Tidak ada Setelah

4 1 0
                                        

Pukul 5 kemarin sore.

Keheningan jiwa yang memaksa untuk tetap damai walaupun di sekitar ramai. Dalam lingkup fatamorgana yang tidak ada habisnya aku berbaring di atas ranjang di kamarku di pojok sebelah kanan kamar ibu. Langit-langitnya jelek, sering bocor saat hujan, aku sering kedinginan saat malam tapi tak apa, setidaknya itu semua jelas, tidak seperti dia yang tidak tahu cara meminta maaf.

Dia banyak bohongnya. Dia selalu ingin di mengerti tanpa mau mengerti. Katanya dia sibuk, padahal sering sekali hilang dalam percakapan alasannya tidur. Kalimat 'Bedakan orang yang mengebarimu saat ada waktu dan orang yang meluangkan waktu untuk mengabarimu' menjadi salah satu kalimat yang aku percaya.

Bagaimana tidak?

Sebelum tidur, aku menunggu untuk dia mengabariku karena sebelumnya dia berjanji utuk  menelpon. Satu kali dua kali dia tidak menepati janji tapi tak ku permasalahkan, aku takut itu mengganggu kegiatannya yang super padat (katanya).

Keeseokan harinya.

Tak ada yang lain yang kupirkan. Setelah sembahyang ashar aku terus duduk di atas ranjang. Perpisahan kemarin kurang lengkap karena aku tidak mengucapkan selamat tinggal. Dia yang menyuruhku pergi. Satu dua huruf teruntai menjadi kata. Satu dua kata berubah menjadi kalimat yang melenceng dari asalnya. Bukan kata selamat tinggal yang ku tulis melainkan bertanya. Bertanya pasal bagaimana bisa mudah sekali ia meminta untuk berpisah.

Benar. Hanya aku yang jatuh, hanya aku yang terlalu mengaguminya pada sang semesta, tapi ia menganggapku sebagai serangga pengganggu yang kehilangan arah, mudah sekali membuatku bingung, mudah sekali membuatku jatuh. Lantas ia berbuat demikian.

Jangan bertanya tentang kelanjutannya akan seperti apa karena bukunya sudah lama ia tutup tanpa epilog. Perasaanku? Sudah jelas bukan? Aku tidak perlu menguntai kata lagi untuk membuatnya tetap tinggal, karena akhirnya aku hanya punya aku yang senantiasa di sana saat aku butuh, dan katanya aku jangan jadi orang yang tidak pantas untuk di cintai.

Kamu tidak kehilangan dia, tapi dia kehilanganmu.

Lihat saja nanti, semua akan berubah, tidak akan ada lagi perasaan sakit yang menusuk hingga tulang. Rasa sakit yang merambat kerongkongan. Semua hanya soal waktu.

Memeluk Angan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang