1-Dunia Antah-berantah

393 45 7
                                        

Anak itu membalikkan badannya. Membuat Duri tersentak, kaget. Seperti baru saja ketahuan mencuri coklat dari kulkas. Dalam hal ini, Duri baru saja ketahuan mengamati seseorang. Dan itu bukan hal baik, Duri tahu dia tidak boleh melakukan itu! Tapi, mana Duri peduli soal ini, dia sudah keburu girang. Makanya dua kaki kecil itu melangkah mendekati anak tersebut. Senyumnya lebar sama seperti saat ia mendapat teman baru di sekolah. Yah, memang pada dasarnya anak seperti Duri kalau ketemu teman seumurannya pasti senang bukan main.

"Halo!"

Sapaan Duri berbalas sepi. Duri bingung, kenapa sapaannya tidak dibalas. Matanya yang memang sudah lebar jadi makin lebar. Mengerjap-ngerjap lucu. Anak itu diam saja menatapnya, bikin Duri makin kebingungan.

"Halo! Apa kau mendengarku?" Duri mengulanginya lagi. Dan kali ini mendapat respon. Meski tidak memuaskan karena hanya anggukan kecil, Duri tetap senang! Akhirnya sapanya berbalas.

"Siapa namamu?"

Duri lanjut memberi pertanyaan. Sama seperti yang diajarkan guru di sekolah saat ingin berkenalan dengan seseorang. Duri masih mengingat dengan baik setiap langkahnya. Mulai dari menyapa, menanyakan nama, memperkenalkan diri-- eh, atau kebalik, ya?

Sudahlah, mana mau Duri peduli sekarang. Pedulinya nanti-nanti saja, sewaktu tanya Kak Gempa.

Tapi, anak itu juga masih diam, tidak menjawab. Padahal Duri 'kan tadi sudah sabar menunggu jawaban sembari berkonflik dengan pikirannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, setelah keningnya berhenti berkerut tergantikan, senyum setipis benang. Duri saja tidak melihatnya.

"Kau tahu, orang-orang memanggilku dengan nama yang berbeda Tapi, ada seseorang yang memanggilku dengan nama Solar ...." Nada bicaranya menjadi lebih pelan di akhir kalimat. Duri mengerjap, tak sabar menunggu kelanjutannya, tapi dia juga tidak ingin mendesak. "... aku menyukai nama itu. Maukah kau memanggilku dengan nama itu?"

Duri mengerjap beberapa kali dengan mata hijau bulatnya. Beberapa saat setelah otaknya berhasil memproses itu semua, Duri segera mengangguk semangat. "Tentu saja! Aku akan memanggilmu Solar. Oh, ya! Namaku, Duri, panggil aku Duri. Kata Kak Gempa, namaku memang terinspirasi dari duri. Aku tidak terlalu mengerti. Kenapa namaku Duri, ya?"

Solar melebarkan senyumnya. Dia menggeleng perlahan. "Aku tidak tahu, mungkin nanti kau akan menemukan jawabannya. Duri, salam kenal, ya."

Duri kembali mengangguk. Dia senang sekali. Tidak sendirian di tempat antah-berantah ini. Yang entah kenapa, terasa familiar sekali. Sepertinya Duri pernah ke sini, mungkin sekali atau dua kali, atau bahkan berkali-kali? Karena Duri merasa mengetahui setiap seluk-beluk hutan berwarna oranye ini. Tapi, Duri juga tidak ingat apa pun tentang tempat ini. Aneh sekali. Apa ini hanya perasaan Duri.

"Duri, kau penasaran ini tempat apa?"

Duri menatap Solar. Terpukau, matanya bersinar-sinar, tersenyum sampai mulutnya terbuka lebar. "Iya! Hebat sekali Putih, bisa tahu yang kupikirkan!"

Solar tersenyum kecil. "Ini alam bawah sadarmu." Solar tidak menggubris kekaguman Duri, dia memilih menjawab rasa penasaran Duri tentang tempat ini.

Tapi, sayang sekali. Jawaban Solar membuat Duri makin bingung saja. "Maksudnya?" Duri memiringkan kepalanya, sembari menggaruk pipi. Reaksi biasa saat Duri bingung tapi ditambah bingung lagi.

"Anggap saja, seperti imajinasimu. Di sinilah, semua diproses. Kau selalu mendatangi tempat ini setiap kali ingin berimajinasi. Ini intinya."

Mata Duri makin melebar, makin lucu saja. "Benarkah? Tapi, kenapa aku tidak tahu?"

Solar tidak melunturkan senyumnya. Sepertinya, sejak tadi, hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak. Tangan, kaki, tubuhnya semua diam. Berbeda sekali dengan Duri yang badannya tidak bisa diam.

Once Upon a Time [RiSol] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang