[ 4 ]

435 47 1
                                        

"Heh gadis gila!"

Jennie mendongak mendengar teriakan itu. Ia cukup terkejut karena teriakan itu bisa tembus melewati airpods-nya. Padahal, itu sudah ia setel paling tinggi volume-nya. Jennie mendesis kesal kala pandangannya bertemu dengan gadis berambut sebahu yang sedang berkacak pinggang di samping mejanya.

"Nama Gue Jennie. Bukan gadis gila kayak nama lo." Jawabnya dengan ketus sembari membuka earphone-nya. "Suara lo keras banget anjir sampai nembus noise-cancelling airpods gue. Kalau rusak, lo mampu gantiin gitu?"

Gadis berambut sebahu itu, berdecak kesal lalu memukul keras meja Jennie. "Lo udah gue peringatin beberapa kali ya! Masih berani lo godain pacar gue?!"

Jennie menoleh dan melihat wajah orang yang berteriak itu. "Pacar yang mana? Yang dekat dengan gue, banyak nih. Sebut dong. Biar gue paham." Ujarnya santai.

"Taeyong-Oppa!"

Jennie seketika tertawa keras. Wajahnya datar saja menghadapi teriakan kencang gadis aneh itu. Ia lalu mendorong mejanya lalu bangkit dari kursinya. "Hadeuh, gue kira siapa. Sorry, suruh Taeyong yang jauh-jauh dari gue. Dia gak selevel sama gue." Jennie ingin melangkah pergi, tapi ia tertahan untuk sekedar memberikan sebuah tatapan meremehkan ke arah gadis itu. Tidak ingin pertunjukkan berakhir begitu saja. "Oh ya, satu lagi. Gue kasih saran dikit ya. Lo jadi cewek jangan murahan dong. Taeyong bilang ke gue kalau dia itu masih sendiri. Trus lo ngaku-ngaku gini, gak malu apa? Deuh, kasihan."

Jennie lekas berjalan setelah melontarkan ejekannya. Ia tidak betah melihat wajah gadis itu. Apalagi jika mendengar suaranya. Namun, baru beberapa langkah ia pergi, sesuatu menghentikannya.

Sebuah tarikan yang keras di tangannya, membuatnya terpaksa untuk berbalik. Ia tidak sempat berpikir apa yang harus dilakukannya kali ini. Lewat manik hitam legamnya itu, ia bisa melihat gadis gila itu sudah menaikkan satu tangannya dan melayang dengan cepat ke arahnya.

Plak!

"Lo ga puas ya gue tampar berkali-kali? Salut juga gue dengan keberanian lo. Apa karena harta nenek lo sampai lo bisa seberani ini? Dasar pecundang. Lo itu sesekali harus berterima kasih ama nenek lo. Karenanya, lo bisa lari dari semua masalah yang lo buat."

Jennie amat membencinya. Ia pun mengepalkan tangannya begitu kuat. Tapi, ia suka juga kalau gadis gila itu mulai melakukan hal gila kepadanya. Apalagi, ia sampai menyebutkan neneknya.

Ini kan yang gue mau...

"Kayaknya lo yang mesti berterima kasih sama ortu lo. Mau nerima dengan ikhlas punya anak gila seperti lo. Gue bisa bayangin betapa merananya ortu lo nanti kalau mereka tahu anaknya lah penyebab mereka dipecat dari pekerjaan mereka."

Gadis di depannya, terlihat tidak terpengaruh dengan kata-katanya. Ia malah terkikik keras. "Lo itu gak punya ancaman lain yang bisa buat gue benar-benar merasa terancam, hah? Lo selalu banggain hal itu. Tapi, buktinya apa? Semua orangtua kita masih bekerja dan menghasilkan uang untuk kita." Gadis itu tertawa kemudian. Menemukan sesuatu di kepalanya untuk membalas Jennie. "Oh iya, ortu lo kemana ya? Nenek lo masih hidup tapi sama aja. Selalu bawahannya yang datang kalau lo ada masalah di sekolah. Kasihan banget lo. Segitu gak pentingnya keberadaan lo buat dia."

Tanpa membalas perkataannya lagi, Jennie segera menarik rambut gadis itu. Sepertinya, Sera benar-benar tahu bagaimana cara memancing amarah Jennie. Dan, hal itu pun berhasil. Badannya yang sebetulnya lebih tinggi dari Jennie, kini merendah karena Jennie menarik rambutnya hingga ia membungkuk.

"Jangan bahas ortu gue!" Teriak Jennie kesal dan dengan terus berupaya untuk membuat Sera erjatuh.

"Lepasin!" Teriak Sera sambil berusaha meraih tangan Jennie. Ia ingin Jennie melepaskan tarikannya cepat-cepat.

DERN [ JENSOO ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang