Bab 8

2.4K 384 8
                                    

Happy reading, semoga suka.

Kisah lengkapnya sudah bisa diakses di Playstore dan Karyakarsa.

Khusus Dewasa 21+

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Khusus Dewasa 21+

Luv,
Carmen

_________________________________________

Begitu tiba, rupanya Sultan Zayn al-Din sudah berada di dalam ruangan itu dan sedang menungguku. Dia sedang berdiri menatap jendela ketika aku masuk. Mendengar suara langkah kakiku, pria itu kemudian berbalik.

“Selamat pagi, Yang Mulia,” sapaku saat dia berbalik badan.

“Selamat pagi, Nona Cavill,” balasnya. “Aku yakin kau beristirahat dengan cukup tadi malam?”

“Ya, Yang Mulia. Bagaimana dengan Anda?”

Senyum penuh arti pria itu membuatku menyesal telah menanyakan hal yang sama. Aku tadi hanya bermaksud untuk berbasa-basi membangun percakapan. “Kau penasaran dengan tidur malamku, Nona Cavill? Haruskah aku jujur saja padamu kalau…”

Aku merasa tidak ingin mendengar kelanjutannya jadi aku menundukkan pandanganku dan merasa kalau kedua pipiku terbakar pelan. Pria itu akan kembali menggodaku, aku mengenal nada itu.

“Kau harus berhenti menggodaku dengan sikap dan kata-katamu yang bernada ganda itu, Nona Cavill.” Aku terkejut ketika pria itu sudah mendekat padaku, menunduk sambil berbicara begitu dekat dengan telingaku dan bahkan mencekal pelan lengan atasku. “Aku akan membutuhkan pendamping setiap kali kita bersama jika kau terus seperti ini. Dan aku benci pendamping karena percakapan kita pasti akan membosankan.”

Aku tidak berani mengangkat mata untuk menatapnya. Apalagi membuka mulut untuk berbicara. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kupikirkan. Apa sih yang dimaksud oleh pria itu?

“Oh, satu lagi, kau tak perlu mengenakan abaya ketika bersama dengan putriku,” lanjutnya, langsung kembali pada topik utama. “Kau akan diberitahu jika ada seseorang yang ingin masuk ke sini dan yang tidak diizinkan untuk melihat wajahmu. Kau hanya perlu mengajar putriku di ruangan ini, semua sudah tersedia di sini. Kalau ada pertanyaan, kau boleh menanyakannya pada Salma, dia yang bertanggungjawab atas Aisha.”

Sebelum aku sempat mengiyakan, pria itu sudah mulai berjalan keluar. Setelah ditinggal sendirian, aku berjalan mengelilingi ruangan kelas itu untuk lebih mengenal area yang menjadi ruang kerjaku. Ruangan itu dilengkapi dengan berbagai alat belajar modern. Jelas kalau Sang Sultan sangat mengutamakan pendidikan putrinya. Sepertinya dia menyediakan anggaran tak terbatas demi memberikan pendidikan terbaik kepada satu-satunya pewaris yang dimilikinya. Tak lama, pintu kelas terbuka dan seorang anak perempuan kecil malu-malu berjalan masuk.

“Halo, Aisha,” sapaku ceria saat melihat gadis kecil itu melangkah ragu dan pelan.

Kami menghabiskan hari pertama dengan saling mengenal satu sama lain. Aku juga mengambil kesempatan itu untuk menilai seberapa jauh yang sudah dipelajari Aisha. Harus kuakui kalau gadis itu adalah gadis yang cerdas untuk anak seusianya dan aku tahu tidak akan sulit mengajarinya. Dia mungkin sedikit tertinggal dibandingkan dengan anak-anak seusianya di Inggris tapi aku tahu kalau Aisha bisa mengejar ketertinggalan itu dengan cepat. Kami makan siang bersama di dalam ruangan kelas itu sebelum kembali melanjutkan evaluasi awalku.

Ketika siang bergerak menuju sore, aku mulai merasa aneh lagi. Aku juga bertanya-tanya apakah aku harus makan malam dengan Sang Sultan kembali? Apakah pria itu akan kembali merayuku? Dan yang terpenting yang harus kutanyakan pada diriku sendiri, apakah kali ini aku akan bisa menolaknya? Sebagian dari diriku mulai menyadari bahwa tubuhku sepertinya bereaksi dengan pria itu dan sangat mungkin, sangat mungkin sekali aku tidak akan bisa menolaknya. Pria itu, dengan hanya satu sentuhan sederhana, sepertinya telah membangunkan sesuatu di dalam diriku yang selama ini tidak pernah kurasakan.

Pada akhir hari, Putri Aisha dijemput kembali oleh Salma dan aku membereskan ruangan kelas sebelum mengenakan kembali abayaku. Wanita yang tadi pagi mengantarku kini kembali untuk menjemputku dan mengantarku kembali ke kediamanku. Aku sempat tidur sore sejenak sebelum Jamilah datang dan memberitahuku bahwa dia sudah menyiapkan air mandi. Walaupun istana ini dibangun untuk menahan panas dan memberikan kenyamanan bagi penghuninya, sinar matahari yang masuk melewati jendela tetap saja membuatku merasa lengket dan agak panas jadi aku senang karena bisa mandi sebelum makan malam. Tapi aku diam-diam merasa kecewa ketika Jamilah berkata padaku bahwa makan malam akan disiapkan di ruang tamu.

Sultan's Forced WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang