[TAMAT DI KARYAKARSA] Sempiternal
[adj] berarti abadi, kekal dan tidak berubah.
-----------------------------------------------
Stevy berpikir hubungan persahabatannya akan selalu berjalan mulus, tetapi siapa sangka pernyataan cinta dari sosok Malvi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading 🌿
Kantin cukup ramai siang ini. Entah karena ini jam istirahat pertama atau memang kebetulan Pak Bambang, si tukang bakso itu malah memasang plang bertuliskan 'spesial hari ini, gratis bakso telur'. Tentunya ada syarat ketentuan berlaku.
Stevy mengetahui hal ini tadi. Ia iseng bertanya, "Pak Bambang! Kalau nanti istirahat jam kedua Stevy beli bakso, Stevy dapet gratis bakso telur, enggak?"
Dan jawabannya adalah gelengan. Dengan tertawa kecil pria yang memiliki perut sedikit buncit itu berkata, "Kalau gitu ... yang ada saya rugi, Mbak. Ini juga, bakso telurnya untuk 100 orang pertama aja."
Gagal sudah mendapatkan bakso telur gratis. Mangkuk Stevy kini tersisa bakso kecil. Tidak ada kuah. Kali ini, Stevy ingin melakukan eksperimen. Ia ingin menuangkan sedikit sambal di atas bakso. Lalu, kecap dan saus dengan takaran satu banding satu.
"Lo kalau mau eksperimen gini, pas kelas kimia. Jangan pas di kantin," celetuk Sonya saat melihat keseriusan Stevy menuangkan satu sendok sambal berwarna oranye itu.
Stevy tidak mau menjawab. Gadis itu malah dengan teliti menaruh sambal tepat di atas si bakso. Tidak boleh tumpah. Itu yang ia inginkan.
Di kala keseriusan Stevy, Dinda berkata, "Eh? Tumben Malvin ke kantin?"
Atensi mereka pun beralih. Termasuk Stevy, gadis itu kini menemukan Malvin yang tidak biasanya ke kantin. Setahu Stevy, ia tidak akan kemari. Waktunya akan habis untuk bermain basket atau pergi ke ruang OSIS.
Stevy memilih kembali dengan bakso terakhirnya. "Mungkin kali ini, dia udah kelaperan," ucapnya.
"Lo salah, Vi ...," Dinda menjeda ucapannya. Wajahnya kini terlihat terkejut. Terlebih ketika melihat barang apa yang disembunyikan Malvin di balik punggungnya. "Mana ada orang ke kantin bawa bunga," herannya dan berhasil membuat Stevy kembali melihat ke arah sosok itu.
Benar. Meskipun benda itu tersembunyi, tapi Stevy bisa lihat daun dan kelopak bunga di sana. Stevy lantas beralih menatap Sonya. Gadis yang hanya duduk membeku di antara Marissa dan Dinda.
"Jangan bilang, dia mau-"
"Stevy! Help ... gue harus ngapain?" Panik Sonya.
Laras yang duduk tepat di depan Sonya pun menyentuh punggung tangannya. Punggung tangan yang kini sudah sebeku es. "Lo tenang aja. Anggep aja ini ...," Laras bingung seketika harus menganggap ini apa.