Ternyata benar kata orang, rasa senang yang terlalu berlebihan itu adalah awal dari kesengsaraan. Hai, kalian enggak mau gitu mengucapkan salam perpisahan kepadaku yang ganteng ini? Soalnya kalian enggak bakalan bisa lihat aku lagi! Aku akan berakhir di sini, Kawan! Berakhir dengan tragis! Ku mohon ingat selalu diriku ini ya!
*menepuk dada kiri dua kali kemudian dengan mengulum bibir, melayangkan tinju ke depan pertanda selamat berpisah dengan keren.
Aku habis! Benar-benar habis!
Sekarang tengah berdiri di depanku seekor serigala yang besar. Yang memiliki tatapan tajam dan ganas, tatapan yang siap menangkap mangsanya.
Dan serigala itu adalah Niko, sedangkan mangsanya adalah aku!
Aku meneguk ludah dengan gugup ketika Niko sudah berada lima cm di depanku. Mataku terus mengerjab guna menghalau pandanganku dari mata Niko. Meskipun enggak berguna! Tapi seenggaknya aku udah berusaha!
"Ni–Niko ..." cicitku sembari berusaha mendorong dada Niko supaya kami bisa berjarak lebih jauh lagi. Tapi percuma. Habislah aku.
Niko mengangkat tangannya, aku langsung menutup mataku. Jangan bilang dia mau balas dendam karena aku menancapkan kukuku di punggung tangannya? Karena aku menggigit ibu jarinya? Atau karena dia tahu aku ada niat menikah lagi melihat dari masakanku yang asin?
Aku menunggu apa yang akan dilakukan Niko. Bukan! Bukan aku senang menunggu balas dendamnya ya! Tapi kepo aja gitu! Bakalan dia apakan aku yang ganteng ini!
Sekian detik terlewati tapi aku enggak ada merasakan apa pun. Ini sebenarnya apa? Niko mau balas dendam 'kan? Aku udah nutup mata loh ini! Apa Niko kepengin aku buka mata? Sadis anjing!
Jadi aku memutuskan untuk membuka mataku. Aku buka mataku dengan perlahan, dan ketika mataku udah terbuka sepenuhnya aku langsung merasakan Niko menubruk dengan kuat bibirnya ke bibirku.
Bangsat!
"Mhmm ...."
Itu bukan desahan nikmat ya! Itu sakit! Bayangkan bibir yang enggak punya tenaga dalam ditabrak dengan keras tanpa persiapan. Sakit bro! Aku yakin bibir Niko juga sakit tapi yang jadi pertanyaanku, Niko bisa merasakan sakit?
Aku berusaha membrontak dari ciuman kasar Niko. Ini berbeda ciumannya dengan ciuaman biasa yang aku dapatkan di pagi hari. Ini terkesan enggak sabaran dan penuh dengan aura kejahatan.
Aku tahu! Aku tahu! Niko balas dendam.
Niko semakin kuat mengulum bibi bawahku. Kepalanya miring ke samping kanan dan kiri berulang kali tanpa menghiraukanku yang udah sedari tadi terengah-engah. Aku kesulitan bernapas!
Dengan santai seolah tanpa beban, Niko mengangkat tubuhku membuatku masuk ke dalam gendongannya dengan gaya hewan koala. Aku enggak bermaksud mau mesra-mesraan, tapi aku terpaksa harus mengalungkan tanganku ke leher Niko, kalau enggak aku bakalan jatuh.
Tapi hebatnya dan kurang ajarnya, Niko enggak melepaskan ciumannya barang sedetikpun bahkan sampai kami udah berada di kamar. Tubuhku dijatuhkan ke kasur dengan seenaknya. Bangsat!
Aku langsung menarik napas tapi belum juga ada dua detik aku menikmati jatah oksigenku, bibir Niko kembali lagi menciumku! Bahkan kali ini lebih ganas. Mama aku mau napas!
Lagi, Niko menggigit bibirku sampai aku bisa rasakan bau annyir. Bibirku pasti berdarah! Dan Niko langsung menghisap darahku itu dengan kuat seperti mengedot susu. Aku meringis merasakan perih karena bibirku yang luka kena salivanya.
"Ni–Niko ud–ah ...."
Serius kepalaku udah pening, pandanganku udah buram ketika Niko memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Menelusuri setiap bagian dalam mulutku, aku enggak tahu berapa lama lidah Niko di dalam mulutku. Sekarang yang aku rasakan adalah pening. Pening sepening-peningnya.
Tapi kayak orang kesetanan Niko enggak dengarin apa yang aku bilang. Niko masih dengan kekuatan balas dendamnya menghabisi bibirku.
Aku enggak tahu udah berapa liter air mataku yang tumpah begitu juga dengan salivaku yang enggak bisa aku telan lagi, semua air itu meluber dari sudut bibirku.
Baru kali ini aku merasakan nyawaku seolah udah di ambang batas. Aku enggak dikasih kesempatan sedetik pun untuk menarik napas. Aku mau mati. Dadaku udah naik turun dengan cepat.
Yang bilang ciuman dengan durasi lama tanpa berhenti itu enak, babi! Enggak anjing! Menyiksa yang ada! Enggak enak sama sekali! Jangan dibutakan sama cerita-cerita yang dibaca! Tapi cerita dari orang yang udah berpengalaman yang perlu! Kayak aku!
Berpengalaman untuk yang pertama dan terakhir dalam hidup.
Serius aku enggak bisa napas, pandanganku mulai gelap. Sakit banget dadaku. Ini keterlaluan kalau balas dendam Niko! Sakit! Kenapa balas dendamnya harus kayak gini?
Aku enggak terima kalau gini.
"Ber–henti, ak–u mo–mohon—"
Tapi memang sialan Niko enggak dengarin apa yang aku bilang untuk kesekian kalinya. Dia tetap memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Bahkan kini telapak tangannya juga menutup jalur terakhirku untuk mengambil napas yang itu pun cuma bisa tersenggal-senggal.
Aku semakin kuat menepuk-nepuk punggung Niko. Tapi lagi dan lagi Niko abai. Sialan! Aku enggak tahu bagaimana selanjutnya, yang terakhir masuk ke pendengaranku adalah kekehan dari Niko.
•••••
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
Talk to Me, Honey!
Teen FictionNola yang memiliki kepolosan setebal dinding dan kesabaran setipis tisu, ditakdirkan untuk harus mengimbangi sex drive Niko yang tinggi. "Enggak sakit-sakit banget 'kan? Boleh ya?" "Anjing ya kamu!" -- Note : Apa pun yang terjadi di dalam cerita in...