[TAMAT DI KARYAKARSA] Sempiternal
[adj] berarti abadi, kekal dan tidak berubah.
-----------------------------------------------
Stevy berpikir hubungan persahabatannya akan selalu berjalan mulus, tetapi siapa sangka pernyataan cinta dari sosok Malvi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading 🌿
Seorang gadis kini turun dari boncengan motor. Melepaskan helm hitam yang dikenakan, lalu ia berikan pada kakaknya. Si laki-laki yang menjadi pengemudi motor scoopy berwarna stylshbrown. Biantara Wiryatama, ia terlihat memandang adik perempuannya itu dengan sedikit khawatir. Tubuhnya sedikit lebih kurus.
Sejak kejadian seminggu yang lalu, Stevy memilih untuk melewatkan sarapan bahkan makan malam. Ia terkadang tidak menerima bekal makanan dari Bunda. Membuat Sonia terpaksa mengakali ini dengan menitipkan bekal makanan pada Bian. Agar ia memberikan kotak makanan berwarna hijau neon itu pada Stevy.
Seperti saat ini, Bian menyodorkan kotak bekal pada adiknya. Ia bahkan meraih tangan Stevy agar memegang benda itu. "Tadi Bunda titip ini. Jangan ditolak. Nanti Bunda sedih," pintanya.
Stevy hendak menolak. Seperti hari-hari sebelumnya. Hanya saja, Bian selalu punya cara. Ia bahkan turun dari motor. Mendorong adiknya masuk ke dalam sekolah dengan bekal makanan itu. Lalu, kembali ke motor dan melaju begitu saja. Tinggalkan Stevy yang terpaksa menerima bekal makanannya.
Gadis itu menghela napasnya panjang. Ia menatap bekal makan siangnya. Mau tidak mau, ia membawa benda itu bersamanya lagi. Stevy kembali melangkah masuk ke dalam sekolahnya. Ia langsung pergi ke kelas saat ini. Nala sempat menghubunginya tadi, jika laki-laki itu sudah mengecek ruang OSIS lebih dahulu. Jadi, Stevy bisa langsung pergi ke kelas.
Langkah Stevy kini menyusuri koridor gedung kelasnya. Netranya sesekali berkeliling. Melihat suasana ramai sekolah di pukul setengah tujuh. Beberapa murid menyapa Stevy dengan senyum. Gadis itu pun memberi senyum balasan. Meskipun tidak terlalu lebar.
Dari kejauhan, Stevy temukan Malvin yang bergerak keluar dari kelas bersama Chandra. Laki-laki tinggi itu sempat memberi senyum pada Stevy. Dan dibalas oleh gadis itu.
Stevy malah teringat Senin pagi setelah hari itu. Tepat sebelum upacara pagi. Tepat setelah Stevy duduk di sisi Laras yang ingin tahu lebih lengkap tentang kejadian di hari Sabtu. Laki-laki dengan topi abu-abu berlogo burung garuda emas dan buku itu, menghampiri Stevy dan Laras. Malvin terlihat khawatir dengan gadis itu.
Dengan perasaan bersalah yang menempel juga di wajahnya itu, Malvin bertanya, "Lo enggak apa-apa, 'kan?"
Stevy hanya menanggapi dengan gelengan. Ia tidak apa-apa. Stevy hanya terus menangis sepanjang malam. Lalu melewatkan makan malam di hari Sabtu. Bahkan ia berdiam diri di kamar sepanjang minggu. Hanya hubungan dengan ayahnya saja yang tidak baik-baik saja. Bahkan, mungkin tidak bisa diperbaiki lagi.
Di sisi lain, Malvin menyeret kursi kosong yang tidak jauh darinya. Membawanya ke dekat Stevy. Lalu, duduk di sana. Malvin memandang Stevy dengan perasaan bersalah. "Gue minta maaf soal hari itu. Kalau gue enggak sama lo, mungkin kejadiannya enggak bakal begini," sesalnya