Salah lagi

261 39 18
                                        

3 hari setelah gue pulang dari rumah, setelah gue nyusun puzzle menyakitkan itu.

Gue sama Budi pun bersikap biasa aja, ralat Budi yang sama sekali gak bilang apapun ke gue, dia mikirnya gue gak tau aja gitu.

Selama 3 hari ini pun gue ketemu sama Budi cuma sekedar dia jemput gue kalo kita ada kelas sama dan pulang nganterin gue, dia sibuk sama UKM nya dan udah pasti sama Elza.

Ketakutan gue selalu ada setiap mereka terus-terusan berdua, apapun alasannya gue tetep takut.

"Ra, gue ada kumpul." kata Liora pelan setelah naro hpnya diatas meja.

"Iya gapapa Ra." jawab gue.

"Seriusan? atau gue tunggu Budi aja?"

"Engga usah, Budi sampe malem katanya."

Liora ngehembusin nafasnya.

"Ra, gapapa itu kan kegiatan lu. Gue gak nuntut juga lu harus nemenin pengangguran kaya gue." kata gue sambil ketawa sok asik.

"Yaudah, kabarin yaa nanti." kata Liora.

Gue cuma ngacungin jempol doang sambil ngeliatin Liora yang keluar dari food court. Keknya nih tempat bakal jadi tempat favorite gue sendirian.

Nasib, nasib.

Gue mutusin buat mesen minuman lagi daripada gue diusir beli dikit nongkrong lama, ya abisan gue capek harus pulang ke kosan sedangkan nanti sore ada matkul lagi.

"Ice Greentea nya satu ya." kata gue sambil ngerogoh kantong belakang buat nyari dompet mini unyil gue.

Loh mana? kok ga ada.

"Nyari ini?" kata orang di belakang gue sambil ngacungin dompet gue di udara. Calvez.

"Balikin, gue mau bayar." kata gue setenang mungkin, aarrghh padahal gue mau marah-marah sekarang.

Dia cuma gelengin kepala sambil senyum.

"Balikin, Calvez." peduli setan gue harus nyebut dia senior gue.

"Cal." lirih gue lagi.

Dia malah jalan ke stand minuman dan ngambil minuman gue,terus dia bawa ke kursi yang gue dudukin tadi.

"Kak, nanti ya saya bayar." kata gue rada gak enak ke penjualnnya.

"Iya kak gapapa."

Gue samperin Calvez buat ambil dompet plus tas gue yang ada di atas meja sana, sekalian gue mau cabut dari sini.

"Eitss."

Si anjir malah numpu tanganya di atas tangan gue.

"Mau kemana buru-buru amat." ledek dia.

"Bukan urusan lu."

Gue langsung tarik tangan gue dari bawah tangannya dan cabut.

"Just for information, pacar lu lagi berduaan di deket danau. Ya siapa tau lu mau jadi orang ketiga disana!!" teriak dia.

Sialan, anjing, bangsat! Semua kata itu pantes buat setan macem Calvez itu.

"Mending disini aja, siapa tau ada yang mau angkut lu jadi sugar baby!"

Calvez, kesabaran gue bener-bener udah abis.

Kaki gue yang niatnya mau keluar malah muter balik nyamperin dia.

"Bisa gak sih lu gak usah ngerendahin cewek terus." kata gue nunjuk mukanya.

Dia malah senyum sambil nepis tangan gue.

"Pantes lu tega bunuh mantan lu sendiri." lirih gue.

Matanya langsung gelap dan gue bisa ngerasain aura kemarahannya.

Tangannya langsung narik kerah kemeja gue kuat sampe tenggorokan gue terasa sakit bukan main.

"Watch your mouth, gue bisa ngerobek mulut lu sekarang juga."

"Do it." kata gue sedikit geter.

Cengkraman tangannya semakin kuat ngebuat gue susah buat nafas. Gue nutup mata gue, memori gue muter kilas balik waktu gue lari dari sekolah dan berujung ketabrak mobil.

"Calvez!"

Gue buka mata gue dan dia senyum setelah ada yang manggil namanya. Dia dorong gue gitu aja sampe gue kepental nabrak tembok yang jauh dari posisi awal.

Bugh!

Anj badan gue rasanya rontok abis kepentok tembok.

Mereka ribut, maksudnya Budi sama Calvez.

"Bajingan!" teriak Budi. Anehnya gak ada satupun orang yang mau misahin mereka.

"Bud." lirih gue, mustahil buat bangun karna rasanya badan gue mau rontok semua.

Budi jatoh ngebuat emosi gue makin jadi, kayanya itu jadi kekuatan gue buat bangun dan nyamperin Calvez. Sekuat tenaga gue tonjok dagunya ke atas, yaaa I always do that dan selalu menang.

Gue nyamperin Budi dan bawa Budi keluar dari food court.

***

"Ra, gue gak mau lu nongkrong sendirian di food court."

"Makanya temenin." oceh gue sambil bersihin lebam biru di pipinya Budi.

"Ra, gue kan lagi ngumpul UKM bukannya gak mau nemenin lu. Lagian kenapa lu gak pulang?" tanya Budi.

"Bud, gue ada kelas sore ini. Males banget kalo harus pulang dulu." sentak gue.

"Kenapa jadi marah-marah sih?" kata Budi sedikit menyentak.

Mata gue mendelik, karna ini pertama kalinya Budi ngomong sama gue pake nada sedikit tinggi dan tatapan marahnya.

"Besok kalo gue gak ada, gak usah di area kampus sendirian." kata Budi penuh penekanan.

"Jadi lu ngurung gue? Gue bisa jaga diri gue sendiri."

"Oh okay, take care of yourself." kata Budi sambil nepuk pundak gue.

WHAT?!!!

"Budi!"

Budi gak jawab dia berdiri dari posisinya dan pergi ninggalin gue.

Kali ini bener-bener gue gak bisa nahan air mata gue.

Sambil gemeter gue ambil handphone dan nelpon bang Liam.

"Bang, badan Aurora sakit."

"Ra? Apanya yang sakit?! Dimana sekarang?!"

Air mata gue semakin balapan keluar.

"Bagian belakang Aurora sakit, jemput sekarang hiks.."

"Dimana Ra sekarang?!"

"Kam--kampus."

"Oke, gue kesana sekarang. Tunggu di tempat yang nyaman, atau gak di unit kesehatan kampus. Denger Ra?"

"Iy-yaaa."

-tbc-

satu lagi nanti gue up malem, thank you so muchhh udah mau baca sampe sini hehe😚💕💕💕

Aurora // Lanjutan Abang-Abang.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang