l fell first, my friend too

4 1 0
                                        

Tatkala hujan gerimis mengguyur kota Bandung dalam keheningan malam aku hanya bisa tertegun. Satua dua pemulung sudah tidur terlelap dengan pakaian yang kotor. Alas tidur mereka hanya sebatas selembar kardus yang di bagi tiga untuk anaknya tidur.

Tidak ada lagi kata yang harus ku utarakan. Tekadmu sudah terlalu kuat untuk berpisah. Jangan bertanya kenapa saat aku tidak menahan karena kamu yang menjadi alasan. Sudah cukup drama yang kamu buat, aku harap kamu bisa belajar bagaimana memberikan pasanganmu pemahaman tentang bagaimana caranya mencintai.

Aku menghela, apa dia di sana tidak pernah memikirkan hubungan ini sedikit saja? Masih adakah kesempatan kami bertahan? Aku lantas menutup mata. Rasa sakit yang ku rasakan ternyata sesakit itu. Gunungan jarum meletus hingga ke pucuk kerongkongan.

Wajahku di tabrak hujan silih berganti. Tidak, aku tidak menangis, hujan yang membuat mataku seolah mengeluarkan air mata.

Apa yang harus aku lakukan setelahnya? Mengikuti tekadnya untuk sama-sama melepas semua kenangan yang kami lakukan jauh ke awan? Apakah tidak akan jadi masalah nantinya jika awan memandang iri pada kenangan kami berdua?

Kubuka mataku kembali sembari meluruskan badan, sejenak aku berpikir apa alasan yang paling tepat untuk menggambarkan kesamaan ku dengan para pemulung itu. Apa kami sama-sama menyedihkan? Sama-sama di buang? Sama-sama di anggap pengganggu?

Tidak, aku tidak mempunyai alasan yang jelas. Hanya Tuhan yang tahu. Ya, hanya dia yang maha kuasa. Hanya dia yang bisa membolak-balik hati manusia.

“Besok ke Bali, Vin.” adalah Azwar.

“Ngapain? Kalo liburan nanti dulu, gue ada yang harus diselesaikan.”

“LDR-an lo?”

Aku hanya mengangguk, Azwar salah satu temanku yang tahu tentang dia. Tidak, Azwar tahu segalanya tentang dia. Dari awal kami bertemu dari sebuah aplikasi hingga kami berpacaran sekarang. Azwar pula yang acap kali memberikan saran saat kami sedang berseteru. Dengan dewasa dia memberikan saran dan kami berbaikan kembali.

“Sorry, Vin.” katanya tiba-tiba.

“Kenapa?”

Mata Azwar yang sayup membuatku tenang. Matanya membuat jiwaku serasa berada di rumah. Aku bisa bercerita apa saja padanya saat kehilangan arah. Azwar dengan senang hati mendengar semua keluh kesah ku.

“Caca sebenarnya udah jadian sama gue minggu lalu. Kita bahkan udah ketemu.”

Tidak ada kata lain yang bisa aku ucapkan selain bergeming tanpa bersuara. Keesokan harinya, Caca menelpon dan meminta untuk mengakhiri hubungan kita. Begitupun dengan kami.

Memeluk Angan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang