"Duri, Duri, hei ayo tidur sekarang!"
Duri meloncat-loncat di atas kasur, tidak mau tidur! Duri masih ingin bermain, Kak Gempa juga belum datang untuk membacakan dongeng. Duri tidak suka Kak Taufan, dongeng Kak Taufan tidak menyenangkan. Meski, Duri suka suara nyanyiannya. Tapi, Duri 'kan lebih suka dongeng!
Jadi, Duri loncat dari kasur saat Kakaknya yang warna biru itu hendak menangkapnya, dia memecut lari hendak keluar. Tapi, Duri telat, Kak Taufan lebih dulu membanting pintu menutupnya. Suaranya keras sekali sampai tubuh Duri gemetar. Wajah Kakaknya itu merah padam seperti kepiting rebus. Duri ciut, dia pelan-pelan mundur, naik ke kasur, dan menjatuhkan tubuhnya ke sana.
Tapi, tiba-tiba saja Kakaknya tersentak, lantas mendekati Duri dan memeluknya.
"Maaf, maaf Duri, Kakak tidak bermaksud marah."
Kakaknya itu memeluk Duri sangat erat, menciumi keningnya berkali-kali, pun kata maaf tetap terlontar. Mungkin, mungkin saja Duri harus bilang, "iya, tidak apa-apa" dulu baru kakaknya itu berhenti. Tapi, Duri bukannya tidak tahu apa-apa, kalau dijawab seperti itu, nanti kakaknya di penyuka biru ini akan semakin gesit melayangkan kata maaf. Tapi, kalau Duri bilang, "nggak dimaafkan", nanti juga Kak Taufan akan menangis!
Kakaknya itu labil! Tidak, tidak. Tiga kakaknya labil semua, seperti anak kecil. Memang, yang dewasa di sini cuma Duri seorang.
"Duri mau tidur, Duri ngantuk." Duri pura-pura menguap, mengusap matanya, agar terlihat benar-benar mengantuk, padahal tidak. Dan kakaknya itu berhenti menciumi keningnya yang sudah basah dengan air liur kakaknya.
Akhirnya, Kak Taufan berhenti. Menatap Duri, mengulas senyum lebar, lantas melepaskan pelukannya sembari menempatkan Duri pada posisi senyaman mungkin untuk tidur.
"Duri mau dinyanyiin aja atau mau didongengin?"
Duri bimbang. Dia mau mendengarkan dongeng, tapi dongeng Kak Taufan semuanya membuat Duri jadi makin tidak bisa tidur. Tapi, besok ada tugas mengarang di sekolahnya dan Duri butuh inspirasi untuk membuat karangan yang bagus dan dipastikan bisa mendapat nilai A. Dengan begitu, Duri bisa memperlihatkan pada ayahnya, bahwa Duri anak pintar.
"Duri gak tahu." Duri manyun, suasana hatinya berubah jadi buruk.
"Okey! Kak Taufan dongengin Duri, ya! Besok ada tugas mengarang, 'kan? Tenang aja, dongeng kali ini pasti bagus."
Kak Taufan terlihat begitu percaya diri dan bersemangat, padahal Duri tidak. Lantas dimulailah acara dongeng tiap malam untuk menidurkan Duri dalam buaian mimpi indah.
"Ada dua malaikat bersahabat, yang tinggal bersama. Malaikat satu dijuluki si hitam, yang membawa sabit besar untuk mengantarkan orang-orang ke dalam buaian mimpi panjang. Dan satunya si putih, yang mengantarkan orang-orang ke dalam mimpi yang fana."
"Kenapa si hitam membawa sabit?"
Kakaknya tampak terkejut, lantas menimbang-nimbang jawaban yang bisa dia berikan pada adiknya. Sembari mengelus kepala Duri, dijawablah pertanyaan itu.
"Karena, itu mainan kesukaannya. Sekarang, dengarkan kelanjutannya."
=••=
Kabut. Kabut tebal ada di mana-mana menghalangi pandangannya. Mencegat pernapasannya, hingga Duri jatuh berlutut, berusaha meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Dalam kepanikan yang melanda Duri habs-habisan, Duri teringat pada Solar. Solar tidak ada di dekatnya, dan Duri sudah siap dengan pemikiran buruknya. Setelah apa yang terjadi, Duri menjadi cukup takut untuk terpisah lagi dengan Solar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Upon a Time [RiSol]
FanfictionDuri tiba-tiba saja tidurnya terganggu di tengah malam. Saat itu, Duri menyadari, kamarnya yang biasa gelap di malam hari menjadi sedikit lebih terang. Mungkin karena cahaya bulannya, atau mungkin karena buku dongeng Kak Gempa bersinar terang. Eh...
![Once Upon a Time [RiSol]](https://img.wattpad.com/cover/322996852-64-k133153.jpg)