Niko menatap pada wajah Nola yang tengah pingsan. Wajah yang terlihat damai. Indah. Tidak pernah sekali pun Niko dikecewakan oleh rupa wajah Nola. Dari pertama kali Niko melihat wajah Nola dan sampai sekarang, Niko tetap jatuh cinta.
Niko mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Nola yang tidak bisa dibilang tirus tapi tidak juga bisa dibilang berisi. Permukaan pipi Nola halus dan lembut. Niko mengecup singkat pipi Nola.
Tapi sepertinya Niko tidak puas hanya dengan mengecup. Lantas ia mulai menjilat pipi Nola kemudian menggigit pipi tersebut. Niko menghisap kuat sampai membekas berwarna merah keunguan. Kiss mark di pipi, ternyata tidak buruk.
Niko kembali menegakkan tubuhnya yang tadi menunduk, kemudian tatapannya menelusuri tubuh telanjang Nola. Tatapan Niko berhenti pada paha kanan Nola yang membekas dan berwarna biru. Ah, itu pasti bekas tanganku tadi pagi, pikirnya.
Niko menyentuh paha Nola, halus. Dengan sengaja Niko kembali mengulangi kegiatannya yang meremas paha Nola. Karena Nola pingsan, dirinya jadi tidak bisa melihat reaksi Nola. Sayang sekali.
Niko menghentikan kegiatannya yang kini ia ganti dengan mengusap keseluruhan kaki jenjang Nola yang bisa tidak ditumbuhi bulu. Halus. Niko jadi merasa ingin kaki tanpa penghalang ini melingkari pinggangnya ketika ia menumbuk hole Nola dengan keras.
"Sial. Penisku berdiri."
Niko menyapu bibirnya yang bengkak dengan lidahnya ketika matanya menatap puting merah muda milik Nola. Dua puting itu sangatlah menggoda.
Tangannya tanpa dicegah sudah menyentuh puting yang menggoda itu. Ia tekan-tekan puting tersebut. Kenyal. Belum puas, Niko kemudian memelintir puting merah muda Nola. Kanan dan kiri.
"Ini menyenangkan sekaligus membuatku semakin tegang."
Niko memutuskan untuk menghisap puting Nola secara langsung dengan bibirnya. Ia hisap kuat-kuat seperti ia menghisap bibir Nola beberapa waktu lalu. Niko juga menggesek-gesek giginya ke permukaan puting Nola, kemudian kembali mengemut dengan semangat.
Puting Nola terasa lembut di permukaan bibir Niko. Niko merasakan sensasi yang sangat menggairahkan. Nasfsunya meningkat.
"Ah sial!"
Dilepaskannya hisapan pada puting Nola, kemudian mengusak-usak rambutnya dengan kasar. Ia merasakan ketidakpuasan yang tinggi. Ia menginginkan Nola sekarang juga.
Aih!
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kanan Nola. Niko yang melakukannya.
"Sial, sial, sial!"
Niko berteriak tanpa mengeluarkan suara. Giginya ia rapatkan kemudian saling menggesek baris atas dengan baris bawah. Hal ini menandakan kalau emosinya sudah sampai di ubun-ubun.
Napas Niko sudah tidak teratur. Dadanya memompa dengan cepat. Dan semakin cepat ketika pandangannya sekali lagi menelusuri tubuh telanjang Nola.
"Sialan!"
Niko berjongkok di samping tempat tidurnya yang sekarang ditempati oleh Nola. Pandangannya menunduk, dengan tangan yang sibuk menjentikkan ruas-ruas jarinya satu persatu bergantian dengan cepat. Bibirnya sudah berulang kali ia basahi dengan lidahnya.
Sungguh, tubuhnya panas. Matanya memerah karena sudah menahan diri sekuat mungkin. Kembali ia berdiri. Kakinya tidak bisa diam, menghentakkan ke lantai terus dan terus dengan cepat.
"Sialan, sialan, sialan! Nola sialan!"
Niko menarik napas dengan cepat dan membuangnya dengan cepat pula. Ia mendongak, berusaha mengalihkan tatapannya pada tubuh telanjang Nola yang begitu menggoda. Meskipun tetap tidak bisa untuk ia lakukan sepenuhnya.
"Engh ...."
Niko langsung memejamkan matanya begitu mendengar lenguhan dari Nola yang sepertinya baru bangun dari pingsannya.
"SIALAN!"
Mata Nola perlahan membuka, perlahan pandangannya yang semula kabur mulai membaik. Mulai jelas. Kepalanya masih terasa berat.
Beberapa detik kemudian, setelah merasa baikan Nola mengedarkan pandangannya dan tepat ketika pandangannya menatap Niko yang memunggunginya sontak kejadian beberapa waktu lalu terputar secara otomatis di kepalanya.
Napasnya langsung tidak beraturan, dengan tergesa-gesa ia mendudukkan dirinya dan semakinlah napasnya tidak beraturan saat menyadari dirinya tidak memakai pakaian barang sehelai benang pun.
Langsung saja air matanya tumpah. Nola tidak cengeng hanya saja tekanan yang dirasakan membuat kepalanya pening.
Niko yang mendengar isakan Nola, membalikkan tubuhnya kemudian menatap Nola dengan tatapan yang Nola tidak bisa artikan. Yang mana tatapan Niko itu membuat Nola semakin ketakutan.
Nola menangkupkan kedua tangannya, bersikap selayaknya seorang budak memohon kepada tuannya.
"Aku, aku mohon, Niko ... aku mohon," lirih Nola dengan suara yang begitu pelan dan begitu bergetar. Tidak lupa air mata yang sudah memenuhi pipinya. Kepalanya juga menggeleng pelan ke kiri dan kenan, menandakan ia tidak mau lagi dihukum.
Tubuh Nola merasakan ketakutan yang luar biasa ketika Niko merespon permohonannya dengan menyipitkan mata yang membuat tatapannya semakin tajam.
Apa lagi kali ini? Apa Niko akan membuat Nola semakin sulit bernapas?
Niko menghampiri Nola yang masih bermohon, kemudian menyerahkan tangan kirinya yang luka karena kuku Nola juga gigitan Nola, membuat Nola semakin bermohon.
Dengan kasar dan sekali hentak, Niko memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut Nola. Nola tersedak karena tindakan tiba-tiba dari Niko.
"Obati. Pergunakan salivamu, Nola."
Nola dengan tubuh yang bergetar menuruti perintah Niko. Lidahnya dengan kaku dan takut-takut mulai menyentuh dan membalut ibu jari Niko yang berada di dalam mulutnya.
Nola menutup matanya selama ia melakukan perintah Niko. Dirinya tidak berani membuka mata apa lagi menatap Niko yang sekarang tengah menatapnya dalam dengan wajah yang memerah dan tubuh yang panas dingin.
"Ucapkan janjimu," ucap Niko dengan penuh penekanan. Seperti dirinya yang juga tengah menekan keinginan binatangnya.
Masih dengan ibu jari Niko yang di dalam mulutnya, Nola mengucapkan janjinya dengan cepat-cepat dan dengan masih mata yang tertutup.
"Aku, aku janji! Aku enggak bakalan tancapin kuku aku lagi di punggung tangan Niko! Aku juga enggak bakalan lagi gigit ibu jari Niko! Bahkan aku juga enggak bakalan berani lagi buat kepengin nikah lagi!"
Ucapan janji terakhir Nola membuat alis Niko mengernyit. Apa katanya? Nikah lagi? Astaga!
Dengan menahan gemas Niko mengeluarkan ibu jarinya dari dalam mulut Nola kemudian beralih menjewer telinga Nola dengan pelan.
"Arkhh sakit, Niko anjing!!"
"Dasar kamu, nakal."
•••••
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
Talk to Me, Honey!
Dla nastolatkówNola yang memiliki kepolosan setebal dinding dan kesabaran setipis tisu, ditakdirkan untuk harus mengimbangi sex drive Niko yang tinggi. "Enggak sakit-sakit banget 'kan? Boleh ya?" "Anjing ya kamu!" -- Note : Apa pun yang terjadi di dalam cerita in...