Paginya kita kedebukan karna bangun telat gara-gara semalem kita maraton series di Netflix.
"Shit! Shit! Shit!" Umpat gue waktu gak sengaja nyenggol kopi sampe numpahin sepatu dan name tag gue.
"Yaaah Liora name tag gue." Rengek gue ke Liora yang baru turun dari lantai atas.
"Astaga, udah beli kartonnya di kampus aja." Kata Liora sambil bantuin gue berdiri.
"Guys, liat handphone gue gak?!" Teriak Elza heboh.
"Aduh dimana anjir handphone gue, tolong telponin dong."
"Ah ribet lu Elz." Liora dengan kerempongannya langsung nelpon nomor Elza.
"Ah bangke diatas!" Teriak Elza naik lagi.
Pagi ini bener-bener repot banget anjir, inilah kalo anak-anak manja tiba-tiba hidup sendiri, gue akuin serepot itu. Biasanya bang Liam atau bang Zayn selalu patroli bangunin gue dan yang lain.
"Aaaaa baju gue kena selai!" Teriak Liora.
Gue nepok jidat gue, rasanya mau ikutan teriak sama semua yang terjadi di rumah ini.
"Bangsat! Grup udah berisik banget!" Teriak Elza yang lari turun tangga itu.
Kita semua cabut dari rumah ini dengan penuh kerempongan.
***
"Udah gapapa lu masuk duluan, gue nyari karton dulu ke fotocopy disana." Oceh gue dorong Elza dan Liora masuk area kampus.
Gue lari ke arah parkiran dan handphone gue terus bunyi, telpon masuk dari Budi. Maaf Bud, lagi repot.
"Bang karton warna biru gak ada bang?" Tanya gue buru-buru.
"Tinggal yang disitu."
Yaelah.
Daripada gak ada mending gue ambil warna hijau, gue pinjem gunting ke abang-abangnya dan masang asal ke kerdus gue, yang penting ketutup.
"Bang pinjem spidol." Gue ambil spidol dan mulai nulis nama gue.
Hembusin nafas gue karna akhirnya jadi, walaupun gak serapih kaya sebelumnya, setelah gue bayar gue langsung lari ke kampus lagi.
Mata gue mendelik waktu ngeliat cowok yang kemaren gue temuin jalan dipinggir maba-maba yang lagi baris. Anjir? Dia mahasiswa disini? Maba kah? Tapi mukanya cocok jadi rektor.
"Ra!" Teriak Budi yang udah di barisan sana. Gue ngerjap beberapa kali dan sadar seharusnya gue langsung baris.
Gue ngasih nunduk ke kating maybe? Soalnya dia pake almamater kampus ini.
"Darimana aja kamu?!"
Lagi-lagi gue mendelik dibentak kaya tadi. Ini udah mulai nih gue ditatarnya?
"Maaf ka tadi-"
"Langsung duduk." Kata kating cowok yang bawa speaker.
"Terima kasih kak."
Budi ngelambaiin tangan ke arah gue, gue langsung inisiatif lari ke arah dia dan baris disampingnya.
"Huft."
Sepengertian itu sama gue, Budi langsung bukain botol minumnya dan ngasih gue.
"Makasih."
"Sama-sama." Bales Budi sambil ngusap rambut gue.
Setelah disuruh baris dan ngelakuin pembukaan ospek yang nantinya bakal dilakuin 3 hari kita semua disuruh duduk perkelompok sesuai yang dibacain, kebetulan kita dapet kelompok yang jaraknya gak begitu jauh. Gue kelompok 13, Budi 16, Elza 17, dan Liora 18.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aurora // Lanjutan Abang-Abang.
Teen FictionIni lanjutan cerita dari abang-abang cuma lebih condong ke lanjutan aurora setelah lulus SMA, juga kelanjutan hubungan aurora sama budi or maybe aurora sama yang lain? Wkwk *** notes ; - Bahasa sehari-hari ...
