Masih inget sama perjalanan Ruto, Jongu dan Wawan yang nyasar ke rumah Bangchan? Gw harap masih inget ygy, soalnya udah 35 tahun ini cerita kaga update.
Kalo lupa, baca ulang aja dah ya mon maap 🙏
-----
Singkat cerita, 3 tuyul itu sekarang sudah berada ruang tamu Bangchan. Sempat speechless pas tau di dalamnya ternyata berantakan banget sama karung-karung besar yang entah apa isinya. Bau ruangannya pun aneh, kayak bau bahan kimia kecampur bau tengik. Jeongwoo sempat mengira tempat itu adalah tempat penyimpanan ayam tiren.
Jeongwoo, Ruto dan si bontot Junghwan saling melempar tatapan aneh sekaligus jijik. Mungkin kalau Bangchan bisa baca isi pikiran kotor mereka, dia bakal bilang ini 'penghinaan' dan akan membawanya ke ranah hukum.
"Itu isinya apa, sih?" Jeongwoo yang rasa penasarannya paling tinggi bertanya.
"Ginjal manusia," jawab Jihoon asal. "Biasanya anak-anak yang suka ga nurut, pr mtk nya nggak pernah dikerjain, disuruh sunat gamau... Nah itu ginjalnya dijual."
"Fitnah su." Bangchan nggak sengaja dengar. "Itu barangnya orang," koreksinya. Doi baru dari dapur, entah apa yang dilakukannya, suka-suka dia aja. Pria yang tak pernah ketinggalan sebatang rokok Sampoerna-nya itu duduk di samping Junghwan. Menyulut gulungan kertas mirip siwak yang menggantung di bibir gelapnya.
Junghwan merinding, doi beringsut ke Jeongwoo.
"Kak, takut. Bau juga lagi." Junghwan menjepit hidung mungilnya dengan tangan. Wajahnya mengerut tidak nyaman, seakan-akan yang duduk di sebelahnya adalah penyembelih anak.
"Heh, no no adek! Nanti omnya tersinggung." Jeongwoo membungkam mulut si bontot pakai telunjuk, tapi satu tangan lainnya dipakai menjepit hidung karna dia juga mencium aroma yang dimaksud Junghwan.
Bangchan pura-pura tuli. Pria maskulin itu udah paham banget sama trik ghibah orang-orang soal bau badannya. Dulu di SD juga doi sering diolokin keteknya bau sawit. Gara-gara itu dia nggak lanjut sekolah.
Baperan emang. Temannya dontol.
"Eomma udah tau kalian kesini?" tanya Jihoon.
"Belom. Gara-gara ini nih tadi, makanya kita nyasar kesini," tuding Haruto ke Jeongwoo.
"Kagak, orang gue ngajak balik tadi. Wawan tuh, tiba-tiba liat appa." Gantian Jeongwoo menuduh adeknya.
Wawan angguk-angguk gemes kek anak anjing. Dia memang selalu jujur, kalo salah ya salah, kalo benar ya benar asal ga dibodohi abang-abangnya.
"Tapi appa juga salah." Si bontot nunjuk muka Jihoon dengan semangat sampai-sampai lubang hidung bapaknya kecolok.
"Ji, mending lo bawa balik aja dah peliharaan lo ini, pusing gue liatnya." Kalo Bangchan udah mijat kepala artinya dia udah muak.
Bangchan termasuk orang yang hampir nggak pernah interaksi sama anak kecil karna terakhir kali ngobrol sama anak kecil malah dikatain sok asik. Sejak saat itu tiap liat anak kecil traumanya muncul, kayak pengen ngeludahin.
"Yaudah gue pamit, bro." Kemudian Jihoon beralih ke anak-anaknya. "Eh bocah, ayo salim dulu sama om ini."
"Ah gausah lah, takut nular."
"Maksud lo apaan?" Jihoon agak tersinggung.
"Oh enggak, ini... Ekhem... Okhokk... Mmm gue kena flu burung. Takut nular ke anak lo," alibi Bangchan sambil ngelus lehernya yang baru sembuh gondokan.
"Ohh. Yaudah gue balik."
"Yo, tiati."
---
KAMU SEDANG MEMBACA
The INIKEREABLE 2
Humor[ Baca The INIKEREABLE yang pertama dulu ] "Suk, gue pengen miskin aja kalo kek gini." "Gue juga." _____________________ WARNING!! - 13+ - Bahasa non baku - Toxic bertebaran - Typo? Mohon dikoreksi - Jangan baca ini sambil makan/minum. Nanti keselek...
