FLAWSOME 8

2K 459 90
                                        

Sudah menunggu? Jangan lupa vote sama komennya

****

Berlian akhirnya bisa bernapas lega saat Januar Hadinata meminta Beni untuk ikut menghadiri sebuah pertemuan yang dihadiri oleh para relasi bisnis. Beni sengaja diminta ikut agar lelaki itu bisa dengan cepat beradaptasi dengan dunia bisnis yang lebih besar. Hanya Zeki yang diminta mendampinginya, sementara Berlian dan Silvi masih tetap di kantor.

Ruangan itu tanpa Beni layaknya taman bunga untuk Berlian. Sumpah demi apa pun, pekerjaan barunya ini nyaris membuat Berlian kehilangan napas. Bayangkan saja, orang yang lima tahun ini coba ia hindari ternyata adalah bos barunya. Ia masih tidak bisa berpikir dengan baik. Apalagi, dengan satu fakta kalau ada sesuatu di antara mereka yang tidak bisa dihilangkan.

"Li ...." pintu terbuka, menampilkan Silvi yang melangkah masuk ke dalam. "Ini jadwal Bapak buat besok."

Wanita itu memberikan selembar kertas yang berisi jadwal kegiatan bos mereka besok selama satu hari full pada Berlian. Wanita itu menerimanya setelah beranjak dari kursi dan berdiri.

"Nanti kamu salin di notepad, kamu rapihin, beri keterangan waktu yang tepat, dan untuk makan siang sama camilan Bapak besok kamu bisa tanya langsung sama orangnya."

Berlian mengangguk paham. "Iya, Mbak."

"Oh iya ...." sebelum benar-benar pergi, Silvi memberikan satu informasi lagi pada Berlian. "Tadi Mas Zeki ngabarin, katanya Bapak gak balik lagi ke kantor. Jadi nanti pas jam lima kamu bisa langsung pulang, gak usah nungguin Bapak lagi."

Mendengar kabar baik itu sontak Berlian langsung mengucap syukur dalam hati. Akhirnya ia bisa terbebas dari Beni-meski besok dan hari-hari lainnya mereka akan bertemu lagi, tapi setidaknya hari ini sudah berlalu.

"Iya, Mbak. Makasih."

"Ya udah, saya ke depan lagi ya, Li."

Berlian mengangguk sopan. Ia lantas berseru senang, buru-buru menyalin jadwal itu ke dalam ipad. Berlian tidak sabar ingin pulang dan beristirahat. Seharian ini benar-benar terasa neraka saat bersama Beni. Entah banyak hal yang coba lelaki itu lakukan padanya untuk membuat Berlian kesal, untung saja ia bisa sabar-meski akhirnya jebol juga dinding kesabarannya itu.

Tepat pukul lima sore Berlian meninggalkan ruangan itu. Ia pulang berasama Silvi, berjalan sampai ke depan gedung. Karena arah pulang mereka yang berlawanan, Berlian kembali ke rumah kontrakan seorang diri dengan angkutan umum. Sore itu perjalanan cukup macet karena bertepatan dengan jam pulang kantor.

Berlian tiba saat langit sudah mulai menggelap. Begitu ia membuka pintu, wajah sang anak yang pertama kali Berlian lihat. Entah mengapa mendadak ia mematung, lalu tak lama menghela. Bukan Berlian tidak senang mendapati wajah anaknya, tapi ... di kantor ia harus melihat wajah itu dan tiba di rumah ia juga harus melihat wajah itu.

"Hai, Bundaaaa."

Bahkan teriakannya begitu menyerupai.

"Ihh, Bunda kok seperti zombie sih, muka Bunda menyeramkan."

Lihatkan, tengilnya pun sama.

Berlian mendekati putranya itu. "Gak ada zombie secantik Bunda ya?" ujarnya membalas Bevan, lalu merendahkan tubuhnya. "Udah mandi belom? Coba sini Bunda cium, wangi gak?"

"Aku wangi dong, Bunda. Memang Bunda yang bau asyem."

Berlian yang sudah berjongkok di depan anaknya itu lantas meringis, menjawil hidung Bevan dengan gemas. "Udah pinter ngeledek ya? Diajarin siapa coba?" Mungkin lebih tepatnya bukan diajari, tapi menurun. Ck, bahkan saat di rumah saja ia masih mengingat Beni.

FLAWSOMETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang