[TAMAT DI KARYAKARSA] Sempiternal
[adj] berarti abadi, kekal dan tidak berubah.
-----------------------------------------------
Stevy berpikir hubungan persahabatannya akan selalu berjalan mulus, tetapi siapa sangka pernyataan cinta dari sosok Malvi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading 🌿
Malvin terlihat fokus menatap seseorang dari kejauhan kali ini. Pandangannya fokus pada seorang gadis yang duduk di salah satu meja di kantin. Tawa gadis itu terlihat baik-baik saja. Formasi geng mereka pun utuh. Lalu mengapa Stevy sikapnya berubah?
Malvin menghela napasnya. Ia meneguk air di dalam botol tupperware hijau yang sengaja dibawa dari rumah. Pertanyaannya semakin melebar. Sungguh, rasanya setelah diskusi kelompok kemarin, Stevy terlihat baik-baik saja. Lalu, mengapa Stevy malah seperti menjauhinya hari ini? Apa Stevy marah karena Malvin bertanya alasan mengapa ia menolaknya?
Sebuah tepukan di jidat, Malvin dapatkan. Sial, ini pasti karena itu. Malvin memasang muka menyesal. Kedua kakinya menghentak-hentak lantai. Tangannya pun mengepal. Lalu, ia menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Berhasil mengagetkan Chandra yang asyik dengan bakso Pak Bambang. Beruntung, tidak ada bakso yang jatuh. Hanya beberapa tetes kuah yang terlontar keluar dari mangkuk.
"Malvin! Lo kenapa, sih?" omel Chandra kesal.
Malvin tidak langsung menjawab. Ia mengusap mukanya dengan kedua tangan. "Gue ngelakuin kesalahan, Chan!" jawabnya.
"Kesalahan apa? Lo salah jawab waktu mencongak tadi?" Chandra meniup sendok berisi bongkahan lontong yang sudah sedikit kemerahan karena saus. Mulutnya terbuka lebar dan melahap lontong itu. Sembari manik matanya fokus menatap Malvin. Laki-laki yang sudah melepaskan kedua tangan dari wajahnya.
"Bukan itu! Tapi ini soal Stevy," jawab Malvin sambil menatap kawannya itu dengan wajah ingin dieksekusi mati.
Chandra lantas memutar bola matanya malas. Stevy lagi. Semenjak penolakan waktu itu, Malvin cukup uring-uringan. Ia terus bertanya, "Muka gue kurang ganteng ya, Chan? Atau tipe cowok Stevy bukan gue?"
Pertanyaan itu terus terlontar. Sampai Chandra bingung ingin menjawab apa. Lalu, hari ini Malvin malah mempermasalahkan hal yang sama. Sungguh, apa permasalahan remaja hanya seputar gadis? Ayolah, Chandra tidak berkaca? Dirinya pun sama saja, terus bertanya soal Kirana.
Setengah jengah, Chandra bertanya, "Memangnya, kali ini kenapa? Lo pikir Stevy nolak, karena jerawat baru yang muncul di pipi?"
Malvin menatap kawannya itu tidak percaya. "Lo bisa enggak, berhenti bahas jerawat gue? Jerawat gue enggak salah apa-apa!" pintanya.
"Siapa tahu, 'kan? Secara lo semalem nanya obat penghilang jerawat ke gue," sindir Chandra sambil menahan tawanya. Sembari melahap baksonya, ia melirik Malvin yang seolah emosi karena sindirannya.
Malvin salah bertanya pada Chandra. Harusnya ia bertanya pada Ibu atau kakak perempuannya. Kawannya ini akan terus membahas ini sampai si jerawat benar-benar hilang atau malah bertambah satu lagi. Malvin menghela napasnya. Ia menatap Chandra yang masih menahan tawa itu.