Dua Puluh Delapan

271 29 0
                                        

"Jadi menurut kau, Herman yang sengaja kasih tau Amir tentang kondisi Rasya, Rel?" tanya Gentong.

"Ya siapa lagi, kan?" jawab Farel.

"Iya juga sih. Aku pun herannya, kenapa pas aku ke rumah si Rasya tau-tau sudah ada Amir disana" ujar Gentong.

"Makanya itu, Mir" tukas Farel. Lalu dia pun berpikir lagi, "Tapi masalahnya, kenapa Herman kasih tau ke Amir?"

"Mungkin... Si Amir yang tanya langsung ke si Herman?"

"Nah, kenapa dia mau kasih tau ke si Amir? Sedangkan biasanya dia kan orangnya stay in private!"

"Mungkin... dia di sogok sama Amir???" cetus Gentong.

Farel langsung terengah sesuatu, "Itu kenapa Rasya gak di marahin pas pulang telat karena latihan?"

"Naaah!!! Paham kau sekarang?"

Farel terus bermain dengan pikiran buruknya. "Apa jangan-jangan yang nyuruh si Herman untuk ngelarang gue deket-deket sama Rasya itu... si Amir???"

Gentong melotot, terengah. "Waaaahh, kalau sampe itu beneran terjadi, licik kali lah cara si Amir itu untuk bikin kau sama Rasya itu berpisah looo!"

Mata Farel bergerak kesana kemari. Pikirannya kacau bukan main. Sialan. Jadi ini semua ulah si Amir.

~

Amir jatuh ke lantai akibat tendangan Farel di kelasnya pagi itu. Suasana langsung gaduh saat itu. Para siswa berhamburan di kelas tersebut. Amir yang merasa kesakitan di bagian perutnya itu langsung berteriak marah pada Farel, "REL!!! LU APA-APAAN SIH HAH???"

"BACOT LU!!!!" BUGKKK!!! Farel meninju berkali-kali wajah Amir.

Amir tak mau kalah, dia pun turut membalas perlakuan Farel padanya.

Farel tak merasa tertandingi. Bahkan dia membalas berkali-kali, lalu menyeret Amir ke lapangan indoor sekolah.

Seisi siswa langsung berhamburan menuju lapangan tersebut. Menyaksikan perkelahian Farel dan Amir.

Farel semakin bringas meninju perut Amir berkali-kali sampai mulut Amir memuntahkan darah.

Sejurus Agam selaku ketua osis masuk ke tengah-tengah perkelahian itu, di susul Calvin. Mereka tak mau perkelahian itu terus terjadi. Agam dan Calvin pun memisahkan mereka meski keduanya masih dibaluti emosi dan masih ingin menerkam satu sama lain.

~

"Sudah saya katakan dari dulu juga, lebih baik kita mengeluarkan dia, Pak! Dia ini sumber masalah!!!" tegas Bu Nita di hadapan beberapa guru di ruang konseling.

Seusai itu Farel dan Amir di sidang habis-habisan oleh para guru.

"Sabar dulu, Buu. Sabar" ujar Bu Nikma.

"Sabar gimana??? Sudah saya cetuskan dari dulu, anak ini seharusnya dikeluarkan saja dari sekolah ini! Biang masalah tau gak!" tegas Bu Nita.

"Iya, Bu Nikma. Ngapain sih kasih kesempatan terus menerus sama anak yang gak bisa apa-apa dan gak mau berubah? Buang-buang waktu!" timpal Bu Jenab yang sama emosinya.

Farel hanya bisa menundukkan kepalanya dengan nafas yang menggebu. Disampingnya ada Amir yang hanya juga diam dibatasi oleh Agam dan Calvin agar mereka tidak berkelahi lagi.

"Tenang, Bu! Tenang! Ini waktunya saya untuk berbicara!" tegas Pak Darin, selaku kepala sekolah.

Farel masih menundukkan kepalanya dengan wajah yang masih babak belur.

"Farel!!! Kenapa sih kamu selalu berulah di sekolah ini?" tanya Pak Darin. "Menurut Pak Hadi selaku guru BK dan staff guru yang lain, track record kamu ini... sangat buruk, Farel! Bahkan kamu berkali-kali mendapat kesempatan di sekolah ini tapi-"

"Pak... Farelnya tolong jangan di bentak-bentak, Paaak. Kasian atuh, Pak" ujar Bu Nikma sambil mendekati Farrel dan merangkulnya.

"Hadeuuuhh, Ibu Nikma ini selalu saja membela Farel. Apa sih yang membuat Ibu bangga sama dia???" tukas Bu Nita.

"Dia anak saya, Bu! Anak didik saya. Anak didik kita. Jika satu anak gagal di sekolah ini, itu bukan salah mereka. Tapi salah kita sebagai orang tuanya yang telah gagal mendidiknya. Kitanya saja yang terkadang selalu mengasingkan diri dari para murid! Sampai murid tidak lagi punya empati pada kita sebagai guru. Lebih baik kita dengar dulu penjelasan Farel" ujar Bu Nikma. Lalu dia beralih pada Farel, "Ayo, Nak. Ceritakan. Kenapa sampai kamu memulai perkelahian dengan Amir? Bukankah kalian bersahabat baik?"

"Sahabat, Bu???" ulang Farel pada Bu Nikma. "Sahabat??? Sahabat macam apa yang tega-teganya nusuk sahabatnya sendiri dari belakang???"

Amir mendongak, "Nusuk gimana maksud lo?"

"Alaaaah, gausah sok suci lo depan guru-guru! Lo yang nyogok bokapnya Rasya supaya Rasya gak lagi bertemen sama gue, kan? Iya kan???"

"Hah??? Maksud lo apaan sih?"

"Dimana Rasya?" tanya Pak Darin pada Pak Hadi.

"Rasya tidak masuk sekolah, Pak. Sakit" ujar Bu Nikma.

"Ngaku lo!!!" teriak Farel pada Amir.

"Gue sama sekali gak ngerti maksud tuduhan lo itu ke gue, Rel!!!" tekan Amir.

"BACOT!!!!" BUGGKKK!!! Farel meninju lagi wajah Amir.

Seisi ruangan terkejut dengan sikap Farel bahkan guru-guru perempuan turur menjerit saking kagetnya.

"FAREL ABDUL FATURACHMAN!!!" teriak Pak Darin tiba-tiba. "KAMU SAYA KELUARKAN!!!"

"Pak Darin... jangan, Pak" tangis Bu Nikma, "Ayo, Nak. Minta maaf, Nak. Minta maaf sama Amir supaya kamu tidak dikeluarkan, Nak" pinta Bu Nikma pada Farel.

"Tidak ada toleransi lagi, Bu. Saya rasa sudah cukup! Farel dipecat dari sekolah ini!" tegas Pak Darin tanpa debat lagi.

Tangis Bu Nikma pecah saat itu juga. Farel hanya diam dengan raut wajah yang penuh emosi. "Maafin saya, Bu. Saya memang bukan anak yang membanggakan" tuturnya.

Itulah titik dimana Farel tak lagi bisa berbuat apa-apa. Itulah kalimat terakhir Farel untuk guru kesayangannya. Yang harus ia tinggalkan pada akhirnya.

TO BE CONTINUED

AFTER ON YOU (END 18+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang