Full version sudahtersedia di Playstore dan Karyakarsa
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di Karyakarsa:
Enjoy
Luv, Carmen
___________________________________________
Prev:
Kau memilikisopansantunsepertilayaknyaseorangwanita Arab, tapi kau berasal dari Barat di mana para wanitabiasanyadiajariuntukmenjadi liar dan bebas, dalamsegalaarti.
....
Aku agak terkejut mendengar kata-kata yang cukup keras itu.
“Well, aku dibesarkan di rumah yang mengajariku sopan santun dan moral. Orangtuaku sangat kuno. Jadi aku yakin tidak semua wanita di negeraku berkelakuan seperti yang Anda katakan tadi, Yang Mulia. Masih banyak orang-orang seperti keluargaku,” balasku, merasa harus mengatakan sesuatu untuk memberikan pembelaan atas kata-kata tak adil pria itu.
Kupikir pria itu akan marah karena aku berani membalas perkataannya tapi dia hanya tersenyum. “Kau mengingatkanku akan Ibunda Aisha. Dia juga sangat senang sekali membela budaya dari negaranya berasal walaupun aku tahu para wanita adi sana bersikap seperti seorang jalang, bebas mencium, memeluk dan tidur dengan pria mana saja yang mereka sukai tanpa ikatan apa-apa. For me, they are whores.”
Sebagian dari diriku dilecut emosi dan aku ingin membantah perkataan tidak adil pria itu, tapi sebagian dari diriku yang lain mencoba menahannya. Well, itu adalah pendapat Sang Sultan, pria itu memiliki kebebasan untuk beropini dan sama sekali tidak bijaksana jika aku mencoba berseberangan dengannya. Aku adalah karyawannya dan pria ini memiliki posisi yang lebih luar biasa, bisa jadi dia tidak terbiasa menerima bantahan apalagi berargumen dengan seorang wanita. Aku harus ingat bahwa di bagian dunia ini, wanita adalah makhluk yang dituntut untuk selalu menurut. Aku hanya perlu ingat mengapa aku berada di sini – yakni untuk menjadi guru pribadi putrinya. Lakukan tugasku dengan baik, itu sudah cukup. Jadi aku mengalihkan emosi dan topik pembicaraan ke hal yang lebih aman, ke hal yang masih terkait dengan pekerjaanku.
“Ibunda Aisha adalah wanita Inggris, Yang Mulia?” Lebih baik aku mencari tahu lebih banyak tentang anak yang akan segera menjadi murid pribadiku dan mengetahui sedikit tentang ibunya pasti akan membantuku untuk lebih mengenal karakternya.
“Ya, dia berasal dari tempat yang sama denganmu, Inggris. Aku bertemu dengannya ketika dia masih sangat muda. Aku membawanya ke sini dan menjadikannya istriku. Tapi takdir berkata lain. Dia meninggal dua tahun setelah aku menikahinya, saat dia melahirkan putriku, Aisha. Aku belum menikah sejak kepergiaannya jadi Aisha adalah satu-satunya keturunanku.”
Itu fakta yang cukup mengejutkan. Pria seperti Sultan Zayn al-Din yang pastinya memiliki sejuta prospek memilih untuk tidak menikah lagi setelah kematian istrinya bertahun-tahun yang lalu.
“Jangan salah paham, aku sudah lama merelakan kepergian Rose. Aku lebih disibukkan oleh tugas kerajaan dan berusaha membesarkan serta menstabilkan Qatabyar, jadi aku belum punya waktu memikirkan pernikahan. Dan aku juga tidak menyukai pernikahan politik,” jelas Sang Sultan seakan bisa membaca pikiranku.
Aku mengangguk. “Aku mengerti, Yang Mulia.”
“Aku tidak perlu pengertianmu,” ucap pria itu dengan nada geli dan sukses membuatku malu. “Kebetulan saja kita sedang membahas topik itu.”
Aku kembali mengangguk, merasa pipiku masih panas. Kami melanjutkan makan dalam diam sampai ketika menu penutup, Sang Sultan kembali mengalihkan perhatiannya padaku. Kali ini dia bertanya dengan nada penasaran.
“Apa alasan kau datang sejauh ini ke Qatabyar untuk menjadi guru pribadi putriku? Jika orangtuamu begitu menjunjung tinggi moral dan sangat kuno, mengapa mereka membiarkan putri mereka yang masih muda dan belum menikah melakukan perjalanan begitu jauh dan tinggal di negeri yang begitu asing untuk bekerja dan mengajari putri seorang duda?”
Aku tahu pria itu tidak bermaksud menyindir, mungkin hanya karena lebih ingin mengerti keputusanku. Aku berusaha mencari jawaban yang paling baik yang bisa dimengerti olehnya. “Mereka percaya bahwa aku wanita yang kuat dan mandiri yang bisa menjaga diriku sendiri, Yang Mulia. Ayahku adalah orang yang mendukung keputusanku untuk datang ke sini, untuk belajar dan mencari lebih banyak pengalaman. Ibuku agak keberatan pada awalnya tapi pada akhirnya mengizinkan dan mengerti keputusanku. Mereka juga yakin bahwa ada baiknya aku menjauh sejenak dari Inggris.” Begitu ucapan itu terucap, aku langsung menyesali kalimat terakhirku.
Tatapan curiga langsung muncul di kedua mata hitam itu. “Oh? Dan mengapa mereka berpikir kau harus menjauh sejenak dari Inggris? Apa kau punya masalah di sana? Aku tidak menginginkan seorang wanita dengan latar belakang tidak bersih untuk mengajari putriku, Nona Cavill. Agenmu meyakinkan pihakku bahwa kau…”
“Yang Mulia,” potongku langsung. Agak sedikit kesal dengan rendahnya pemikiran pria itu tentangku. Apa semua pria di Timur memiliki sikap seperti ini? Menyebalkan! “Yang Mulia berpikir terlalu jauh. Aku tidak punya masalah apapun di Inggris, latar belakangku juga bersih, begitu juga reputasiku, Yang Mulia. Yang Mulia bisa tenang akan hal itu.”
“Kalau begitu jelaskan, mengapa kau harus menjauh sejenak dari Inggris jika kau tidak terlibat masalah di sana?!”