"Argh, ayah lepaskan!"
"Ayo beli es krim!"
"Kurang ajar!"
Duri rasa, kepalanya penuh dengan suara-suara tidak jelas itu. Entah datang dari mana asalnya. Yang jelas, ini membuat kepalanya sakit. Semenjak ia mendengar teriakan cetar membahana itu. Duri duduk meringkuk, menutupi kedua telinganya dengan tangan gemetar. Duri juga tidak tau karena apa. Yg pasti ini membuat Duri benar-benar tidak nyaman.
Entah berapa lama, sebelum akhirnya Duri tidak lagi benar-benar mendengar suara. Hening, sepi, semuanya terlalu sunyi, seakan suara-suara itu lenyap ditelan penyedot debu. Duri pelan-pelan membuka matanya, lalu mendapati dirinya kebingungan dengan situasi sekarang. Tak ada warna, hanya hitam. Namun ini tidak gelap, dia bisa melihat. Namun, segalanya benar-benar hanya hitam. Tempat ini seperti luasnya tak terbatas seperti bola dunia. Seakan tak memiliki ujung sepanjang mata memandang.
Napas Duri tak karuan, dadanya terasa sesak mengancam untuk segera pergi dari sini. Seluruh pikirannya mati sehingga hanya mempunyai satu cara untuk tetap sadar. Jalan. Kedua kaki pendek itu melangkahkan langkah pertamanya dengan ragu ke depan. Suaranya menggema. Memantul-mantul, membuat suara berisik. Ini seperti sebuah ruangan. Duri kembali melangkah. Di antara napasnya yang tersengal, ada langkah kakinya yang menjadi semakin cepat seiring putaran jarum jam. Detak, menit, memacu rasa takutnya untuk membuat jantung berdetak sangat keras. Seakan itu juga menggema beradu suara dengan langkah kakinya yang kini memantul-mantul tak karuan.
Namun, berapa lama pun Duri berjalan, sesesak apa pun dadanya, dan selelah apa pun ia untuk berlari, Duri tetap terjebak dalam ruang ini. Tak ada cahaya yang berarti. Hanya hitam. Tanpa warna. Dan Duri mulai menyerah untuk kembali berusaha. Kedua kakinya terlalu lemas untuk maju ke depan, hingga ia berakhir kembali meringkuk, bersama pelukan yang datang dari dirinya sendiri. Air matanya membasahi pipinya, deras seperti itu tiada habisnya.
Padahal, Duri sendiri tidak bisa menghentikan air mata itu. Tidak bisa menjadi kuat hanya karena kata-kata kakaknya yang serba merah mulai memenuhi setiap sudut isi kepalanya. Duri semakin menangis, semakin larut dalam putus asa, tak mampu menahan rasa sakit di dada yang kian menjalar hingga menyakiti seluruh tubuhnya. Tubuh Duri rasanya seperti dicabik-cabik oleh binatang buas. Dia tidak dapat menahan ini lebih lama lagi.
"Sayang ...."
Bisikan lembut itu dihiraukan Duri. Mungkin sang empu pun tak bisa lagi mendengar dengan jelas karena banyaknya suara yang ada di kepalanya. Tak menyadari lagi, di belakangnya ada sesosok serba putih yang hendak menggapai tubuhnya ke dalam sebuah pelukan.
"Mari kita pulang. Mari kita akhiri rasa sakit ini."
Saat tubuh Duri hampir digapai, saat itu pula ada debu cahaya yang muncul. Perlahan membentuk seseorang. Menampilkan sosok Solar di depannya yang juga duduk dalam posisi sama seperti Duri. Dalam seketika sosok di belakang Duri pun menghilang bak tertiup angin. Solar menggenggam tangan Duri yang sedari tadi disembunyikan si empu di dadanya. Membuat Duri akhirnya mendongak mendapati manik berwarna abu-abu itu.
"Ikuti aku bernapas. Dan kau akan baik-baik saja."
Solar meletakkan tangan Duri ke dadanya. Ia menarik napas panjang dengan perlahan, mengeluarkannya pula dengan perlahan. Begitu dalam beberapa kali dan Duri mengikutinya dengan susah payah akibat ingusnya terlalu menganggu.
"Bagaimana, sudah baikan?" Solar bertanya, masih menggenggam tangan Duri, bahkan terlampau erat.
Duri tidak menjawab. Dadanya masih sakit. Namun, tidak seperti tadi. Sisa-sisa sakit di tubuhnya pun pelan-pelan menghilang. Duri mulai merasakan sensasi tenang di dalam kepalanya tanpa ada suara-suara yang menganggu. Duri tetap tidak menggubris pertanyaan Solar. Dia memilih untuk bertanya balik.
"Solar ... ada di mana ini?"
Solar tidak langsung menjawab. Dia melirik ke samping saat manik sewarna dengan zamrud itu mencoba menyelami matanya. Ia yakin, Duri mungkin tidak akan tahu meski ia berbohong sekarang.
"Kita ... ada di dalam ingatanmu," gumam Solar. Memainkan tangan Duri yang masih dipegangnya.
Duri dengan cepat teralihkan dari rasa sakit yang dirasakannya sejak tadi. Ia menurunkan kepalanya, mencoba melihat wajah Solar dari bawah agar leluasa. "Maksudnya?"
"Iya, ingatanmu."
Setelah berkata seperti itu, angin lembut datang dari arah berlawanan. Dan mata Duri bercahaya dengan indah dan sesuatu di dalam tubuh Duri keluar, mengelilingi mereka, membentuk sebuah layar proyektor besar. Layar itu tidak hanya satu, tapi ada begitu banyak, dengan gambaran yang berbeda-beda. Menampilkan kehidupan yang Duri jalani selama ia hidup.
Duri tertegun. Tidak percaya bahwa ingatannya akan keluar begitu saja. Dan kini ia berada di tengah-tengahnya bersama Solar.
"Indah bukan?"
Pertanyaan Solar mendapat anggukan dari Duri yang masih kagum.
"Lihatlah di sana."
Solar menunjuk pada salah satu layar, manik Duri mengikuti arahnya. Dia menjadi semakin tertegun, tenggelam dalam ingatan yang telah lama itu. Umumnya, ia tidak dapat mengingat kejadian ini, namun entah mengapa hatinya berkata bahwa, "Ya! Itu adalah aku, saat baru bisa berjalan!"
Ada ketiga kakanya di sana. Ia seperti melihat dengan matanya sendiri. Seluruh suara tergantikan oleh satu suara dari layar itu. Hebohnya sang kakak yang bermanik biru layaknya berlian, terus menyemangati agar segera melangkah mendekat. Atau tatapan hangat bercampur haru yang bahkan tak bisa lagi diungkapkan lewat kata-kata. Duri tahu, kakaknya yang punya mata merah itu, jarang sekali terlihat sangat begitu bersemangat untuk sesuatu. Tapi, saat di layar itu menunjukkan wajah kakaknya, senyum lebar dan mata yang berkaca-kaca. Apakah sebahagia ini ketiga kakaknya ketika mengetahui ia sudah dapat berjalan?
"Ini ... ini saat aku belajar berjalan, 'kan ...?"
Solar menatap Duri yang bahkan tidak mengalihkan wajahnya dari layar itu. Matanya terkunci pada setiap pemandangan. Atau mungkin tawanya sendiri saat masih kecil.
"Iya."
Setelah jawaban pelan itu keluar dari mulut Solar, Duri menunduk. Melepaskan pandangannya pada layar tersebut. Dan suara-suara dari berbagai layar yang berbeda kembali muncul, membuat sekitar menjadi lebih ribut. Solar terdiam, merasakan adanya perasaan lain dari Duri. Tapi, dirinya sendiri tidak berani bertanya. Saat Duri kembali mengangkat kepalanya, kedua manik itu menelusuri seluruh layar, mencoba mencari-cari sesuatu. Namun, saat Duri menyusuri layar-layar itu, ia bahkan hanya dapat menemukan sosok itu dalam beberapa layar, itu pun tidak sampai dia menit kehadirannya. Duri seketika menyesal, mengapa pula ia harus menghindar setiap kali ayahnya datang?
"Duri, apa kau baik-baik saja?"
Setelah lama berpikir, Solar akhirnya memutuskan untuk bertanya. Namun, pertanyaannya itu dijawab diam oleh Duri. Dia tidak lagi mecari-cari sesuatu. Matanya kembali terpaku pada satu layar. Solar mengikuti arah pandang Duri, dan dengan cepat menemukannya. Layar yang tersembunyi, layar yang begitu gelap dan pudar, namun dengan jelas Solar tahu, bahwa itu seharusnya kenangan yang tidak diingat Duri sama sekali.
Layar yang samar itu, menunjukkan wajah seorang wanita, rambutnya terikat ke belakang, sorot matanya begitu sendu, jarinya menyentuh permukaan wajah seseorang yang tengah menatapnya. Duri memegang pipinya sendiri, mengikuti gerakan wanita tersebut. Sebelum tangisnya pecah dalam ruangan itu, ia meraung-raung, meneriakkan kerinduan yang menumpuk di dalam hatinya.
Ruang yang memerangkap mereka, ruang yang gelap ini, perlahan menampakkan cahayanya. Solar segera merespon cahaya tersebut, menggenggam tangan Duri begitu erat, menarik dia paksa, saat Duri memberontak ingin tinggal. Tapi, Solar juga lebih egois. Semakin Duri memberontak, semakin erat genggamannya. Solar tidak peduli, bahkan jika Duri sekarang meledak oleh emosinya sendiri.
Tidak, jangan sekarang!
Mereka menggapai cahaya itu, yang perlahan menutup, membuat keduanya menghilang. Hanya menyisakan layar-layar yang terus menyala. Di antara seluruh layar itu, ada satu yang kian memudar, seakan hendak menghilang.
=••=
1176 kata
Maaf ges, lupa semalam malam rabu //run
Semoga suka bab ini!
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Upon a Time [RiSol]
FanfictionDuri tiba-tiba saja tidurnya terganggu di tengah malam. Saat itu, Duri menyadari, kamarnya yang biasa gelap di malam hari menjadi sedikit lebih terang. Mungkin karena cahaya bulannya, atau mungkin karena buku dongeng Kak Gempa bersinar terang. Eh...
![Once Upon a Time [RiSol]](https://img.wattpad.com/cover/322996852-64-k133153.jpg)