[TAMAT DI KARYAKARSA] Sempiternal
[adj] berarti abadi, kekal dan tidak berubah.
-----------------------------------------------
Stevy berpikir hubungan persahabatannya akan selalu berjalan mulus, tetapi siapa sangka pernyataan cinta dari sosok Malvi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading 🌿
Stevy mengepak barang-barangnya. Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap itu, kembali memasukkan beberapa buku yang sempat tertumpuk di meja belajar. Masuk ke dalam totebag yang ia bawa kemarin. Laras, si pemilik kamar yang didominasi merah muda itu pun ikut membantu Stevy. Melipat beberapa pakaian yang dikeluarkan dan memasukkannya ke dalam tas sekolah Stevy.
Setelah pertemuan Stevy dengan kedua orang tuanya tadi, gadis itu hanya terdiam membisu. Ia tidak memberi komentar lagi. Otaknya diserang ribuan pertanyaan. Apakah kali ini ayahnya sudah kembali seperti dahulu? Apakah ayahnya tidak akan mengekang lagi? Atau semua ini hanya panggung lakon sang ayah? Berpura-pura seperti ayah yang baik di depan keluarga Laras.
Stevy tidak tahu. Gadis itu tidak yakin. Stevy menghela napasnya sejenak. Ia hentikan aktivitas mengepak barangnya. Ia beralih menatap Laras. Gadis berambut panjang yang juga belum berganti pakaian. Ia duduk di pinggir kasur. Sembari memangku baju yang tengah ia lipat.
"Laras," panggil Stevy dan berhasil membuat Laras mengalihkan atensi padanya.
Laras menatap kawannya itu dengan mata almondnya. Wajah bingung menempel pada gadis itu. Lalu, Stevy pun bertanya, "Menurut lo ..., kalau gue pergi, apa Ayah bakalan sedih?"
Gadis yang ditanyainya itu langsung mengangguk. Seperti tidak ada jawaban selain anggukan. "Lo liat sendiri, 'kan? Ayah lo sampai dateng ke sini buat jemput lo. Jadi, lo bisa simpulkan sendiri," jelasnya.
Laras kembali melipat baju kawannya itu. Membiarkan Stevy kembali melamun. Berkutat pada pikirannya sendiri. Stevy belum yakin sang ayah benar-benar menyayanginya seperti dahulu. Ia belum yakin. Meskipun sekilas tampak ada rona kesedihan di wajah itu. Stevy belum bisa percaya sepenuhnya. Bayangan tentang wajah Ayah ketika mengancamnya sore itu, membuat Stevy meragu. Gadis itu malah berpikir, bundanya yang memaksa ayah Stevy untuk menjemput. Bukan inisiatif dari pria itu.
"Tapi ras ...," Stevy menjeda ucapannya. Ia menatap Laras yang kini mengalihkan pandangan ke arah gadis itu. Lalu melanjutkan ucapannya dengan pertanyaan, "Kalau semisal gue pergi dari dunia ini, apa ayah gue bakalan sedih juga?"
Laras menumpuk lipatan baju terakhir di sisinya. Lalu, menatap Stevy dengan senyuman. "Kalau gue balik posisinya, gimana?"
"Maksudnya dibalik?" tanya Stevy melempar pertanyaan. Tampak kini wajahnya kebingungan bukan main.
Laras mengambil bantal yang dibungkus kain merah muda. Menaikkan kakinya dan duduk bersila di atas kasur. Memangku bantal itu dan siap menjelaskan maksud pertanyaannya tadi. Gadis itu pun bertanya, "Semisal ayah lo yang pergi dari dunia ini, apa lo bakalan sedih?"