Farrel kembali mendatangi sel sementara, tempat Herman di tahan sampai beberapa bukti di temukan. Farrel melihat lelaki itu masih berdiri, menundukkan kepala dengan kedua tangannya yang terkulai lemas di sela-sela jeruji besi tersebut.
Farrel menatap Herman dengan tajam. Begitu juga dengan Herman yang menegakkan kepalanya ketika dia melihat Farrel berada di hadapannya. Herman tertawa dengan mata yang menyala-nyala. "Mau sampe kapan lu giniin gue, Rel? Mau sampe kapan???"
"Sampe Rasya ketemu!" jawab Farrel dengan tegas.
Herman hanya bisa tertawa layaknya orang gila. "Gue doain lu bisa berhasil nemuin Rasya. Biar gue juga bisa lepas dari sini"
"Dimana Rasya, Herman? Dimana?" tanya Farrel dengan tegas.
Herman hanya tertawa.
Farrel melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan bahwa tempat itu sepi. "Oke, ini antara kita berdua aja. Lo kasih tau gue dimana Rasya, gue akan bebasin lo, dan lo akan aman. Sekarang kasih tau gue dimana Rasya. Cepetan!"
"Gue bener-bener gak tau, Bripda Farrel!!!"
"Eh, lo jangan macem-macem sama gue lo ya, gue tau lo pasti sembunyiin dia dari gue kan??? Apa susahnya sih lo kasih tau gue dimana Rasya!" tukas Farrel, semakin sungut.
"Lo mau paksa gue kayak gimanapun, gue tetep gak bisa bilang! Karena gue gak tau!" ujar Herman.
"Oke, tapi lo tau kan, kalo dia sama Amir? Lo tau kan dia pergi sama Amir ke Austria???" tanya Farrel dengan tegas.
Mata Herman kesana kemari menjawab, "Bisa jadi"
"Eh, lo jangan main-main sama gue lo, anjing!" Farrel mencengkram kerah baju Herman dengan geram.
Herman yang seolah tak waras, ikut memegang kepala Farrel dengan kedua tangannya, lalu dia mencium bibir Farrel dengan paksa.
Merasa bagai diserang dan dipermalukan, Farrel melotot tak menyangka apalagi siap dengan perlakuan Herman padanya. Herman berusaha menahan keras kepala Farrel sambil melumati rongga mulut Farrel.
"Lepasin, Anjing!!!" BUGKKK!!! Farrel lalu meninju wajah Herman dengan keras, meski sedikit mengenai besi jeruji, tapi dia lumayan puas dapat memukul wajah lelaki biadab tersebut. "Brengsek lo, gak punya otak!!!"
Herman tertawa lagi melihat Farrel yang sibuk menyeka bibirnya dengan najis. Wajah Herman yang semakin tua seolah tak membuat Farrel peduli padanya sama sekali. "Lo gak akan bisa nemuin Rasya, Farrel!!! Dia udah pergi ninggalin lo!!! Hehehehehehehe!"
"Tai lo!!! Heh, abis ini, lo siap-siap sama tuntutan dari gue. Dengan semua yang lo lakuin ke Rasya. Gue tau lo sering merkosa dia! Iya, kan? Hah??" gertak Farrel.
Raut wajah Herman seketika berubah menjadi cemas. Dia seolah panik ketika Farrel berkata seperti itu. "Lo tau darimana??? Lo tau darimana itu semua???"
Giliran Farrel yang tertawa, "Panik lo sekarang? Takut kan lo??? Bingung, gue tau darimana???"
"Rasya sialaaaaannn!!!" Herman geram bukan main.
"Lo liat Herman. Nasib siapa kali ini yang bakalan ancur! Gue tinggal kumpulin buktinya. Gue akan cari Rasya sampe dapet!" cetus Farrel.
Herman entah kenapa malah tertawa lagi, "Semoga berhasil, Komdan!"
"Tai, lo!!!" gertak Farrel.
Herman masih terus menertawakan Farrel lalu mengacungkan jari tengah kepadanya.
Farrel pergi meninggalkan Herman disana. Amarahnya meledak sedemikian rupa. Dia bingung harus kemana dan bagaimana untuk mencari Rasya. Rasya yang begitu dicintainya dengan penuh rasa sayang.
~
"Kunci dari semua jawaban kita hanya Amir, Pak!" ujar Farrel dengan nada tegas kepada Brigjen Faudar. "Tapi saya benar-benar kehilangan jejaknya. Amir pergi ke Austria. Informasi saya sangat terbatas, dan saat ini dia satu-satunya orang yang bisa jadi petunjuk."
Brigjen Faudar menatap Farrel dengan penuh perhatian. "Kamu yakin, Rel? Amir ini benar-benar kunci untuk menyelesaikan semuanya?" tanyanya dengan nada serius.
Farrel mengangguk mantap, walaupun ada sedikit keraguan dalam suaranya. "Ya, Pak. Tapi sampai sekarang, saya tidak tahu keberadaannya. Entah dia masih di Austria atau sudah kembali ke Indonesia, saya sama sekali tidak punya informasi yang cukup."
Brigjen Faudar tersenyum tipis, mencoba menenangkan anak buahnya. Ia menepuk bahu Farrel dengan penuh keyakinan. "Itu bukan masalah, Farrel. Kami punya cara untuk melacak orang, bahkan yang sudah lama menghilang."
Farrel menatap Brigjen Faudar dengan harapan yang mulai muncul di hatinya. "Apa Bapak bisa membantu saya, Pak?" tanyanya dengan nada yang sedikit memohon.
Brigjen Faudar mengangguk dengan penuh percaya diri. "Tentu saja. Kamu tenang saja. Saya akan kerahkan semua sumber daya yang kita punya. Kalau Amir ini memang penting, kita pasti akan menemukannya."
Mendengar itu, Farrel menghela napas lega. Seolah beban yang selama ini menghimpit dadanya mulai terangkat. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus bagaimana tanpa bantuan Bapak."
Brigjen Faudar menatapnya tajam. "Tugas kita belum selesai, Rel. Jangan terlalu lega dulu. Begitu kita tahu di mana Amir berada, pastikan kamu siap menghadapi kemungkinan terburuk. Orang seperti dia mungkin tidak ingin ditemukan, apalagi jika dia menyembunyikan sesuatu yang penting."
Farrel mengangguk lagi, kali ini dengan semangat baru. "Saya mengerti, Pak. Saya akan mempersiapkan diri. Apa pun risikonya, saya siap."
Brigjen Faudar tersenyum puas melihat tekad di mata Farrel. "Bagus. Kalau begitu, saya akan menghubungi tim intelijen kita. Dalam waktu dekat, kita akan mendapat kabar tentang Amir."
Farrel memandang Brigjen Faudar dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik."
Ketika Farrel meninggalkan ruangan, ia merasa seperti seorang prajurit yang baru saja diberi senjata paling ampuh. Dalam pikirannya, sosok Amir menjadi pusat dari semua misteri yang selama ini menghantui penyelidikannya. Jika ia bisa menemukan Amir, mungkin jawaban atas segala teka-teki akan terungkap. Namun, ia juga sadar bahwa ini bukan tugas yang mudah. Amir bisa saja menyembunyikan sesuatu yang berbahaya, dan ia harus siap menghadapi apa pun.
TO BE CONTINUED...
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ON YOU (END 18+)
Roman pour AdolescentsWARNING : LGBT CONTENT 18+ HOMOPHOBIC BETTER READ ANOTHER STORY "Nakal dulu, baru jadi polisi" - Farel Abdul Fatturachman, 2016 Farrel adalah cowok flamboyan, idaman para gadis di SMA Bakti Perwira. Lelaki bergigi gingsul imut itu cukup populer di s...
