THE ONLY ONE LOVE BAB 10: GET TO KNOW EACH OTHER

184 14 0
                                        

         Pernah tinggal di Negara orang dalam waktu yang lama membuat Rizal tak asing lagi dengan urusan domestik. Baginya perkara memasak, mencuci, bahkan mengurus segala urusan rumah tangga merupakan basic skill yang harus dimiliki setiap orang tanpa memandang gender. Jadi, menurut penuturannya padaku, sebisa mungkin dia tidak akan membebankan pekerjaan rumah hanya pada pasangannya saja, selagi bisa dikerjakan bersama, ia tak akan pernah keberatan untuk melakukannya. Dan... hampir satu bulan berbagi atap dengan Rizal di apartemen ini cukup membuatku membuktikan kalau ucapan tersebut bukan sakadar bualan.

          Selain itu Ibu dan Bapak rupanya cukup memiliki andil besar pada terbentuknya karakter Rizal yang kukenal sekarang. Konon sejak kecil ia sudah dibiasakan untuk bersentuhan langsung dengan urusan domestik.

         "Kalau Kak Intan yang nyapu, biasanya aku yang ngepel rumah, Bi. Kalau giliran Kak Intan yang nyuci piring, aku inisiatif untuk nyiram tanaman." Cerita Rizal, ia tengah berdiri di depan bak cuci, sementara aku duduk di meja makan sembari menikmati punggung tegapnya dengan ditemani aroma melati dari teh yang tengah kunimkati. Berhubung aku sudah memasak makan malam kami, Riza mengambil alih tugas mencuci piring. "Tapi... sama kayak kebanyakan orang, aku paling malas kalau harus nyetrika baju."

        Aku tergelak, "Kamunya doang kali ah itu mah."

       Saat ia menoleh, aku melihat kerutan di dahinya. "Emang kamunya nggak?" dan aku hanya menggedigkan bahu sebagai jawaban sebelum menyesap tehku kembali sembari diam-diam tersenyum geli. "Pokoknya aku mau ngerjain apa aja selain nyetrika." Ulangnya lagi.

      "Kak Intan dong yang ngerjain?" Rizal kembali sibuk dengan cuciannya.

        Menggeleng, "Kami dibantu Mbak untuk ngerjain itu, Bi. Kadang Ibu juga sih. Aku sama Kak Intan tuh cuma nyuci baju kami masing-masing aja." Jelasnya, "Tapi kalau Mbak lagi nggak datang ke rumah, dan Ibu sibuk di sekolah, kaminya mau nggak mau nyetrika sendiri."

        "Kamu dulu nggak pernah protes, Zal, ngerjain kerjaan rumah kayak gitu?"

        "Karena aku laki-laki?"

         Aku mengiyakan mengingat kita hidup di tengah masyarakat yang masih memegang teguh prinsip kalau urusan domestik adalah kodrat perempuan, sementara laki-laki dibebankan tugas untuk mencari nafkah, sehingga mereka dibebastugaskan dari segala tetekbengek perkerjaan rumah apalagi mengurus anak. Bisa jadi tidak ada yang salah mengingat kerja sama adalah salah satu fondasi dalam berumah tangga. Saat si suami mencari nafkah, sang istri membantu dengan mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Tapi, kenapa saat banyak perempuan yang juga berjibaku di luar rumah demi mencari nafkah masih tetap dituntut untuk melakukan pekerjaan yang konon menjadi tugasnya? Sementara laki-laki tidak demikian? Itu yang kukatakan pada Rizal, dan dia mendengarkan dengan baik.

         "Bahkan kitanya udah dicekoki pemikiran itu dari kecil banget, deh."

          Suara air keran masih terdengar.

         "Setiap pagi Ibu memasak sarapan di dapur. Ayah membaca koran di teras sambil minum kopi. Sementara Ani menyapu halaman, dan Budi bermain kelereng." Aku menambahkan saat kembali teringat deret kalimat dari sebuah buku pelajaran sekolah dasar yang pernah kubaca. Membacanya belasan tahun lalu tak pernah membuatku berpikir kalau ada yang salah dengan kalimat tersebut, namun tidak untuk sekarang. "Kenapa harus kayak gitu? Kenapa nggak ditulis kayak gini aja: Saat Ibu sedang memasak di dapur, Ayah mencuci baju. Sementara Ani menyapu halaman dan Budi menyiram tanaman. It sounds so damn better!" Tandasku menggebu-gebu yang membuat tawa Rizal lolos.

         Kemudian ia selesai dengan gelas terakhir yang tengah dibilas, mematikan keran, mengelap tangannya sebelum berdiri bersandar pada bak cuci sembari menghadapku. Katanya dengan tangan terlipat, "Kamu galak banget kalau ngomongin perkara ini." Wajahnya dipenuhi seringaian geli, dan aku mengangguk mantap.

        Ia manggut-manggut, dan tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanku sebelumnya. "Aku pernah protes ke Bapak, sih, Bi." Aku mendengarkan. "Waktu itu aku diajak main bola sama anak-anak kampung belakang komplek. Jadi, sepulang sekolah aku buru-buru pulang untuk makan, ganti baju di rumah, dan ninggalin kamar dalam keadaan berantakan."

       Ia tampak menerawang, "Baju berserakan di atas kasur, tas di lantai, sepatu nggak ditaruh di rak, dan bekas makan aku tinggalin gitu aja. Pokoknya kacau banget waktu itu." Fokusnya Kembali. "Sorenya aku kena tegur Bapak. Intinya sih aku kok nggak bertanggungjawab banget dengan ninggalin barang-barang pribadku berantakan ditambah nggak langsung nyuci piring bekas makan sendiri." Ia menyeringai seolah kenangan tersebut membuatnya geli. "Kamu tahu nggak apa yang aku ucapin waktu itu?"

          Aku menggeleng.

         "Kan ada Mbak. Ada Ibu atau Kak Intan yang bisa beresin."

          Mataku membesar, "Serius?" Ia mengangguk, "Terus Bapak gimana?"

         "Dari raut mukanya sih sekilas kelihatan kaget, tapi Bapak pinter banget ngejaga ekspresinya." Katanya geli yang membuatku ikut menyeringai. "Kok Adek bicara gitu?" Rizal mengulang ucapan Bapak. "Well... dengan bangganya aku jawab kalau ngerjain kerjaan rumah kan bukan tugas laki-laki, Pak. Itu tugas perempuan, pokonya Adek nggak mau lagi bantuin Kak Intan beres-beres rumah, nyuci piring, apalagi nyuci baju! Laki-laki kan tugasnya kerja, Pak, nyari uang." Wajahnya mengerut lucu, dan aku tergelak karenanya sampai menyadari tatapan itu padaku, tatapan yang menurutku terlalu hangat dan suskses membuat salah tingkah terlebih saat mendengar kalimat yang kemudian meluncur dari bibirnya.

         "I love your laugh." Kami bersitatap dan suhu udara mendadak naik beberapa derajat di sini..

        "Thanks—" Hanya itu yang bisa kuucapkan

       "I really mean it."

____________________________________________

Jujurly, lho. Kadang aku suka baper sendiri saat nulis adegan antara Rizal dan Arimbi termasuk adegan di atas yang baru aja kamu baca. Aku juga sempat mikir sih, di rl ada kali ya cowok kayak Rizal ini? Punya Pekerjaan mapan, keluarga idaman, tampang rupawan, pribadi yang menyenangkan dan tahu bagaimana memperlakukan pasangan? Euh, he's almost perfect nggak, sih?!

Tapi... tapi... nyatanya nggak ada manusia yang sempurna, kan? Karena rupanya ada aja kelakuan Rizal yang bikin Arimbi mengelus dada saking jengkelnya.

Kelakuan dia yang kayak gimana, sih?
Oh iya, aku suka deh percakapan Rizal dan Arimbi di Bab ini. Rasanya tuh warm banget. Percakapan mereka masih panjang, lho.
Jadi... ayok baca lengkapnya di KaryaKarsa akunya, ya.

https://karyakarsa.com/RianiSuhandi/the-only-one-love-bab

com/RianiSuhandi/the-only-one-love-bab

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
THE ONLY ONE LOVE #LoveAbleSeries Book1Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang