Dua Puluh Dua

133 25 52
                                        

Sempiternal
Story by yeolki_

SempiternalStory by yeolki_

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading
🌿






Stevy mengendap-endap berjalan ke arah pintu kamarnya. Tangannya membuka pintu kayu itu perlahan. Dengan tas selempang hitam yang sesekali ia sampirkan ke samping kanan, gadis itu celingak-celinguk melihat sekitar. Aman, pikirnya. Kaki kanan melangkah keluar diikuti kaki kiri. Lalu, Stevy bergerak menuju pintu lain yang ada di dekat kamarnya. Pintu dengan poster bergambar tim sepak bola yang terpampang jelas di sana.

Stevy mengetuk pintu itu sejenak. Ia bercicit kecil memanggil sang kakak, "Kak Bian, ini Stevy."

Terdengar samar-samar suara benda jatuh dari dalam kamar. Lalu tidak berselang lama, kepala Bian muncul dari balik pintu. Rambutnya sedikit acak-acakan. Mungkin baru bangun tidur. Hanya saja, ia malah menatap Stevy dari atas sampai bawah. Menatap gadis yang mengenakan kaus biru dengan outer jeans dan celana jeans cerah berwarna gelap.

"Lo mau ke mana?" tanya Bian bingung.

Stevy memasang cengiran. Ia lalu menjawab, "Anterin Stevy ke Taman Bakau, Kak. Stevy mau nyusul temen-temen ke sana."

"Taman bakau yang lagi viral itu?" Stevy menganggukkan kepala. Bian lalu kembali bertanya, "Udah izin ke Ayah?"

Stevy memberi senyum lebar. Dan Bian bisa menebak jawaban adik perempuannya itu. Ayah juga tidak mungkin langsung mengizinkan anak gadisnya ini pergi. Setelahnya, Bian memilih untuk menggeleng. Tanda tidak mau masuk ke dalam masalah.

"Kalau lo mau bermasalah sama Ayah, lo pergi aja sendiri. Jangan sama gue," tolak Bian hendak menutup pintu kamarnya.

Stevy langsung saja menghadang Bian untuk menutup pintu. Gadis yang mengikat sebagian rambutnya itu kini memandang wajah Bian dengan penuh harap. "Please, Kak. Kita bisa bilang pergi ke toko buku, 'kan? Ayah enggak bakal tahu," yakinnya.

"Tapi, tetep aja kita bohong ke Ayah, Stevy! Gue enggak mau bohongin Ayah," tegas Bian sekali lagi ingin menutup pintu.

Stevy mencegat Bian sekali lagi. Dengan tatapan penuh memohon, Stevy berkata, "Kali ini aja, Kak. Stevy yakin Ayah enggak bakal curiga. Sebelum jam 5, kita pulang, kok."

Bian melirik jam dinding di kamarnya sejenak. Masih menunjukkan pukul setengah empat sore. Jika tidak terlalu lama mungkin tidak akan masalah. Bian kembali menatap adiknya. "Awas aja lebih dari jam lima. Lo harus tanggung akibatnya, kalau Ayah curiga nanti."

Stevy tersenyum riang kali ini. Ia mengangguk antusias. Lalu memberi hormat pada Bian. "Siap, Kak!" ujarnya.

Bian menghela napasnya panjang. Ia memilih masuk ke dalam kamarnya. Bersiap-siap untuk pergi. Kali ini, ia hanya berharap tidak terlibat masalah dengan Ayah. Cukup melihat Stevy pergi dari rumah kala itu, Bian tidak mau adiknya ini malah diusir ayah mereka.

Sempiternal | Gaeul IVE [✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang