"Cepet sembuh ya, Ma..." ucap Vanessa seraya menarik selimut untuk mamanya yang sudah terlelap.
Cklek! Suara pintu terbuka, membuat Vanessa menoleh.
"Maaf mengganggu, Van, bisa ke ruangan saya? Karena ada sesuatu yang harus saya bicarakan tentang penyakit mamamu," ucap seorang lelaki berjas putih dengan senyumnya yang manis.
"Oh, bisa, Dok," jawab Vanessa sedikit salah tingkah.
Baru kali ini Vanessa merasa canggung dengan lawan jenis. Yah, bagaimana tidak, lelaki yang satu ini bisa dibilang calon menantu idaman para emak-emak. Postur tubuh yang tinggi, kulit putih, wajah yang tampan, senyum yang manis, seorang dokter yang sudah pasti pintar nan tajir, dan tindak tanduk yang sopan santun. Belum lagi suaranya yang lembut dan tatapannya yang menenangkan. Beuh, setiap perempuan pasti klepek-klepek.
Mama Vanessa saja begitu giat menjodohkan mereka hingga membuat Vanessa sedikit mengomel. Bukannya apa, dia mah seneng-seneng aja dapat cowok sesempurna Alden ini, tapi ia merasa minder jika bersanding dengan cowok alim ini.
"Ehm, ada apa ya, Dok, sama mama saya?" tanya Vanessa setelah duduk di ruangan Alden. Ia mengamati setiap gerak-gerik Alden yang sedap dipandang.
Alden tengah melepas jasnya dan disampirkan ke kursinya. Kemudian, ia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. "Sudah saya bilang, panggil saya Alden saja."
Vanessa tidak menjawab. Pandangannya fokus pada urat-urat di otot tangan Alden. Pandangannya mengikuti tangan cowok itu yang membuka tiga kancing teratas kemejanya, menampilkan dadanya yang sedikit berbulu.
"Van?"
"Van?"
"Eh iya, Kak?" jawab Vanessa gelagapan. Ia merasa kegep menelanjangi Alden dengan tatapannya.
"Ada apa? Kamu sepertinya sedang banyak pikiran," kata Alden yang berdiri bersandar pada meja di depan Vanessa. Posisinya begitu dekat hingga membuat Vanessa melihat ke arah lain, tidak berani menatap Alden yang begitu dalam menatapnya.
Iya, pikiran gue lagi dipenuhi yang iya-iya nih, batin Vanessa dengan memejamkan matanya.
Alden meraih dagu Vanessa hingga cewek itu menatapnya. Tangannya menyampirkan rambut Vanessa ke belakang telinga perempuan itu. Sudah dipastikan jantung Vanessa sedang jedag-jedug.
"Nggak apa-apa kok, Kak," jawab Vanessa sekenanya. Ia memalingkan wajahnya lagi.
"Kamu tampak gelisah. Ini minum dulu," ucap Alden menyerahkan segelas air pada Vanessa.
"Makasih, Kak," ujar Vanessa setelah menenggak habis air itu.
Gila! Lama-lama gue terkam juga nih dokter.
"Mamamu baik-baik saja. Kondisinya sudah stabil. Dalam beebrapa hari ke depan, beliau sudah diboleh pulang," kata Alden seraya menggenggam tangan Vanessa dan mengusapnya lembut.
"Eh, iya, Dok," jawab Vanessa kaget dan menarik tangannya cepat. "Kak, ini AC.nya nggak dinyalain ya?"
Nampak dahi Alden mengerut, "Nyala kok, kenapa?"
"Oh, tapi kok panas ya, Kak?" tanya Vanessa yang dahinya sudah berpeluh.
Merasa tidak nyaman, Vanessa izin ke kamar mandi di ruangan itu. Nampak sudut bibir Alden tertarik ke atas melihat kepergian Vanessa. Kemudian, ia menarik tangan kirinya yang semula berada di saku celanya. Senyumnya kian lebar saat melihat bungkus plastik yang kosong di tangannya. Itu artinya, semua isinya yang berdosis tinggi sudah ia tuangkan ke dalam minuman Vanessa.
"Ini gue kenapa, sih?" tanya Vanessa setelah membasuh mukanya. Tangannya memegang pinggiran wastafel dengan ketat.
"Sial! Gue tiba-tiba ngerasa horny," umpatnya.

YOU ARE READING
Vanessa
RomanceWARNING! FULL 21+ YG GK SUKA MINGGIR JAUH"! Bercerita tentang pengalaman Vanessa dengan lelaki dari berbagai kalangan.