Tiga Puluh Dua

97 18 0
                                        

Sempiternal
Story by yeolki_

SempiternalStory by yeolki_

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading
🌿





Bingkai foto berwarna perak dengan ukiran rumit itu, kini berada di pangkuan Stevy. Tangan kananya mengelus pelan kepingan kaca yang melapisi foto sang ayah. Senyum pria itu tercetak di sana. Stevy rindu senyuman itu. Amat rindu.

Gadis itu mengusap air mata yang sempat keluar menuruni pipinya. "Stevy kangen Ayah. Ayah kapan pulang?" tanyanya.

Hening. Tidak ada suara apa pun. Gadis itu seolah bermonolog dengan dirinya sendiri. Foto itu tidak akan bersuara. Tidak akan berbicara dan menjawab pertanyaan Stevy seperti yang ia harapkan.

Tangis Stevy semakin menjadi. Mengalir tanpa dosa. Membasahi kepingan kaca yang melapisi foto itu. "Apa Ayah udah benci sama Stevy, sampai Ayah enggak mau temui Stevy lagi?" tanyanya sambil sesenggukan.

"Ayah jawab!" Stevy menatap lekat-lekat bingkai foto itu. Menatap foto ayahnya yang tersenyum hangat. Air mata jatuh di atas foto itu. Mata Stevy melebur. Membuat gadis itu mengusap air matanya cepat.

Stevy tidak dapatkan jawabannya. Foto itu masih setia diam. Seperti Stevy yang memilih mendiamkan sang ayah dulu. Penyesalan datang mengacak diri Stevy. Bergabung bersama kesedihannya di malam yang panjang ini.

Di antara gelap, Stevy terus terisak. Bayangan tentang sang ayah yang selalu mengomelinya datang. Bersama dengan kalimat-kalimat yang sempat Stevy utarakan kala itu.

"Stevy mau Ayah kembali! Stevy mau diomelin lagi! Stevy enggak mau Ayah pergi!"

Stevy meraung-raung di antara kesedihannya. Ia memeluk bingkai foto itu. Memeluknya amat erat. Seolah itu adalah ayahnya. Seolah bingkai foto itu bisa berubah menjadi sosok Wawan yang ia rindukan.

Namun sayangnya, itu tidak akan terjadi. Bingkai itu akan selamanya menjadi bingkai. Tidak akan berubah menjadi hal yang Stevy inginkan. Menjadi ayahnya yang sudah pergi begitu jauh dan tidak akan kembali.

"Sonya udah pergi jauhin Stevy. Harusnya Ayah enggak boleh pergi juga!" ujar Stevy sambil setia memeluk bingkai foto itu.

Ditinggalkan dua orang yang ia sayang, sama saja seperti mendadak tertimpa gedung. Terlebih hal ini datang di saat yang sama. Stevy berpikir, hari ini ia akan melihat Sonya menyapanya dan memberi senyum. Namun, hal itu tidak ia dapatkan.

Sekelebat bayangan membuat Stevy teringat Malvin. Teringat bagaimana ia datang menghampiri Stevy di atap siang tadi. Dengan sesenggukan ia melepaskan pelukannya pada si bingkai foto. Stevy menatap wajah ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Stevy berujar, "Ayah tahu? Hari ini Malvin datang ke Stevy. Dia minta maaf sama Stevy karena udah bikin hubungan Stevy sama Sonya merenggang."

Stevy mencoba mengingat-ingat kejadian tadi siang. Gadis itu amat ingat suara Malvin tadi. Ia memang tidak melihat sosoknya. Namun, mendengar dari suaranya, Malvin begitu merasa bersalah.

Sempiternal | Gaeul IVE [✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang