Di dalam kamar, Yafa terus memegang ponselnya dengan gugup. Seperti yang disarankan oleh Tenesya, gadis itu langsung mencoba mengirimkan pesan kepada Arhan, begitu dia pulang dari rumah Tenesya.
Yafa melihat jam pada meja belajarnya, yang sudah menunjukkan pukul 22.00. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, saat tak kunjung mendapatkan balasan pesan dari Arhan satu jam yang lalu.
"Masih kerja kali, ya?" Gumamnya. "Polisi jam kerjanya berapa lama, sih?"
Yafa merebahkan kepalanya diatas meja belajar. Hembusan nafas berat, berkali-kali keluar dari bibirnya. Merasa resah, karena Arhan sepertinya tidak berniat membuka aplikasi pesannya barang sebentar saja.
"Masa iya, aku harus nyerah? Aku chat aja, nggak ditanggapi." gumamnya lirih.
Tangan Yafa meraih sebuah pigura foto yang berisi potret dirinya dengan member NCT. "Oppa, apa ini artinya aku harus balik sama kalian lagi, dan lupain cowok di real life? Mungkin, karena aku jahat sama kalian, kali ya? Soalnya aku balik ke kalian, kalo lagi ngerasa capek dan sedih doang. Giliran udah bahagia, aku lupa."
"Oppa ... tapi, aku sayang kak Arhan. Aku juga akan selalu sayang kalian, kok. Tapi, kak Arhan kayaknya sama kayak kalian, deh. Kalian itu nyata, cuma susah digapai aja. Dan, kak Arhan juga kayak gitu ..." Yafa berbisik dengan lesu. "Kenapa coba, aku harus suka sama orang-orang kayak kalian?"
Mata Yafa tertutup, merasa kecewa, karena bisa saja Arhan seperti sosok idolanya. Mereka ada, punya wujud, dan real, hanya saja tempatnya begitu jauh seperti bintang-bintang di langit malam, yang tidak akan pernah bisa ia raih.
Jari-jari tangan Yafa mengetuk-ngetuk permukaan meja guna memecah keheningan di malam itu. Mencoba membunuh waktu, dengan harapan, bahwa dia akan mendapatkan balasan pesan dari Arhan.
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang masih tertutup. "Jadi gini, rasanya tertolak sebelum berjuang? Aku bahkan baru ngenalin nama doang, dan cuma kasih tau, kalo kita pernah ketemu di nikahan kak Wanda."
"Tapi ternyata ..."
Yafa tersentak, ketika ponselnya berbunyi menandakan adanya panggilan. Tanpa melihat siapa yang menelpon, gadis itu langsung menegakkan tubuhnya, dan menjawab telepon.
"Halo! Kak-"
"Kak, siapa?"
Secara spontan, Yafa menjauhkan ponselnya, guna melihat siapa yang menelpon. Raut wajahnya yang tadi terlihat bersemangat, seketika langsung lesu, melihat nama ayahnya terpampang di layar ponsel.
"Halo, ayah." sapa Yafa tak bersemangat. "Kenapa?"
"Kamu tadi panggil ayah, kakak! Kakak siapa?"
Yafa menelan ludahnya gugup. "Kak ... Kak ... Kak Tenesya ..."
"Ada perlu apa sama Tenesya? Tumben banget kamu yang hubungan langsung sama dia."
"Kan, aku disuruh bunda buat nanya mainan Winter yang ketinggalan di rumahnya tadi. Kita abis pulang dari rumahnya dia tadi. Soalnya, kebetulan om Jo, lagi keluar kota. Jadi, kita diminta buat nemenin dia." jelas Yafa, walaupun dalam hati gadis itu meminta maaf, karena telah berbohong mengenai mainan Winter.
"Malem-malem gini? Kenapa nggak besok aja?"
"Ayah juga! Ngapain malem-malem gini telpon? Kenapa nggak besok aja?" Yafa membalikkan pertanyaan.
"Tadinya ayah mau telpon bunda, mau tanya soal adek. Dia masih rewel atau enggak. Tapi, dari tadi udah ditelpon, cuma nggak dijawab. Kayaknya udah tidur. Kamu sendiri, udah jam segini kenapa belum tidur? Besok sekolah, loh!"

KAMU SEDANG MEMBACA
My Youth (Side Story Miss Independent Series)
FanfictionKUNYANG GS LOKAL!!! AYO BELAJAR MENGHARGAI SEBUAH KARYA, DENGAN FOLLOW, VOTE & KOMEN!!! KARENA SEMUA ITU GRATIS!!! 🥰 R.A Maharani Yafara Kirana Mahendra putri sulung dari seorang Tian Mahendra itu kini sudah menjadi sosok gadis remaja yang cantik...