Beberapa Minggu kemudian. Di medan pertempuran Dave sedang berhadapan satu sama lain bersama Edward, adik dari Raja Adelmo.
"Kita bertemu kembali," Kata Dave tersenyum.
Edward hanya diam menatapnya.
Di sekeliling mereka sudah banyak mayat yang tergeletak, ataupun para ksatria yang sedang bertarung. Saling membunuh satu sama lain.
Dave dengan baju zirah besinya mulai menyerang Edward secara membabi-buta. Lelaki itu menumpahkan rasa frustasinya pada Edward dengan apa yang terjadi.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa bersama Putri Lavina." Seru Edward mengejek.
Edward yang begitu kelelahan mengimbangi Dave segera jatuh kebawah ketika Dave berhasil melepaskan pedang di tangan Edward.
Edward batuk dan mengeluarkan darah di mulutnya, Edward tahu ini adalah akhir hidupnya.
Dave menatap tenang Edward dia lalu mengangkat pedangnya dengan satu kali tebasan pada kepala Edward.
Pria itu terdiam sesaat karena dia tahu Edward telah mati. Mati mengenaskan dengan tangannya sendiri.
Sekilas bayangan putri Lavina terlintas di pikiran Dave.
"Dave di belakang mu!" Zayn berteriak seru menyadarkan Dave.
Namun tusukan pedang dari belakang yang menembus perutnya membuat Dave segera terduduk dan terjatuh ke bawah.
Pangeran Alejandro menatap punggung Dave dibawah, dengan rasa bersalah. Namun disini adalah peperangan.
Eden segera menyerang pangeran Alejandro. Sedangkan Zayn dan Charles segera mengangkat tubuh Dave.
"Sadarlah Dave!"
Dave menatap awan di langit yang begitu indah. Dia lalu tersenyum kecil, "Aku akan segera dikubur di atas tanah yang basah," Ucap Dave lemah.
"Apa yang kau katakan brengsek!"
"Aku akan ditaburi bunga dan pergi dari dunia ini." Itu adalah kata yang diucapkan terakhir kali oleh Dave sebelum pria itu menutup matanya.
Charles dan Zayn mengangkat tubuh Dave yang lemah dengan perasaan sedih yang mendalam. Sahabatnya telah mati di dalam medan perang.
Lagi-lagi karena cinta.
***
Raja Adelmo telah mati di tangan Duke Naveen. Dengan itu semua, pangeran Alejandro segera menarik sisa pasukannya dan mengakui bahwa mereka telah kalah dalam perang kali ini.
Perang telah berakhir.
Kabar itu berhembus sangat kencang.
Adhisty segera mendatangi Celine untuk menyambut kedatangan mereka
"Celine ayo pergi keluar dan menunggu kedatangan mereka .. "
Adhisty terdiam ketika melihat Celine sedang duduk dengan pandangan yang begitu bingung.
Celine menatap ke sekitar dan bertanya pada Adhisty. "Kenapa kita berada di istana?"
Adhisty tidak mampu untuk berkata-kata dan membantu gadis itu berjalan ke gerbang istana pada akhirnya.
Mata Adhisty berkaca-kaca setelah melihat kedatangan Hugo paling depan, diikuti oleh pasukannya di belakang.
Mereka telah membawa kemenangan bagi kerajaan Olivia.
Namun tidak ada tawa di wajah para pasukan, untuk merayakan kemenangan ini. Pandangan Adhisty dan Celine jatuh pada satu peti mati yang tengah di gotong.
"Kakak mu telah gugur di dalam perang."
Adhisty berlari dan segera terjatuh kebawah menatap peti mati itu. Duke Naveen segera memeluk Adhisty yang tengah menangis.
Celine menatap mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan bingung Celine segera melangkah dengan pelan. Gadis itu bahkan melewati tubuh Dominic begitu saja.
Celine ikut terduduk bersama mereka. Gabriel dan Dominic menatapnya dalam diam.
Saat seorang wanita turun dari kereta kuda yang mewah, Gabriel segera menatap Adhisty dengan rasa bersalah.
Putri Lavina menatap peti mati itu dengan pilu.
Pada akhirnya putri Lavina telah sampai di kerajaan ini, tanpa kehadiran Dave. Dia datang kesini sebagai calon selir bagi Raja Gabriel.
***
Setelah pemakaman Dave selesai. Gabriel segera duduk sendiri di taman dengan pandangan begitu kosong.
Ayahnya telah meninggal, dan sekarang dia telah membawa wanita dari kerajaan lain sebagai selir.
Emosi yang tertahan di dalam dirinya membuat Gabriel merasa frustasi.
"Tidak apa-apa Gabriel. Kau telah melakukannya dengan begitu baik."
Gabriel terkejut ketika Celine datang dan mengelus rambutnya dengan begitu lembut.
"Semuanya telah terjadi. Dan aku selalu merasa bangga dengan mu sedari dulu."
Gabriel menatap Celine dengan mata merah berkaca-kaca. Dia merasakan ini tidak nyata, kapan Celine terakhir kali melihatnya dengan pandangan begitu lembut?
Keadaan ini membuat Gabriel merasa berada di dalam situasi saat mereka bersama dulu.
Celine memeluk tubuh Gabriel. Membuat pria itu seketika menangis pilu di dalam dekapannya.
Sedari dulu hanya Celine lah yang mampu menerima Gabriel dengan begitu baik. Gadis yang membuat Gabriel pertama kali merasa bahagia di dalam hidupnya.
Hanya saat bersama Celine, Gabriel merasakan kebebasan dan menjadi dirinya sendiri.
Dominic menatap mereka dari kejauhan. Dia lalu membalikkan badannya untuk pergi dari sana.
***
Celine sedang duduk di dalam ruangan kamarnya, setelah Tiffany membawanya kemari.
Celine merasa ini sangat begitu asing.
Dominic datang dan mengejutkan Celine dengan kehadirannya.
"Siapa kau .. kenapa kau berada di sini?" Celine berdiri menatap Dominic dengan begitu asing.
Dominic tidak memperdulikan itu dan langsung memeluk Celine dengan begitu erat.
Keadaan ini membuat Celine panik dan segera mengambil pisau buah yang berada di atas meja dan menusukkannya pada bahu Dominic.
Dominic terdiam ketika Celine memundurkan langkahnya dan menatap Dominic dalam.
Darah dari bahu Dominic menetes mengenai kaki Celine.
Dominic segera membuat gadis itu duduk di kursi dan membersihkan darah itu.
Celine terdiam sesaat, matanya lalu tersentak seperti mengetahui sesuatu. Dia memperhatikan wajah Dominic dan memegangnya lembut.
Dominic mengangkat wajahnya untuk menatap Celine.
Seakan tersadar Celine segera menjelajahi wajah Dominic dan memperhatikan bahu pria itu yang masih mengeluarkan darah.
"Apa yang terjadi dengan bahu mu Dominic?"
Dominic tidak menjawab dan menunduk menangis.
Perlahan-lahan ingatan Celine akan menghilang dengan sempurna lebih dari sekarang.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lady Celine
FantasyBijak dalam memilih bacaan! Celine Rosellina, di kenal sebagai anak tidak berguna dari kediaman bangsawan Naveen. Sedangkan Adhisty Camerin, anak kedua Duke Naveen yang dikagumi oleh semua penduduk kerajaan Olivia. Putri Duke yang selalu menjadi pa...
