Sakit

252 40 23
                                        

"Bakso udah dateng." Kata Budi sambil naro mangkok di meja kita.

"Yeay."

Budi ketawa pelan dan mulai duduk. Kita mulai makan sambil banyak cerita, dia cerita tentang kesibukan dia akhir-akhir ini dan juga gosipin dosen-dosen killer yang kita berdua relate sama hal itu.

"Tugas pak Helmi bener-bener bikin pusing."

"Nanti kita kerjain bareng." Kata Budi bikim gue melting.

"Walaupun gue juga gak ngerti." Lanjut dia lagi.

Hahaha.

"Ra."

"Hmm?"

"Kayanya kita nanti nangis bareng kalo anak kita nanya PR ke kita."

Blushh.

Anak kita?

BUSET BUD!

STOP!

Budi fokus ke makanannya sambil senyum-senyum gak jelas.

"Dasar gila." Gue dorong pundak dia dan tiba-tiba dia meluk gue singkat.

"Gue salting Ra." Kata dia sambil ketawa pelan.

LAH GEMES BGTTT.

"Nanti jadikan nganterin gue ke toko buku, mau nyari buku matkul pak Joko?" Tanya gue excited.

Budi ngangguk sambil senyum.

"Nanti sekalian jajan di taman kota kali ya Bud, trowback ke masa-masa kita baru pacaran." oceh gue kaya orang stress.

"Iya kangen mancing ikan-ikanan juga." ledek Budi sambil nyenggol-nyenggol lengan gue.

Kita nikmatin makan bakso sambil lanjut ngerumpi lagi.

Setelah makan kita berdua jalan-jalan keliling kampus sambil jualan tisu, bercanda.

Sepanjang jalan tangan Budi sama sekali gak lepas genggam tangan gue. Beberapa orang nyapa Budi, yaa sefamous itu karna dia join teater apalagi poster-poster coming soon teater yang bakal ditampilin di dipajang di beberapa tempat, mana mukanya Budi ganteng banget.

"Sekarang cewek-cewek pada suka sama lu Bud

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sekarang cewek-cewek pada suka sama lu Bud." kata gue rada bt, ya liat aja yang negor kebanyakan cewek-cewek.

Mereka gak tau ya kalo gue pacarnya?

"Tetep lu Ra pacar gue."

Agak salting dikit.

Tiba-tiba Budi gerusukan sambil ngeraba-raba kantong hoodienya. Oh hp nya bunyi. Gue ngintip sedikit ternyata Elza yang nelpon.

"Kenapa Elz?"

"Lu dimana sekarang?" Nada omongan Budi berubah jadi keliatan beda, panik?

Iyaa panik banget.

"Oke gue anter pulang."

Budi naro hp nya di kantong dia lagi.

"Ra--"

"Elza?" Langsung aja gue potong omongan Budi.

"Besok aja ya nyari bukunya."

"Elza minta anterin pulang ke rumahnya." lanjut Budi.

Sakit, sakit bangetttttttt dengernya.

"Atau abis gue nganterin dia kita--"

"Gak usah Bud, gue bisa sendiri. Lagian Elza gak bisa pulang sendiri kan? Dia juga lebih penting?" kata gue sedikit marah.

"Ra, sekarang bukan waktunya buat cemburu."

Gue nelen ludah gue susah payah sehabis denger omongan tadi.

Kek? Anjirlah!

"Terus kapan Bud? Kapan gue boleh cemburu?"

"Ra, C'mon." Budi berusaha ngeraih tangan gue.

"Udahlah Bud, Elza yang lebih butuh lu, gue bisa sendiri." omel gue.

Mata Budi jadi berkaca-kaca, dia ngangguk sambil ngelepas tangan gue yang berhasil digapai tadi.

"Bener, Elza butuh gue." kata Budi sambil balik badan dan lari ninggalin gue.

Jantung gue kaya berenti saat itu juga, nafas gue jadi sesek parah.

BUDI SIALAN!!

"ARGGHHHHH!"

CEKEK AJA GUE SEKALIAN. HUAAAAA.

Sekuat tenaga gue nahan nangis tapi tetep aja air mata gue lolos terus, sakit banget anjing.

***

          Mungkin ada satu jam gue duduk di taman belakang kampus yang sepi ini sambil nangis, gue gak peduli orang ngiranya gue setan atau apapun itu. Persetan sama orang-orang termasuk Budi.

Anjing

Monyet

Babi

"Belom selesai juga nangisnya?"

Kepala gue langsung nengok ke sumber suara. Calvez, berdiri pake jaket andalannya.

"Gue lagi gak mau berantem, mending lu pergi dari sini."

"Ini tempat umum kan? Bebas."

Dia malah jalan ke arah gue dan duduk di sebelah gue.

Gue lagi gak mau berantem, karna energi gue udah bener-bener habis gara-gara nangisin Budi.

Brengsek!

"Nangisin orang itu gak penting."

"Apalagi modelannya kaya cowok lu." kata dia enteng sambil ketawa renyah.

Gue usap air mata gue kasar dan noleh ke arah dia.

"Mending lu pergi sebelum gue dorong lu danau!"

Muka Calvez tiba-tiba maju, gerakannya ngebuat gue langsung mundurin badan gue.

"Atau lu yang gue dorong?" kata dia sambil senyum kecil.

Gue nelen ludah gue susah payah dan natap mata dia. Kita terus beradu tatap sampe dia majuin mukanya lebih deket dan ngelirik ke arah bibir gue, saat itu juga gue langsung dorong dia.

Gue berdiri dan dia malah ketawa, bener-bener gila.

"Daripada nangis sampe muka lu jadi semakin jelek mending lu nyebur aja ke danau." kata dia.

"Bener juga kata lu."

Byurr!!

"AURORA!!!!"

-tbc-

Yak bagus nyebur aja ra


Aurora // Lanjutan Abang-Abang.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang