Dua Puluh Satu

144 27 56
                                        

Sempiternal
Story by yeolki_

Happy Reading
🌿




Stevy menyesap es lilin berwarna oranye sekali lagi. Sembari kakinya terus berayun-ayun di udara. Netranya berkeliling. Memantau seluruh penjuru sekolah dari atas. Terik panas matahari tidak membuat gadis itu pergi. Ia malah menikmati semilir angin yang berembus. Menyapu rambut pendeknya.

Permadani biru kini menghiasi langit. Bersama gumpalan kapas yang memiliki bentuk bermacam-macam. Mereka bergerak perlahan mengitari langit. Stevy bisa temukan awan berbentuk kucing kali ini. Senyumnya terukir sejenak. Sampai ia pudarkan senyuman itu.

"Kapan gue bisa lepas dari peraturan Ayah? Makin ke sini bukannya berubah, Ayah makin banyak peraturan. Mana makin serem," keluhnya sambil menatap langit.

Selama ini, Stevy selalu menuruti perintah Ayah. Ia hampir tidak pernah melanggar peraturan yang dibuat. Pergi ke sekolah saja selalu diantar. Pulang pun dijemput. Namun, mengapa ayahnya selalu membuat peraturan seolah Stevy sewaktu-waktu akan bertindak di luar batas.

Parahnya, Ayah malah tidak mempercayainya. Jika sudah begitu, apa Stevy harus mematuhi peraturan? Rasanya percuma saja tetap patuh, jika Ayah tidak akan percaya ucapan Stevy.

Gadis itu menghela napasnya panjang. Ia menyesap es berbentuk panjang dan lonjong itu. Rasa jeruk memenuhi indra perasa Stevy. Es yang masih dingin, membuat Stevy sedikit menahan ngilu di gusinya. Namun, gadis itu tetap mengecap es tersebut sampai masuk membasahi kerongkongannya.

"Stevy!"

Stevy mendengar suara yang tidak asing di rungunya. Gadis itu menoleh ke asal suara. Lalu, temukan Malvin yang melangkah menghampiri dan duduk tepat di sebelahnya. Senyum laki-laki itu terukir manis. Namun, Stevy hanya membalas senyum Malvin singkat.

"Siapa yang kasih tahu gue ada di sini?" tanya Stevy langsung, tanpa menatap Malvin.

"Laras yang kasih tahu," jawab Malvin sambil memandang wajah Stevy dari samping.

Stevy menatap Malvin sejenak. Lalu memalingkan wajah sambil berdecap kesal. Entah alasan apa yang diberikan Malvin sampai bisa membuat Laras memberitahukan ia di mana. Padahal Stevy sudah berkata, jika ada hal penting, baru katakan di mana ia berada. Namun, melihat wajah Malvin, Stevy tidak yakin hal penting yang membuatnya kemari.

"Terus ngapain lo ke sini?" Stevy bertanya. Masih belum menatap Malvin. Gadis itu menyesap es lilin rasa jeruknya. Sepasang mata itu memilih menatap ke arah lapangan di tengah sekolah.

Di sisi lain, Malvin masih setia memandang Stevy. Lalu, ia berkata, "Gue mau tanya soal kenapa lo enggak ikut ke Taman Bakau."

Stevy memalingkan kepala pada laki-laki di sisinya. Setahunya, hanya anggota Dfours yang baru mengetahui ini. Hanya mereka. Stevy belum ceritakan ini pada siapa pun selain mereka. "Lo tahu dari mana gue enggak ikut?"

Sempiternal | Gaeul IVE [✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang