajaran matematika, kenapa kumis Pak Syarif baplang, dan kenapa sapi kakinya harus empat.
Shabira memang mendapat teman yang sangat bertolak belakang dengan sifat dirinya yang pendiam dan tempramental itu, berbanding terbalik dengan Sapina Naavaila Skayana, gadis mungil itu sangat banyak berbicara bahkan untuk hal yang sangat tidak penting sekalipun.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Caffein
Teen Fiction"B-biya udah rusak, Ma." Ketika gadis dengan trauma mental dipertemukan dengan laki-laki yang tak di kenalnya di sebuah kamar villa dengan keadaan tak sadar karena pengaruh obat dan alkohol. Laki-laki dingin, pelit ekspresi yang menyimpan sejuta luk...
