Kartika dan Tahu Sumedang

5 1 0
                                        

Hari-hari terus berganti, Kartika masih belum menemukan pekerjaan setelah kelulusannya 6 bulan lalu. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak perusahaan yang dilamar bahkan memori hp nya penuh karena banyaknya lamaran yang ia buat.

Mendapatkan pekerjaan adalah prioritas bagi Kartika, sebelum mendapatkan pekerjaan Kartika pantang untuk meminta uang jajan. Padahal ayah dan ibunya mempunyai uang yang cukup untuk sekedar memberi Kartika uang saku.

“Uangnya ditabung aja, bu. Buat umroh.”

Kartika pernah mendengar do'a ibu saat sholat tahajud. Sambil menadahkan kedua tangan, ibu meminta kepada Tuhan untuk diberangkatkan umroh. Anak manapun yang mendengarnya pasti akan menangis.

Melihat umur ibu yang sudah menginjak kepala lima tapi belum merasakan umrah membuat Kartika merasa bersalah.

Dari pagi hari tadi Kartika sudah siap untuk berangkat ke perusahaan yang mengundangnya tes interview. Semalam ia sudah melakukan riset dahulu tentang perusahaan ini.

Menyiapkan jawaban dari pertanyaan yang mungkin ditanyakan. Perusahan swasta yang bergerak di bidang manufaktur itu sudah menarik perhatiannya satu minggu lalu.

“Sarapan dulu, ibu udah masak telur dadar kecap.”

“Iya, bu.”

Tidak butuh waktu lama Kartika menghabiskan sarapannya. Kartika pamit kepada ibu dan meminta do'a agar dimudahkan dalam proses interview. Seperti kebanyakan pelamar kerja yang lain, Kartika hanya memakai celana bahan warna hitam dan kemeja warna putih. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan terurai.

Kartika diantar ayah untuk pergi ke perusahaan menggunakan motor butut. Walaupun sering berhenti mendadak, ayah tidak pernah kepikiran untuk mengganti motor selama masih bisa diperbaiki.

Motor butut ini adalah hasil keringat pertamanya, jadi tidak semudah itu mengganti dengan yang baru. Ayah tidak banyak bertanya, ia hanya mengatakan untuk tetap tenang selama proses interview.

Kartika menanggapinya dengan baik.
Sudah banyak orang yang menunggu di luar perusahaan. Semuanya tampil dengan sempurna. Laki-laki maupun perempuan memiliki pesonanya tersendiri. Setelah pamit kepada ayah Kartika bergabung dengan yang lain. Seorang perempuan di sebelah Kartika mencolek.

“Kamu bawa bedak nggak? Makeup ku kayaknya luntur, deh.” ucapnya dengan nada gelisah.

“Nggak, saya nggak bawa. Tapi makeup kamu nggak luntur, kok.”

“Eh, serius?”

Kartika tersenyum “Iya.”

“Namaku Sarah.” katanya seraya menjulurkan tangan.

“Saya Kartika.”

Topik selanjutnya fokus pada proses interview. Sarah juga sudah menyiapkan jawaban terbaiknya untuk menjawab setiap jawaban.

Sarah juga bercerita sudah banyak melakukan interview tapi masih belum lolos tahap selanjutnya, jika interview ini masih belum lolos, ia ingin menikah saja.

“Serius, aku lebih baik nikah.”

“Nikah itu nggak cuma modal siap aja Sar, harus banyak yang disiapin.”

“Menurutku justru jangan kebanyakan persiapan, nanti jodohnya dicaplok orang.”

Kartika tertawa “Ada-ada aja kamu.”

“Aku liat depan ada yang jualan tahu Sumedang, antar aku beli yuk, aku belum sarapan soalnya.”

Kartika mengecek jam yang melingkar di tangannya. Masih ada waktu 15 menit untuk masuk. Kartika mengangguk. Penjual tahunya masih muda, atau mungkin seumuran dengan Kartika. Kulitnya sawo matang dengan rambut yang sedikit ikal. Memakai kaos oblong warna hitam dan jeans belel dengan sepatu yang sudah sobek.

“Mau berapa?” tanya si penjual.

“Kamu mau Kar?” Sarah melirik Kartika sebentar.

“Saya sudah sarapan tadi.”

“Kalo gitu saya beli dua puluh ribu aja, sama lontongnya lima.” kata Sarah.

“Pake cabe rawit?”

“Iya, yang banyak mas.”

Si penjual fokus memasukan tahu ke dalam keranjang yang dibuat khusus untuk tahu Sumedang. Kartika tertarik dengan bentuknya yang unik. Menggunakan kayu yang di sisir tipis lalu dibuat seperti setengah tabung tapi bagian atasnya lebih besar daripada bagian bawah. Dilapisi kertas nasi lalu dimasukan ke dalam kresek.

“Makasih, mas.” ucap Sarah.

“Saya mau mas, sepuluh ribu, tahu aja.” ujar Kartika.

“Tadi katanya nggak mau”

Kartika nyengir “Buat cemilan.”

“Eh itu udah pada masuk Kar.”

Kartika menoleh ke arah pintu masuk. Benar saja, satpam sudah menyuruh pelamar untuk masuk. Kartika dengan cepat merogoh saku mengambil uang untuk membayar tahu.

“Aku duluan Kar.” Sarah berlari meninggalkan Kartika.

“Cepet mas, saya mau interview.”

“Semoga lancar, ya.” kata si penjual.

Kartika tidak menanggapi dengan serius. Ia langsung menyerobot plastik yang berisi tahu Sumedang ke tangannya “Makasih mas.”

Kartika sedikit berlari menuju ke dalam perusahaan. Untung saja masih belum dimulai, hanya ada pengarahan dulu untuk urutan interview. Kartika mendapatkan nomor terakhir, setelah Sarah. Tiba-tiba handphonenya bergetar ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan.

+62888******23
Uangnya seratus ribu Kar.

Kartika tidak paham maksud pesan tersebut, ia mengabaikannya lalu duduk di bangku yang sudah disediakan. Kartika memasukan tahu Sumedang kedalam tas. Untuk cemilan nanti dirumah.

Ia lupa tidak meminta ekstra cabe rawit seperti Sarah tadi. Sarah kemana? Kartika menyusuri setiap sudut ruangan tapi tidak ada tanda-tanda Sarah dimanapun. Mungkin ke toilet pikir Kartika.
Handphonenya bergetar lagi, Kartika mendapatkan Pesan dari orang yang sama. Kali ini si pengirim pesan bilang.

+62888******23
Kamu masih sama seperti dulu Kar.

Siapa ini. Apa jangan jangan si penjual tahu Sumedang di depan? Untuk memastikan, Kartika langsung keluar perusahaan. Memastikan bahwa itu memang benar. Sekitar 5 meter sebelum sampai, suara dering ponsel berbunyi. Ternyata memang benar, itu nomor si penjual tahu Sumedang.

“Kenapa mas nya punya nomor saya?” Kartika bertanya langsung.

“Aku kira kamu nggak akan lupa sama aku, Kar”

Kartika menaikan halis “Mas nya kenal sama saya?”

Si penjual mengangguk “Aku Sangka, temen SD kamu dulu.” katanya dengan menjulurkan tangan.

“Sangka?”

“Kamu pernah salah memberikan uang untuk makan bakso sampai berkali-kali dan aku yang mengingatkan, kamu juga salah membeli spidol saat spidol kelas kita hilang oleh anak laki-laki, dan yang terakhir kamu juga pasti lupa kalau aku pernah mengajak kamu berpacaran sebelum aku pindah ke Surabaya.”

Kartika menutup mulut “Sangakara?” katanya menegaskan.

“Iya Kar, aku Sangkara”

Memeluk Angan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang