BAB 3 Lelaki Air Mineral

5 1 0
                                        

Cuaca diluar semakin dingin namun pipi kiri dan telingaku panas.

"Kau mendengarkanku kan bocah!" Kipas itu sekarang sedang menekan keningku.

Ucapkan pujian pada kesabaranku karena tidak mematahkan kipas norak ini. Jujur, awalnya aku mendengarkan. Tapi setelah 10 menit berjalan tanpa henti, aku mulai merasa membayangkan bubur ayam jauh lebih bermanfaat.

"Dua bulan dengan tambahan denda 20%," sahutku pelan, "bukankah saya berjanji akan melunasinya tanggal 10 nyonya," aku menghela nafas, "sekarang masih tanggal 3,"

"Aku memastikan agar kau tidak kabur," sahutnya.

"Aku tidak mungkin melakukannya Nyonya,"

Dia mendengus, "Halah... Gadis sepertimu sudah sering aku temui," sisi kiri bibir merahnya terangkat, mencemooh, "tidak terpelajar, kasar, dengan wajah yang tidak seberapa cantik itu menipu bocah-bocah bodoh dan menghabiskan uang mereka,"

Ah...

Dia mulai mengungkit permasalahan itu lagi, wanita pendendam. Menyalahkan aku karena anak perempuannya putus dengan pacarnya. Aku bahkan tidak melakukan apapun, bocah itu datang begitu saja. Maaf, mungkin aura 'gadis tidak terpelajar dengan tampang tak seberapa' milikku sedikit lebih menarik daripada anak perempuannya. Aku tidak mungkin mengatakkan isi pikiranku. Aku tidak ingin barang-barang milikku yang tidak seberapa itu dilempar dari jendela apartemen oleh nyonya berkipas merah. Oh iya, nama Nyonya ini adalah Rita, namun aku lebih suka menyebutkan Nyonya kipas.

"Hanya lelaki bodoh dan konyol yang mau berhubungan serius dengan gadis mata duitan seperti mu," kipasnya masih terus menusuk pundak kiriku. Aku hanya bisa diam dan tanpa sadar mulai menghitung tusukan si kipas hingga suara muncul di ujung meja kasir.

'tok tok'

Aku menoleh, ada seorang laki-laki jangkung mengenakan setelan celana jeans, hoddie hitam bertuliskan 'orion' di dada kanan, topi hitam dan mengenakan masker hitam. Lelaki itu sedang menatap ke arahku sambil mengetukkan jarinya ke meja kasir.

Terima kasih untuk pelanggan kedua ku hari ini. Jika anda tidak datang tepat waktu, mungkin kipas merah ini tidak akan berhenti menusuk tshirt kerjaku hingga berlubang.

Laki-laki itu menaikkan keranjang belanja yang berisi 3 botol air mineral, lantas menggesernya hingga mendekat kearahku dan membuat nyonya kipas mundur satu langkah. Kemudian lelaki itu menaikkan telunjukknya, memberi isyarat untuk menunggu sebentar dan dia kembali ke rak cemilan.

"maafkan saya nyonya, saya harus kembali bekerja," aku tersenyum, "bukankah saya harus lebih giat agar bisa membayar tagihan nyonya,"

Sepasang mata panda milik Nyonya kipas melotot kearahku, dia menarik nafas lantas mengacungkan senjata andalan. Posisinya sudah seperti akan menyemburkan api, "Kau-"

Dan kata-katanya terpotong oleh tumpukan roti tawar yang mendadak diletakkan di atas keranjang yang sebelumnya sudah terisi 3 air mineral. Karena ukuran nyonya yang minimalis, tinggi tumpukan itu mencapai dagunya.

"Kau-"

Lelaki itu meraih dua keripik kentang super jumbo dan kembali meletakkan di atas keranjang tanpa berbicara sedikitpun.

Dan tada...

Wajah nyonya pemilik apartemen kini sudah tertutupi sempurna dari pandanganku.

Dia mendongak menatap kearah lelaki pemilik tumpukan barang, aku tahu nyonya kipas sangat marah namun melihat selisih tinggi yang sangat jauh, nyonya pasti bersusah payah menelan amarahnya. Tingginya hanya mencapai perut lelaki itu. Aku berani bertaruh, jika nyonya nekat menusuknya dengan kipas, lelaki itu akan dengan mudah meraih belakang kerah baju dan mencincingnya keluar dari minimarket seperti membawa seekor kucing.

Without WordsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang