Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

EPILOG

147 7 0
                                        

Gedung pengadilan dipenuhi ketegangan. Suasana ruang sidang itu padat. Para pewarta, pengunjung umum, serta jajaran petugas hukum tampak duduk rapi tapi gelisah. Sorot mata semua tertuju pada dua terdakwa yang kini duduk di balik pagar pembatas: Herman dan Amir. Di sisi kiri hakim, duduk jaksa dengan berkas tebal. Di sisi kanan, pengacara dari kedua pihak tampak siaga.

Farrel duduk di bangku saksi cadangan. Wajahnya keras, rahangnya mengunci. Matanya hanya menatap lurus ke depan, tapi sorot matanya menyiratkan badai yang siap meledak kapan saja. Setiap detik, setiap kalimat, seperti paku yang menghujam dadanya.

Hakim mengetuk palu.

"Sidang perkara nomor 62/PID.B/2018/PN-JKT dengan terdakwa Herman dan Amir, dinyatakan DIBUKA."

Hakim menatap ke arah Herman yang duduk di kursi terdakwa. Suaranya tenang tapi menusuk:

"Saudara Herman. Saya dengar, Anda ini adalah bapak tiri dari korban atas nama Rasya. Benarkah demikian?"

Herman berdiri pelan. Suaranya terdengar dingin, namun berusaha terdengar sopan, "Iya, Yang Mulia. Saya menikah dengan ibu kandung Rasya. Setelah ibunya meninggal... saya yang merawat dia."

Tatapan Farrel langsung menajam. Rahangnya mengatup kuat. Tangannya di paha mengepal diam-diam, seperti menahan diri untuk tidak berdiri dan membantah.

Hakim mengangguk tipis. Lalu membuka lembaran dokumen.

"Namun, menurut kesaksian para tetangga dan laporan lingkungan, Anda sering menyiksa Rasya. Ada yang bilang Anda mengurungnya di kamar mandi, tidak memberinya makan berhari-hari, dan bahkan memukul hingga tubuhnya lebam-lebam. Apa itu benar?"

Sorot mata Farrel menyala. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, matanya menyipit, dadanya naik turun. Kata "lebam-lebam" membuat tubuhnya menegang.

Herman tampak sedikit kaget. Tapi ia tetap berusaha tenang.

"Itu tidak benar, Yang Mulia. Saya hanya mendidik dia sebagai seorang ayah. Saya memang tidak tahu bagaimana cara mendidik anak... apalagi anak laki-laki. Tapi saya juga laki-laki. Saya lakukan sebisanya."

Seketika ruangan gemuruh. Suara sorakan, siulan mengejek, dan komentar marah terdengar dari bangku hadirin. Paling keras adalah dari Gentong—pria besar berambut cepak dengan suara bariton—dan keluarganya.

"Wuuuuuuu!! Boong semua itu!!" teriak Gentong dari bangku belakang. "Siksa anak kok dibilang didikan pula, bodok kali lah!!"

Farrel langsung menoleh ke arah Herman. Wajahnya pucat, tapi matanya merah. Ia menatap seperti ingin membakar Herman hidup-hidup. Bibirnya bergetar, tapi ia masih menahan diri.

Hakim mengetuk palu keras.

"Tenang! Tenang semua! Jika ada yang tidak bisa menjaga ketertiban, saya akan minta dikeluarkan dari ruang sidang."

Keributan mereda. Tapi atmosfer ruangan semakin panas.

Jaksa berdiri, suaranya tegas:

"Yang Mulia, kami mengajukan keterangan dari saksi sekaligus terdakwa pembantu, Amir, sebagai bagian dari pembuktian atas kejahatan terhadap korban bernama Rasya."

Semua mata tertuju pada Amir, yang perlahan berdiri dari kursi terdakwa. Langkahnya pelan menuju mimbar saksi. Suaranya ketika mulai bicara terdengar sedikit parau, tapi jelas:

"Saya bersaksi... bahwa saya menyaksikan Herman membawa Rasya ke sebuah rumah kosong. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana dia... melakukan hal yang tak bisa saya maafkan sampai hari ini."

Farrel menunduk sedikit, lalu menatap lurus. Napasnya mulai memburu. Ia tahu ini bagian yang akan membawanya pada kebenaran yang bisa membunuh perasaannya sendiri.

AFTER ON YOU (END 18+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang