Tentang Giana Putri yang diuber semua hal. Terutama diuber orang tuanya untuk segera menikah karena umurnya yang sudah dua puluh delapan tahun.
Lalu lini masa dalam hidup membawanya masuk ke keluarga Danurwendo. Giana yang polos dan hanya mengerti b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mampir sebentar yang akhirnya menjadi cukup lama dan canggung setengah mati.
Gia yang selalu berpikir dirinya memiliki postur tubuh yang bagus, merasa bahwa itu tidak ada gunanya sama sekali saat ini. Ketika dia tengah berada di sekeliling orang-orang yang sepertinya memiliki postur tubuh bagus dan kecantikan ragawi yang memukau walaupun mereka sedang tidak memakai make up wajah paripurna.
Gia menunduk dan mendongak cepat ketika seseorang mengusap lengannya dengan lembut. Mbak Dinda tersenyum ke arahnya dan mengulurkan satu cup teh panas.
"Terima kasih, Mbak." Gia berbisik lirih dan berusaha menggenggam cup tehnya dengan benar. Dia sudah merasakan canggung luar biasa sejak tiba di tempat itu, ditambah dengan kondisi koridor rumah sakit Alamanda yang sunyi, mengharuskan mereka banyak berdiam diri dan berbicara dengan suasana pelan.
Gia menyesap tehnya pelan dan pandangan matanya membentur mata Prof Garin yang menatapnya. Pria itu sedang berdiri bersama dengan dua orang pria lain yang memperkenalkan diri padanya sebagai Banyu Biru Pramoedya dan Ilman Danurwendo.
Gia tersenyum dan menunduk. "Mengapa keluarga ini isinya adalah orang-orang dengan ciri genetik yang menarik?" Gia membatin kata-katanya lalu meletakkan teh ke sampingnya. Dia beringsut dan membenahi selimut tebal di pangkuan sosok Mayang Pratiwi yang terlihat gelisah.
"Terima kasih, Giana."
"Sama-sama, Mbak."
"Aku khawatir sekali kenapa harus selama ini proses persalinan Kiko. Bagaimana kalau dia kelelahan?" Helaan napas terdengar dari mulut Mayang Pratiwi dan wanita itu mengulurkan tangan padanya. Gia menyambut tangan kiri wanita itu dan menggenggamnya erat.
"Semoga semuanya berjalan lancar ya Mbak."
"Aamiin. Kamu sepertinya sangat tenang menghadapi situasi seperti ini. Aku tegang sekali dan tidak bisa tenang."
"Dulu saya menunggui kakak ipar saya melahirkan dan saya juga merasakan ketegangan seperti ini. Tapi, semua baik-baik saja jadi saya lebih tenang."
"Huum..."
Gia beringsut dan mengambilkan teh untuk Mayang Pratiwi. "Minum dulu Mbak agar hangat."
"Aku akan langsung pulang begitu anak Kiko lahir. Dan kembali besok. Semua orang marah padaku karena aku tidak mau istirahat dan menunggu di rumah. Bagaimana bisa? Aku bisa gelisah sepanjang malam."
"Huum...jangan khawatir Mbak. Saya akan temani sampai semua selesai."
"Terima kasih banyak...kamu satu-satunya yang mengerti kalau aku tidak bisa tinggal di rumah sekarang. Di sini katanya kurang baik untuk imunitas ku, tapi aku harus di sini. Kiko butuh aku."
"Iya Mbak. Minum dulu tehnya." Gia mengangguk meyakinkan dan membantu wanita itu meminum teh hangatnya. Dia tahu perasaan wanita itu sekarang. Dia gelisah karena khawatir. Mulai menyalahkan semua orang yang melarangnya berada di tempat itu. Bahkan dia mendebat adiknya yang mengatakan bahwa dia harus tinggal di rumah.