Chapter 9

5.4K 199 0
                                    

Ayna POV

Aku mematut diriku di cermin untuk melihat penampilan ku saat ini. Malam ini, aku akan datang ke restoran tempatku dinner dengan Kevin. Tapi aku kesana bukan untuk makan malam dengan Kevin, melainkan hanya untuk mengawasi Brenda yang menggantikan ku sekaligus untuk menipu mama yang daritadi terus mendesak supaya aku cepat-cepat berangkat.

Lo udah siap? Gue mau otw nih

Kali ini aku hanya berkirim pesan dengan Brenda karena tak ingin lagi percakapan ku di dengar oleh mama, sehingga rencana yang telah aku susun akan langsung berantakan, jika mama mendengarnya.

I'm almost done. Ntar BBM aja kalau udah sampe rumah gue

Oke

Aku segera menyambar kunci mobil ku dan turun ke bawah untuk berpamitan.

"Ma, Pa, Ayna berangkat dulu ya" aku berpamitan sembari mengecup pipi kedua orangtua ku.

"Iya, hati-hati di jalan" pesan papa padaku.

"Iya, Pa"

"Ingat, jaga sikap kamu ke Kevin! Jangan coba-coba buat ngerusak acara perkenalan ini! Malah kalau bisa, kamu harus narik perhatiannya Kevin supaya mau menjalani hubungan sama kamu" mama lagi-lagi memberiku wejangan yang mengancam.

"Iya, mama" aku menjawab dengan nada semangat.

Sangat semangat, karena aku sudah punya rencana untuk menarik perhatian Kevin. Tapi bukan padaku, melainkan membuat Kevin tertarik dengan Brenda hihi

Aku mengemudikan mobil jazz biru metalik ku dengan santai. Bernyanyi-nyanyi mengikuti lagu yang ada di radio. Aku bahagia karena tak harus bertemu dengan Kevin untuk membatalkan acara perkenalan ini.

Aku menghentikan mobilku di depan pintu lobby apartemen Brenda. Apartemen Brenda berada di kawasan elite Kalibata City. Kedua orangtua Brenda sudah bercerai. Papanya tinggal di Kanada, negara asalnya. Sedangkan mamanya tinggal di Malaysia dengan suami barunya. Brenda adalah anak tunggal, jadi dia hanya tinggal sendiri tanpa saudara.

Gue udah ada di depan apartemen lo. Cepet turun!

Tak lama Brenda pun turun dan segera masuk ke dalam mobil ku.

Aku melihat dandanan Brenda dengan takjub. Rambut pirang milik Brenda di biarkan tergerai dan dibuat kriting pada ujungnya. Ia memakai dress simple berwarna merah dan sebuah flat shoes berwarna senada. Membuat Brenda terlihat sederhana tetapi anggun.

"Let's go the party, sista" Brenda berseru senang saat mobil ku mulai melaju di jalanan.

*****

Aku duduk sendirian di sebuah meja yang terletak di sudut restoran tempat kami -aku dan Brenda- janjian dengan Kevin. Aku sengaja mengamati mereka diam-diam dari sudut ini. Awalnya Kevin terlihat bingung saat Brenda memperkenalkan dirinya, tapi lama-kelamaan mereka terlihat semakin akrab dan nyaman satu sama lain. Ku rasa Brenda sangat tertarik pada sosok Kevin, begitu pun Kevin yang sepertinya juga tertarik dengan pesona Brenda.

Aku mendesah lega melihat keakrab-an mereka. Sepertinya rencana ku akan berhasil. Dengan begini, berarti untuk sementara waktu aku tidak perlu pusing dengan perjodohan ini.

When we were on Honeymoon Avenue
Honeymoon Avenue
Baby, Coasting like crazy
Can we get back to the way it was

Tiba-tiba nada dering handphone ku berdering menandakan sebuah panggilan masuk.

Brian's calling

"Hallo, Brian" aku menyapa Brian dengan nada santai.

"Hallo Ayna" Brian membalas sapaan ku dengan suara serak. Membuat ku seketika menjadi khawatir hanya karena nada suaranya.

Disaster WeddingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang