8-Si Jubah Hitam dan Pria Tua

153 32 3
                                        

[Peringatan! Bab ini mengandung kekerasan! Harap bijak dalam membaca!]

=••=

Duri tidak menemukan cahaya di mana pun! Sejauh matanya memandang, yang dapat dilihat hanya kegelapan pekat yang Duri rasa berhasil menyelusup ke dalam rasa takutnya. Sampai-sampai, tubuh Duri bergetar, mungkin sampai ke tulangnya! Duri menggenggam erat tangan Shielda, berharap kakak perempuan itu menyadari betapa takutnya Duri sekarang.

"Kita harus berjalan dalam gelap seperti ini?"

Duri yakin itu si kakak laki-laki, karena suaranya berat seperti milik kakaknya di rumah yang suka marah-marah.

"Aku bertaruh. Cahaya akan menarik perhatian hewan-hewan ajaib itu."

"Namanya juga hutan ajaib."

Sai menghela napas. Tidak perlu dijelaskan lagi, dialog mereka berdua sudah sampai pada pemahaman Duri. Mereka mungkin harus tetap berjalan dalam gelap di antara rerimbunan pohon menjulang tinggi. Jika, salah pijak, mungkin akan berakhir hilang seperti teman barunya itu. Dalam waktu seperti ini, Duri benar-benar melupakan nama temannya itu.

"Bukankah keberuntungan kita bisa lolos dari penjaga?"

Dudi tersentak. Shielda meneriakkan nama Sai. Mereka dikelilingi cahaya oranye. Rupanya, Sai tidak setuju berjalan dalam kegelapan, sama seperti Duri. Maka, inisiatif sendiri untuk mengurung api di dalam kaca. Duri tahu benda itu, ada dalam game atau film yang dilihat kakaknya yang suka warna biru. Tapi, meski begitu, Duri tidak tahu namanya.

"Ayo jalan."

"Aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi!" Shielda mendesis, berjalan di sebelah Sai. Menarik Duri yang kesulitan menyamakan langkah dengan keduanya. Rasanya, jadi seperti terseret.

"Ya, tidak usah. Aku dan Duri saja yang bertanggung jawab."

"Kenapa Duri?" tanya Duri, secara refleks.

"Karena, kau pasti juga tidak mau berjalan dalam gelap. Benar?"

Duri menarik kedua sudut bibir. Senyum lebar diukir pada wajahnya. "Iya!"

"Benar! Itu dia, haha!"

Shielda menatap mereka berdua datar. Mendengus kasar.

"Awas!"

Duri menarik tangan Shielda sekuatnya. Membuat Shielda hampir terjungkal ke belakang. Duri menunjuk lingkaran jamur yang hampir mereka langkahi. Kedua alis Duri berkerut dan pegangannya pada Shielda semakin mengerat.

"Oh, lingkaran sihir," gumam Shielda

"Aneh. Jika, kau melangkah ke sini, harus yang kau tertangkap penyihir jelek itu."

Duri menatap Sai. Alisnya semakin berkerut. Jika itu benar, Duri mungkin diberikan banyak keberuntungan. Apa Solar hilang karena lingkaran itu juga? Dan Pinokio yang dilihatnya kemarin, apa jangan-jangan dia penyihirnya?

"Duri bertemu Pinokio sebelumnya."

"Ha? Apa?!"

Duri memilin jubah yang dijahit acak-acakkan dengan kain kasar itu. "Pinokio, boneka kayu itu."

Sai dan Shielda saling bertukar pandang. Seolah melakukan telepati anak kembar.

"Bagaimana bisa ...?" Sai mendesah lemah.

"Bukankah dia diculik si Bajak Laut?"

"Apa?" Kepala Duri serasa akan meledak. Padahal ini hanya dongeng Pinokio, mengapa semuanya jadi serumit dan sesulit ini untuk dimengerti. Mengapa alurnya sangat berbeda jauh dari alur aslinya. Duri tidak paham, apa hubungan Pinokio, hutan ajaib, dan juga Bajak Laut?! Tidak ada bajak laut di dongeng Pinokio!

Once Upon a Time [RiSol] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang