Bagian 9; Perasaan yang sama

521 57 2
                                    

⚠⚠⚠ mentioning of kiss

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⚠⚠⚠ mentioning of kiss

Dan ternyata, kejadian lusa lalu membuahkan hasil. Hasil yang baik, juga hasil yang buruk. Gani gak lagi merundung anak lain, dia sama gengnya mungkin udah dapet hidayah buat gak lagi berbuat yang jahat jahat. Mereka cenderung membaur dengan siswa lain, seperti pada umumnya dan tak lagi membuat onar.

Ali bersyukur, meskipun ia yang harus dipasangi berbagai alat di tubuhnya. Untuk menopang agar nama Haliandra masih bisa bernafas, untuk bisa hidup, untuknya, juga untuk Bumi.

Hasil yang buruk ada pada Ali, malam setelah kejadian itu dia langsung dinyatakan sekarat karena paru paru nya rusak. Berkali kali dokter mencoba untuk menyelamatkan satu nyawa si pemuda kecil itu, dan beruntungnya tuhan masih ingin melihatnya tersenyum bahagia di atas pijakan tanah Bumi Pasundan ini.

Mungkin, ini yang disebut sebagai akibat jika kita terlalu peduli terhadap orang. Mungkin, ayahnya juga bingung dan murka mengapa anaknya bisa sampai merokok yang padahal ia jelas tau sendiri itu sama saja bunuh diri.

Dan mungkin, ini bakalan pertama dan terakhir kali dia mengorbankan diri buat cosplay jadi pahlawan karena nyawa yang justru jadi taruhan.

Untuk Jidan, Ali nggak tau kabar laki laki itu gimana. Dia gak pernah lagi ketemu setelah dua minggu dia dirawat, bahkan pemuda itu juga tidak menengoknya di rumah sakit. Mungkin dia tidak tahu, kalau Ali sedang sakit sekarang.

Biarlah, yang penting dia gak lagi dalam bahaya kaya sebelumnya.

"Ali? Udah baikan?"

Bunda

Ali cuma ngangguk sambil senyum, dia memejamkan matanya sebentar pas tangan lembut bunda ngelus kepalanya sayang. "Bunda udah bicara sama Ayah, kamu mau denger sekarang atau nanti aja abis sembuh?" Tawarnya.

Ali terkekeh. "Mau sekarang, lagian sama aja toh."

Bunda tersenyum, wajah cantiknya sama sekali tidak pernah melunturkan ulasan senyum. Jadi dibawa lah tangan kecil Ali ke dalam genggamannya, kedua manik legam itu menatap serius pada sang anak. "Ali, Ayah udah tau semuanya dan dia bangga sama kamu. Tapi, setelah ini, setelah kamu sembuh, Ayah mau kamu pindah dari sekolah itu."

Ali hanya bungkam, dia tidak tahu harus bereaksi apa. Dalam hati Ali mungkin merasa senang, namun ia juga merasa sedih karena akan meninggalkan sekolah itu. Sekolah yang setiap sudutnya banyak merekam memori kenangan dia bersama sosok yang dicintai.

Otaknya menimang, kalaupun ia menolak Ali tidak memiliki alasan yang jelas. Lagipula, mau sampai kapan ia melukai hatinya dan mulai menyembuhkan diri lagi setelah kejadian itu?

Rasanya, Ali harus bangkit kembali. Berlari meninggalkan segala keterpurukan yang pernah terjadi, cukup dia dan tuhan yang tahu bagaimana indahnya kisah mereka.

Maka dari itu, Bunda menerima anggukkan kepala dari anak angkatnya. "Iya Bunda, Ali ikut aja." Jawabnya.

Dan setelah ini, ucapan selamat tinggal akan ia sampaikan pada ibu kota.

Bandung; HoonsukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang