Kegiatan rutinku setelah menikah selalu diawali dengan aku yang marah-marah kepada Niko karena enggak pernah mau kasih izin buat aku mandi pagi. Yahh, resiko punya suami yang enggak ada otak.
Biasanya setelah marah-marah aku bakal cuci muka kemudian masak. Aku sebenarnya dari dulu itu enggak bisa masak, tapi baru-baru ini lebih tepatnya setelah menikah aku belajar masak. Itu juga karena disuruh sama orang tuaku.
Kata mereka, "cinta suami itu dimulai dari perutnya. Jadi kalau kamu bisa masak, suami kamu pasti selalu makan bersama kamu, bukan bersama orang lain." Ughh! Andai orang tuaku tahu kalau Niko sukanya makan bersama pacarnya. Kayak sekarang.
Iya sekarang, pagi-pagi sekali pacar Niko datang ke rumah. Katanya mau sarapan bersama Niko. Niko tentu senang, dan aku yang enggak senang. Kalau tadi pacar Niko yang masak aku pasti bakalan senang, karena ya masakan pacar Niko itu super duper enak!
Tapi ini enggak, aku yang masak. Sedangkan mereka berduaan di kamar. Enggak tahu aku mereka ngapain. Mungkin barangkali kuda-kudaan. Tapi mereka hebat mainnya, enggak pakai suara! Padahal kalau aku, udah teriak. Tapi enggak, lubangku masih ting-ting ya! Paling aku sama Niko masih sekadar ciuman terus grepe-grepe aset. Hehe!
Yaudah ah, mending lanjut masak. Seperti yang aku bilang tadi perihal aku yang baru belajar masak, tentunya masakanku itu masakan yang simple dan mudah. Seperti goreng telur mata sapi, dan sosis panggang.
Ehh, jangan langsung masang muka mengejek! Ini 'kan sarapan loh! Jadi ya wajar 'kan makanannya begitu! Orang-orang kaya begitu tahu! Huhh!
Ku lihat ke arah kamar, enggak ada tanda-tanda mereka bakalan keluar kamar. Jadi aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Kalau boleh jujur sepertinya aku terlalu banyak memakai garam pada telur ini. Asin!
Ini aku yang memang enggak becus masak atau aku yang bakalan nikah lagi?
Semoga bakalan nikah lagi, amin!
Tapi kayaknya kesialan menimpaku sebelum aku benar-benar bisa nikah. Niko dan pacarnya datang, duduk bergabung denganku di meja makan. Mana tangan Niko sambilan meluk pinggang pacarnya lagi! Ughh mataku iritasi. Dih! Hiks!
Aku cemburu loh! Bangsat, suami kurang ajar!
"Bang, ini aku goreng telur doang."
Meskipun aku tengah memaki Niko di dalam nurani suciku, tapi mulutku tetap berucap dengan lemah lembut. Memang ya hati sama mulut nih cocok banget jadi bestfriend, saling menolong. Hehe!
"Makasih, Dek. Abang makan ya?"
Aku mengangguk sebagai balasan, soalnya mulutku lagi mengunyah. Dan kunyahanku melambat saat aku melihat Niko yang lagi suapin pacarnya. Aku antara mau marah sama mau ketawa lihat raut wajah pacar Niko. Pasti keasinan.
Kayaknya bukan mulut dan nuraniku aja yang bisa temanan, tanganku ternyata juga bisa ya! Tanganku kayak sengaja gitu nambahin garam yang banyak biar pacar Niko makannya sengsara. Iyalah sengsara, biasa makan masakannya sendiri yang enak itu tapi saat disuapi pacar malah yang dimakan asin. Mau muntahin juga kayaknya enggak bisa.
"Maaf ya asin telurnya. Aku kayaknya enggak sengaja nambahin garam terlalu banyak," ucapku cepat menyela pacar Niko yang kelihatan ingin protes.
Niko yang mendengar suaraku yang penuh dengan penyesalan terlihat enggak tega buat marahin aku. Yess!
"Enggak apa, Dek," jawab Niko sambil senyum menenangkan. Aku terpesona! Aduh Niko! Suamiku! Yang ganteng! Yang kaya! Aku meleleh!
Aku mangangguk lalu menunduk untuk menyembunyikan senyum kemenanganku. Soalnya pacar Niko kelihatan banget enggak setuju kalau Niko enggak marahin aku. Mampus, kali ini istri yang menang!
Ugh!
Tapi ...
Di bawah meja, tangan kiri Niko yang nganggur sekarang lagi meremas pahaku yang seksi ini! Mana remasannya keras banget! Anjing Niko. Wajahku udah panas, aku mau mengumpat! Tapi 'kan harus jaga citra diri di depan saingan!
Hiks! Enggak tahan anjing! Tangan Niko yang tadinya meras pahaku, malah jadi mengelus pahaku pelan. Atas bawah, dengan lambat. Ini mah bukan mancing umpatanku namanya, tapi mancing emosi!
Jadi aku megang tangan Niko yang masih asik ngelusin pahaku yang sedangkan matanya asik lihatin pacarnya lagi cerita, dengan sengaja aku nancapin kukuku yang lumayan panjang ke punggung tangan Niko!
Aku tekan kuat-kuat! Terbukti kalau Niko kesakitan soalnya dia balas ngeremas lagi pahaku, kali ini dengan kekuatan yang lebih! Anjing! Aku enggak mau kalah!
Aku tekan lagi lebih kuat kukuku, meskipun sekarang aku lagi nahan sakit. Mataku udah panas, sakit bangsat! Tangan Niko itu keras, dan kekuatannya tentu juga keras. Bayangkan tangan sekeras dengan kekuatan yang luar biasa itu meremas pahaku yang kecil ini!
Tapi! Aku enggak boleh kalah!
Sakit, hiks! Mama! Sakit! Niko anjing! Babi! Setan! Monyet Niko taik!
Dengan kekuatan animeku yang masih tersisa aku pura-pura menjatuhkan sendokku ke bawah. Berhasil menarik pandangan dua orang bodoh ini kepadaku. Aku yang yakin wajahku udah merah karena menahan tangis, tentunya pasti menjadi perhatian pacar Niko. Niko sendiri? Enggak ada otak dia! Malah menyeringai dia bangsat! Senang kali dia bah!
"Kamu kenapa, No? Muka kamu merah," tanya pacar Niko penuh perhatian. Cih drama!
Aku tersenyum membalas pertanyaan pacar Niko, pertanda kalau aku baik-baik aja.
"Oh kirain kamu kenapa gitu, rupanya kamu baik-baik aja."
Enggak anjing! Aku enggak baik-baik aja! Tangan pacar tercintamu ini masih tetap meremas pahaku dengan kekuatan penuh!
Aku tersenyum lagi, terus aku meluruhkan tubuhku ke bawah meja sebagai alasan untuk mengambil sendokku yang jatuh. Padahal mah! Hahaha!
Dengan keyakinan penuh aku menarik tangan Niko yang udah dia lepas dari pahaku karena tubuhku yang merosot, kemudian aku menggigit ibu jari suamiku yang biadab ini dengan kuat. Bisa ku rasakan tubuh Niko yang menegang! Aku tersenyum bangga. Apa lagi karena gigitanku, ibu jari Niko berdarah! Mampus! Rasakan!
Setelah merasa puas, aku kembali pada posisi duduk dengan elegan dan melanjutkan sarapanku dengan damai, dengan hati yang berbunga-bunga.
•••••
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
Talk to Me, Honey!
Teen FictionNola yang memiliki kepolosan setebal dinding dan kesabaran setipis tisu, ditakdirkan untuk harus mengimbangi sex drive Niko yang tinggi. "Enggak sakit-sakit banget 'kan? Boleh ya?" "Anjing ya kamu!" -- Note : Apa pun yang terjadi di dalam cerita in...