Rasanya seperti tulang-tulang dalam tubuh Duri bergetar hebat sampai kulitnya merinding tak karuan. Hawa di sekitar Duri tiba-tiba saja jadi mencekam seakan ini genre horor, dingin bagai di kutub, dan empat pasang mata yang saling tatap seolah punya tembakan laser.
"Uhm, Solar? Kak Hali?" Duri beranikan memanggil. Berhubung dia duduk di antara keduanya. Ibaratnya, mana mau Duri jadi satu-satunya yang tidak paham situasi.
Duri melirik sekilas, Kak Halilintar duluan melepas tatapan matanya pada Solar. Lalu tubuh itu beranjak dari duduk, entah menuju ke mana, Duri cukup takut untuk menoleh. Apalagi, ini 'kan Kakaknya yang paling galak, sekali angkat suara, titahnya menjadi wajib dipatuhi.
"Sombong banget. Cuma inner juga," gumam Solar, mencak-mencak. Sembari memutar dua bola matanya.
Wah, Duri baru berani duduk tegak setelah tadi menciut sampai buat tulang punggungnya sakit. Dia tatap Solar yang tampak jengkel. Dalam benaknya, tersimpan ribuan pertanyaan, mengenai Solar dan Halilintar—Kakaknya yang tubuhnya jadi seukuran dirinya.
"Jangan tanya," cegah Solar. Duri jadi cemberut, mulutnya terkatup kembali.
Tak lama kemudian, Halilintar kembali. Bawakan dua cangkir berisi air yang berpadu antara warna coklat dan merah, wangi semerbak menyambut indra penciuman, begitu kuat harumnya. Di dalamnya pula terdapat kelopak bunga yang amat asing di mata Duri.
"Minumlah. Kalian pasti lelah," ujar Halilintar. Sama sekali tidak duduk setelah mengatakan itu.
Duri senang sekali disuguhkan air, entah berapa lama dirinya tidak minum sejak dibawa pergi oleh Solar. Tapi, lengannya malah ditahan si empu, buat Duri menoleh dan raut wajahnya menjadi bertanya-tanya. Duri tidak melihat gelengan pelan Solar, karena ulah Halilintar yang mendistraksi dengan usapan halus di kepalanya.
Duri menoleh padanya, senyum tipis terhampar di sana. Dalam bayang matanya, Duri dapati manik semerah darah itu siratkan kesedihan. Duri tidak tahu kenapa dan tidak yakin juga untuk bertanya.
"Aku tidak akan terjebak olehmu."
Reaksi Halilintar tidak sesarkas tadi. Malah memutar bola matanya, dan balik membalas, "Yah, aku tidak pernah memaksamu untuk meminumnya."
Solar geram sampai mendesis, matanya bahkan sampai menyipit demi memberi tatapan intimidasi. Sementara yang ditatap, balas menatap datar seolah Solar bukan apa-apa. Duri jadi bingung, kenapa tiba-tiba suasananya kembali seperti tadi lagi.
"Memangnya tehnya kenapa?" tanya Duri. Melongok ke dalam cangkir teh.
Sebelum sempat Solar membalas, Halilintar lebih dulu menyela. "Tidak ada apa pun di sana. Hanya temanmu saj ayang terlalu paranoid."
"Aku tidak paranoid!" Solar menghela napas kasar. Lantas merebut cangkir di depan Duri, melemparnya ke bawah.
Hebatnya, cangkir itu tidak pecah meski airnya jadi tumpah ruah. Napas Solar entah kenapa tersengal setelah melakukan aksi itu. Si pemilik cangkir pun tampak tak peduli setelah sajiannya dihempas begitu saja oleh si tamu.
"Aku yakin kau memasukkan sesuatu ke dalamnya!" Solar kembali bersuara, kali ini menunjuk Halilintar dengan telunjuknya.
Helaan napas geli menjadi balasan atas tuduhan Solar. Tangan si manik merah kembali terjulur, usap kepala Duri dengan pelan.
"Untuk apa aku menyakiti adikku sendiri? Satu-satunya orang yang menyakitinya di sini adalah kau." Ditatapnya si manik abu yang balik menggeram.
"Kami—kami di sini untuk menyembuhkanmu! Mengapa tidak kau permudah saja jika kau menyayangi adikmu?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Upon a Time [RiSol]
FanfictionDuri tiba-tiba saja tidurnya terganggu di tengah malam. Saat itu, Duri menyadari, kamarnya yang biasa gelap di malam hari menjadi sedikit lebih terang. Mungkin karena cahaya bulannya, atau mungkin karena buku dongeng Kak Gempa bersinar terang. Eh...
![Once Upon a Time [RiSol]](https://img.wattpad.com/cover/322996852-64-k133153.jpg)