CHAPTER SEMBILAN

763 33 1
                                    

Apakah hal wajar ketika bangun tidur tetapi merasakan tubuh yang sakit? Aku bingung. Seingatku aku enggak ada melakukan kegiatan yang bisa bikin badanku kesakitan.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, aku sering merasakan sakit yang secara tiba-tiba di seluruh tubuhku. Terlebih di lubang anusku. Sampai-sampai aku menahan BAB hanya karena takut.

Huftt.

Kepala ku juga pening. Lebih baik aku tidur lagi, berhubung Niko masih memelukku. Dia pasti enggak akan membiarkanku pergi dari pelukannya seperti biasa.

Tapi baru saja aku mau menutup mata, Niko menyapaku. Ada yang berbeda dari sapaannya. Sejak kapan, Niko memanggilku memakai nama? Biasanya juga ...

"Nola?" Niko memanggilku lagi karena panggilan pertamanya enggak aku jawab. Aku mendongak untuk melihat wajahnya. Kebetulan Niko juga lagi melihatku.

"Iya? Tumben pakai nama manggilnya."

Ekpresi Niko terlihat terkejut. Tapi cuma sebentar, setelah itu dia senyum. Mataku tertutup saat dia mengecup pucuk kepalaku.

Aneh. Sweet amat.

"Lagi coba-coba," katanya.

Aku enggak percaya sih sama yang dia bilang. Bukan Niko banget coba-coba. Tapi aku mengangguk aja. Palingan juga dia mimpi terus kebawa ke kenyataan.

"Ya udah. Awas. Jangan peluk-peluk. Badan aku sakit nih."

"Kenapa?"

Aku menggeleng. "Enggak tahu. Tiba-tiba aja sakit."

Niko ketawa mengejek. Kurang asam. "Itu karena kualat sama suami, Dek."

"Idih!"

Tawa Niko semakin terdengar. Suami sialan. Ah udahlah. "Lepas. Aku mau mandi air hangat. Mana tahu bisa mendingan."

Tapi Niko bukannya melepaskan pelukannya justru semakin memelukku. Dia menurunkan tubuhnya menjadikan posisi tidurku lebih atas. Dia mengusakkan wajahnya ke leherku. Geli.

"Geli."

"Kamu wangi, Dek."

"Iya wangi iler."

Bentar. Kok kayak dejavu ya?

Niko ketawa lagi. Ada yang aneh kayaknya sama otak Niko. Kebentur apa gimana?

"Aku mau meluk kamu seharian."

"Enggak kuliah emang?"

"Libur."

"Libur pribadi."

"Iya."

Kami terkekeh. Kalau diingat-ingat lagi, memang setiap tubuhku yang sakit tiba-tiba seperti sekarang ini Niko bakalan menempel terus. Dia bakalan memelukku seharian. Sebenarnya hal itu cukup aneh. Seolah-olah Nikolah yang mengakibatkan sakit di tubuhku.

Tapi emang Niko berbuat apa?

Ah bodoh amat lah!

"Omong-omong, pacar kamu nanti datang enggak?"

Aku bukan rindu ya sama calon selingkuhanku itu. Aku cuma pengin mastiin pikiranku aja. Soalnya terakhir kali kami jumpa itu dia ngasihin aku memo card. Tapi kayaknya aku lupa letak di mana. Berhubung Niko lagi kumat sweetnya pasti dia bakalan jawab pertanyaan randomku.

"Jian enggak datang."

Ehh? "Tumben? Biasanya datang terus. Apalagi kamu liburin diri gini."

Aku lihat Niko memejamkan matanya. Dia memeluk tubuhku semakin erat. "Jian udah meninggal, Dek."

Ha?

"Apaan? Yang bener ah kalau bicara!"

Aku ubah posisi menjadi duduk. Sebentar aku meringis, tapi aku abaikan dulu. Aku lihat ke Niko dengan tatapan bingung. Asli aku bingung banget. Apa maksudnya coba?

Niko ikut mendudukkan dirinya sendiri. Dia lihat ke aku pakai tatapan sedih gitu. Jangan bilang benaran?

"Jian bunuh diri," katanya.

Aku terdiam. Enggak yakin sama pendengaranku. "Bunuh diri?!"

"Iya."

Hah. Anjir. Kok? Perasaan terakhir jumpa dia baik-baik aja. "Tapi kemarin tuh dia baik-baik aja loh. Enggak kelihatan punya masalah gitu!"

Aku masih enggak percaya. Setahuku Jian itu orangnya lemah lembut dan penyanyang. Samaku aja dia baik banget. Jadi enggak mungkin manusia sebaik itu bisa bunuh diri.

"Kemarin kapan? Jian bunuh diri seminggu yang lalu."

Aku semakin enggak percaya. Aku ketawa dong. Yang benar aja. "Jangan bercanda! Ini nyawa loh! Nyawa bukan buat bercandaan!" Kataku marah.

"Wajar kamu bilang begitu. Sewaktu kamu dengar kabarnya, kamu pingsan. Dan sekarang baru bangun."

Aku enggak bisa bilang apa pun lagi. Niko membawa tubuhku ke pelukannya. Dia mengusap-usap punggungku. "Aku tahu kamu terkejut. Jian baik banget sama kamu, makanya bisa kamu enggak yakin dia senekat itu. Tapi kita enggak bisa selalu mastiin keadaan seseorang cuma dari sikapnya ke kita. Jangan terpuruk. Nanti Jiannya enggak tenang."

Aku mulai menangis. Aku kecewa sama pilihannya. Kenapa milih bunuh diri sih? Kan aku ada buat saling berbagi! Aku udah anggap dia temanku, saudaraku. Tapi kayaknya cuma aku aja yang nganggap begitu. Sialan!

Jian bodoh!

"Kenapa dia enggak cerita ke aku kalau punya masalah?"

Niko menepuk-nepuk pelan punggungku. "Jangan ditangisi lagi, Dek. Itu pilihannya."

"Aku enggak terima!"

"Udah jangan begitu. Nanti Jiannya sedih."

Nanti Jian sedih katanya. Aku juga sedih! Dasar Jian asu! "Antarin aku ke makamnya, aku mau ngatain dia bodoh!"

Niko melepaskan pelukannya, mengusap air mataku yang udah jatuh ke pipi. "Dia enggak di sini. Di bawa ke luar negri."

Aku langsung memukul kepala Niko. Niko bodoh! Bego! "Kenapa kamu biarin?! Kamu kan pacarnya! Harusnya kamu minta di sini aja!"

Niko membungkamku dengan memberikanku satu kecupan. Aku enggak tersipu kayak biasanya. Aku masih kecewa sama Jian. Dia anggap aku apa sih?

"Jian dibawa keluarganya. Aku enggak bisa maksa. Ngertiin ya?"

Aku enggak menyahut. Aku lebih memilih merebahkan kembali diriku. Aku tarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku.

Rival ku udah enggak ada. Temanku udah enggak ada. Saudaraku udah enggak ada. Miris banget ya?

Kenapa orang mudah banget bunuh diri? Apa mereka enggak mikirin orang-orang yang sayang ke mereka? Kalau memang ada masalah jangan dipendam harusnya. Kalau kayak gini kan anjing!

Jian.

Dia baik banget orangnya. Kenapa harus pergi sih?

Aku mau nangis lagi. Niko memelukku tanpa melepas selimut yang menutupiku. "Hargai pilihan Jian, Dek. Jangan menghakimi pilihannya. Kita berdoa aja semoga Jian mendapatkan ketenangan."

Aku hanya mengangguk. Lagian, mau marah pun buat apa lagi ya? Yang dimarahin juga enggak ada orangnya.

Huhh.

Lebih baik sekarang aku tidur biar bisa tenangin pikiran. Tapi kayak ada yang aneh. Aku baru sadar. Niko kelihatan tenang banget. Kayak enggak ada rasa kehilangan sedikit pun. Apa karena udah berlalu seminggu?

Tapi kalau aku jadi Niko aku pasti bakalan sedih banget. Dan pasti enggak ada mood buat jalin kemesraan sama orang lain meskipun orang lain itu statusnya penting.

•••••
TBC

Note : Chapter selanjutnya akan memasuki isi deskripsi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 07, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Talk to Me, Honey!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang