[TAMAT DI KARYAKARSA] Sempiternal
[adj] berarti abadi, kekal dan tidak berubah.
-----------------------------------------------
Stevy berpikir hubungan persahabatannya akan selalu berjalan mulus, tetapi siapa sangka pernyataan cinta dari sosok Malvi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading 🌿
Kirana baru saja keluar dari ruangan ekstrakurikuler. Gadis dengan poni rata itu seperti biasa akan mengambil sepatunya. Mengambil sepatu hitam dari rak kayu yang tidak terlalu tinggi. Lalu, menjatuhkannya ke lantai dan memasangkan sepatu pada kedua kakinya asal.
Kirana pikir, lebih baik memasang sepatunya di kelas. Biarkan ia sedikit menginjak bagian belakang sepatunya. Dan biarkan ia pergi ke kelas sekarang karena Kirana ingin makan segera.
Dengan sepatu yang tidak terpasang sempurna, Kirana berjalan menyusuri lorong. Beberapa kali ia menunduk, sekedar melihat sepatunya. Lebih tepatnya, pada ikat sepatu yang belum terpasang sempurna. Jika salah melangkah sedikit saja, Kirana akan jatuh tersungkur di lantai.
Sesekali pula ia melirik ke sekitar. Memastikan apa ada guru yang melewati koridor gedung kelas 12. Bahaya saja jika Kirana terciduk Bu Mega, gadis itu akan mendapat poin. Poin yang bisa ditukar dengan surat pemanggilan wali murid jika sudah mencapai angka 10.
Langkahnya kini sampai di depan kelas. Berniat untuk masuk awalnya. Tetapi, seonggok laki-laki dengan senyum manis kini menghadang Kirana. "Halo, sayang," sapa Chandra dengan nada sedikit mendayu dan manja.
Agak sedikit membuat Kirana jijik mendengarnya. Membuat gadis itu memasang wajah kesal teramat sangat. "Minggir! Gue mau masuk ke kelas," usirnya.
Chandra menggelengkan kepala. "Enggak mau! Lo enggak boleh masuk kelas!" tolaknya.
Kirana menghela. Perutnya sudah meronta-ronta ingin diberi makan. Tetapi, laki-laki ini dengan tidak tahu diri menghalanginya untuk masuk. Bahkan ia tidak izinkan Kirana masuk. Memang Chandra siapa sampai menghalangi ia untuk masuk kelas?
"Emang lo siapa, sampai melarang gue masuk kelas? Anak kepala sekolah aja bukan!" ketus Kirana sambil memadang Chandra tajam.
Chandra tersenyum semanis gula lagi. Ia bahkan melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu menjawab, "Calon pacar gue."
Sontak, jantung Kirana berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Wajahnya sedikit memanas. Menimbulkan rona merah yang sempat terlihat di pipi tembamnya itu. Namun, Kirana lagi-lagi menghela napasnya panjang untuk mengontrol diri. Sial, Chandra enggak lihat pipi gue, 'kan? batinnya.
Lalu, senyum Kirana terukir sejenak dengan terpaksa. "Chandra Haidar ...,"
Kirana menjeda ucapannya sejenak. Masih berusaha untuk tetap terlihat tenang. Meskipun diri ingin menimpuk laki-laki di hadapannya dengan sepatu. Sedangkan, Chandra kini semakin mengembangkan senyumnya. Entah mengapa, melihat Kirana di hadapannya sekarang, membuat hatinya gembira.
"Minggir, yuk," pinta Kirana dengan nada dibuat-buat sedikit menggemaskan. Bahkan ia mengerlingkan mata.
Chandra lagi-lagi menggeleng. "Lo enggak boleh masuk ke kelas," larangnya.