18+
Mature Content
Satu cincin menghilang.
Dua jiwa tertukar.
Dan sebuah rahasia perlahan mengancam nyawa mereka.
Ketika masa lalu mulai terungkap, Jovlyen harus memilih-melarikan diri dari kehidupan Vanka atau bertahan demi menemukan kebenaran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suasana kamar masih tegang setelah Devon meninggalkan ruangan. Jovlyen duduk di kursi roda, tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup. Ucapan Devon terus bergema di kepalanya.
Beberapa kenangan lebih baik tetap terkubur.
Itu bukan peringatan. Itu ancaman.
Jovlyen menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya masih lemah, kaki belum bisa digunakan dengan normal, tapi pikirannya berputar cepat. Ia tidak bisa terus diam di dalam kamar ini seperti tahanan.
Ia harus mencari jalan keluar. Setidaknya, ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam kecelakaan itu.
Dengan susah payah, ia mendorong kursi rodanya mendekati jendela. Tirai tebal ia singkap sedikit.
Di bawah sana, taman luas membentang dengan pagar tinggi yang dilengkapi kamera pengawas. Dua penjaga berdiri di dekat gerbang samping. Akses keluar jelas dikunci ketat.
Jovlyen menoleh ke sekeliling kamar. Meja samping tempat tidur. Laci. Lemari.
Ia membuka laci paling atas dengan tangan gemetar. Di dalamnya hanya ada beberapa obat dan tisu. Laci kedua berisi buku kosong. Tidak ada kunci, tidak ada alat komunikasi.
Ia mendorong kursi rodanya ke arah pintu kamar mandi.
Di sana, ia menemukan jendela kecil di atas wastafel. Terlalu tinggi dan terlalu sempit untuk dilalui. Tapi setidaknya, dari situ ia bisa melihat bagian belakang mansion.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka kasar.
Devon masuk dengan langkah cepat. Wajahnya gelap, rahang mengeras. Di belakangnya, Noel berdiri dengan ekspresi cemas.
"Kamu mau ke mana?" suara Devon rendah dan berbahaya.
Jovlyen membeku di dekat wastafel.
"Saya hanya-"
"Jangan bohong." Devon melangkah mendekat.
"Kamera menangkap gerak gerik mu. Kamu memeriksa setiap sudut kamar. Kamu mencoba mencari jalan keluar."
Jovlyen menelan ludah.
"Saya bosan. Saya hanya ingin melihat-"
"Lihat apa?" Devon memotong.
"Pagar? Penjaga? Atau cara kabur?"
Ia meraih sandaran kursi roda dan memutarnya kasar hingga Jovlyen menghadapinya langsung.
"Aku sudah bilang. Jangan mencoba sesuatu yang bodoh."