Bab 2

3.5K 396 15
                                    

Happy reading, semoga suka.

Ebook lengkap tersedia di Playstore dan Karyakarsa.

Pembelian via Karyakarsa sebaiknya dilakukan melalui website : www.karyakarsa.com

Kalau mau satuan, pilih satuan, kalau mau paket pilih paket (paket terdiri dari 2 cerita berbeda)

Luv,
Carmen

_______________________________________

Wanita yang sama tadi mengantarku ke dalam bangunan istana dan mengarahkanku melewati koridor demi koridor yang panjang hingga mencapai sebuah pintu. Dia berkata dengan nada datar tanpa emosi bahwa itu adalah kamar sementaraku. Saat membukanya, sudah ada dua orang pelayan di dalam. Wanita tadi berkata bahwa mereka ditunjuk untuk menyambut dan melayaniku tapi sayangnya ketiga wanita itu berbicara menggunakan Bahasa Inggris dengan kosakata yang sangat amat terbatas sehingga aku kesulitan berkomunikasi. Aku tahu mereka berusaha mengatakan padaku bahwa aku perlu membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu tanpa bisa membantah aku digiring ke dalam kamar mandi.

Aku menahan napas untuk tidak terkesiap saat melihat mewahnya kamar mandi tersebut, lengkap dengan bak mandi besar di tengahnya. Para pelayan itu lalu memberi isyarat bahwa aku harus mandi dan membersihkan tubuh, berucap sepatah demi sepatah agar aku mengerti. Tapi yang membuatku canggung, mereka bersikeras tinggal dan membantuku mandi.

“Tidak, tidak, aku bisa sendiri… aku…”

Yang kudapatkan sebagai reaksi mereka hanyalah kikikan dan tawa geli. Salah satu di antara mereka sepertinya berkata bahwa ini adalah hal normal, bahwa kami adalah sesama wanita, yang lain sepertinya menambahkan bahwa ini adalah pekerjaan mereka, jadi pada akhirnya aku terpaksa mengalah. Karena sulit sekali berkomunikasi panjang lebar sementara keduanya tidak menangkap kata-kataku.

“Oke, baiklah,” ujarku pasrah.

Walau luar biasa canggung dan tidak biasa, aku membiarkan mereka membantuku. Bak mandi itu telah dipenuhi dengan air hangat dan wewangian. Saat merendam tubuh lelahku di dalamnya, aku melepaskan desah nikmat.

“You love, Mistress?”

Aku mengangguk sambil memejamkan mata. Tak lama, aku merasakan tangan-tangan yang sedang membersihkan rambut pirangku bahkan juga tubuhku. Aku merasa jengah dan berusaha menghentikan mereka, walau tidak terlalu berhasil. Saat selesai, para pelayan itu bahkan membantuku keluar dari bak mandi dan mengeringkan tubuhku dengan handuk lembut yang wangi. Tidak sampai di sana saja, mereka juga mengoleskan semacam krim tubuh wangi ke kulitku. Lalu salah satu dari mereka menjauh dan kembali dengan sebuah gaun indah dengan model yang unik yang baru pertama kali kulihat, berwarna cerah dengan merah dan emas. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengenakannya tapi para wanita itu dengan senang hati membantuku. Terakhir, mereka memberiku sepasang sandal emas untuk dikenakan, setelahnya mereka menutupiku dengan jubah hitam yang sama dengan yang dikenakan mereka, memastikan seluruh tubuhku tertutupi, bahkan wajah dan hanya menyisakan mata.

Aku belum sempat mengatakan apapun saat seseorang mengetuk pintu dan salah satu dari pelayan itu bergegas membukanya. Satu pelayan menggiringku ke arah pintu di mana seorang pria Arab sedang berdiri menungguku. Kembali, dengan Bahasa Inggris terpatah dan aksen mengerikan yang membuatku semakin sulit mengerti, pria itu berusaha menjelaskan bahwa aku harus ikut dengannya. Para pelayan mendorong punggungku pelan sambil berkata, “Go, go now.” Lalu mengisyaratkan agar aku mengikuti pria itu.

“Oke.”

Aku mengangguk dan bergegas mengikuti pria itu yang sudah berjalan terlebih dulu. Langkah kakinya yang lebar membuatku sedikit kesulitan mengimbanginya. Setelah melewati labirin koridor yang panjang dan berbelok-belok, kami akhirnya mencapai sepasang pintu ganda besar. Dia memintaku berhenti sambil memberi isyarat agar aku berdiri di luar menunggunya sementara pria itu sendiri masuk. Tak lama kemudian, dia membuka pintu dan memintaku masuk ke dalam.

Sultan's Forced WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang