SUMMARY:
Semesta malam itu menjadi saksi bahwa Ocean Boy merupakan pusat perhatian yang takkan pernah teralih dari pandangan. Sebuah majestic view terbaik yang diciptakan hanya untuk Kak Jimmy seorang.
• • •
"Tadi ada yang bilang gak mau renang karena takut kedinginan."
Yang disindir demikian halus malah menyengir lebar, setelah mengalihkan pandang dari mesranya tatapan menuju lampu-lampu perkotaan, bagai lilin yang menyala di meja tak jauh dari mereka. Lelaki serupa samudra tak nampak ingin beranjak dari tempatnya berdiri; di sudut kolam renang yang dibatasi lapisan kaca, melingkari tepian granit warna gading. "Kan, ada Kak Jimmy? Heater pribadiku."
"Dua hari yang lalu, siluman guling." Sang dokter mulai menuruni anak tangga; gelombang air layaknya ombak pasang tersibak ke mana-mana. "Sekarang, heater pribadi." Kepala digelengkan, pun tak bisa menahan senyuman. Kedua mata tak lagi bertemu lautan cokelat di relung wajah. Melainkan punggung tegap sang kekasih, yang mengundang minta direngkuh oleh kehangatan. "Besok apa lagi, Sayang?"
"Hmm..." Dipandangnya lekat-lekat wajah sang kekasih, yang dibalas dengan senyuman penuh afeksi. Jemari Sea mendekatkan diri menuju surai kecokelatan Jimmy, menyisirnya ke arah belakang. Meninggalkan jejak lembab karena sebelumnya telah dibasahi air kolam. "Kakak maunya apa?" Nada menggoda diucap begitu ringan.
"Jadi suami ka-hmph!"
Belum saja yang ditanya menuntaskan jawaban, yang ada justru belah ranum sang dokter sudah dibungkam telunjuk kekasihnya. Jelas sekali, gelagat Sea berubah kelabakan. Antara tahu kalau Jimmy mau menjawab demikian, dan tak menyangka bisa segamblang itu mengutarakan status yang didapat, ketika yang lebih muda lulus kuliah kelak.
"I'm being serious, Sea." Tapi, raut wajah lelaki samudra mengerucut lucu. Mana tega sang dokter melanjutkan taktik godaannya, kalau sudah begitu rupanya? "Okay, jangan cemberut," pintanya, mendekatkan diri kembali dengan yang hendak menjawab. "Coba lihat lagi."
Tak perlu menunggu lama, karena mungkin tanpa melihat juga sudah hafal di luar kepala eksistensi kekasihnya, Sea pun menjawab, "Panda."
"Alasannya?"
"Dark circle under your eyes."
"Ada?"
Lelaki samudra mengangguk. "Tiga hari kemarin sering balik RS pagi buta 'kan?"
"You know?" Sebelah alis Jimmy terangkat.
"Kak Jimmy, kita tinggal serumah. Bahkan tidur di satu kamar dan satu kasur yang sama. Mustahil kalau aku nggak tau." Helaan napas dilakukan. Angin mulai berhembus seiring bulan menuju masa kejayaan. Bulu kuduk seperti diajak menegak, sebab bukan sejuk yang didapat, melainkan dingin udara menelusuri tubuh dibasuh air kolam; perlahan menyempitkan jarak. "Seharusnya, tadi berangkat siangan aja. Biar Kakak istirahat dulu."
"Do you like my surprise?"
Pertanyaan diajukan mendadak, lalu mengudara begitu saja. Meminta dijawab oleh Sea yang sedikit mendengus karena kekasihnya berusaha mengalihkan topik bicara. Meskipun begitu, kedua mata berbinarnya tak bisa dibohongi. Saat pandang kembali beradu dengan visual metropolitan, gedung-gedung tinggi menjulang hebat. Berlomba-lomba menggapai konstelasi bintang di langit malam, seperti oniks gelap yang memandangnya. "I do like it, very much," jawabnya, tanpa menoleh.
"City lights were made for you to love them," jelas sang dokter, memperhatikan sisi wajah Sea yang mewujud bagai pahatan seniman terbaik dunia. "Are you happy?"
Senyum merekah bagai ladang bunga bermekaran. Sebuah pertanyaan, mungkin terkesan sederhana. Tapi bagi Sea Tawinan, ketika kalimat itu dilontarkan, hatinya terasa penuh. Menyadari bahwa, apa yang dilakukan sang kekasih tentang rencana staycation ini, adalah upaya untuk membuat dirinya bahagia. "Yes, I am, Kak."
"Dan itu yang terpenting," ucap Jimmy sungguh-sungguh. "Apapun, Sayang. Apapun yang bisa buat kamu bahagia, Kakak bakal lakuin. Perkataanku barusan terdengar cliché dan kesannya cuma gombalan biasa. Tapi jujur, setiap liat kamu senyum, capek yang aku rasain sebelum-sebelumnya udah gak ada artinya lagi,"
"-Karena kamu bukan sekedar Ocean Boy yang Kakak sayang. Tapi majestic view yang sama seperti kamu sekarang ini, di detik ini, melihat lampu-lampu perkotaan di depan sana. Pemandangan yang menyembuhkan."
Hening sejenak, bahkan sepertinya semesta malam itu setuju dengan perkataan memukau sang dokter yang berhasil membuat Sea Tawinan tertegun mendengarnya. Entah dirasuki apa, siapa, maupun bagaimana, hingga bisa mengucap kalimat seindah puisi-puisi sastrawan yang bermakna dalam, dan penuh afeksi. "Kak Jimmy..." lirihnya halus, lebih halus dari helai rambut sosok di depan sebelum dikuasai oleh lembab.
"Hmm?"
"What did I do to deserve you?"
Dari sanalah, pujian-pujian diutarakan sepanjang malam yang tersisa. Saling memberi sentuhan, dan saling merengkuh hangat di bawah sinar rembulan. Para konstelasi bintang menjadi saksi bahwa lelaki serupa samudra akan terus menjadi pusat perhatian. Sebuah objek yang takkan pernah teralihkan, sebab Sea Tawinan adalah definisi sesungguhnya dari estetika itu sendiri. Yang dimilikinya, dan tertidur di sisi ranjang lain ketika waktu menjemput pagi.
Melewati percintaan duniawi; tak ubahnya ritual pemujaan mahakarya terbaik yang pernah ada bagi seorang Kak Jimmy, teruntuk Ocean Boy terpuji.
END OF EPISODE 8

KAMU SEDANG MEMBACA
KAK J & OCEAN BOY • jimmysea
Hayran KurguMereka bilang, kombinasi Kak J & Ocean Boy adalah sempurna. Mampu menghanyutkan siapapun yang melihat mereka bersama. Namun harus diingat, bahwa seindah apapun biru lautan, selalu ada hal misterius yang ingin dikupas asal-usulnya. [ON-GOING] SOCIAL...