Dua Puluh Empat

482 53 6
                                        

Rasya masih tergugah dengan segala penuturan yang telah di akui Farrel. Rasya seolah hilang waktu dengan pengakuan Farrel barusan. Seolah, ia karam dan tak bisa bergerak.

Farrel masih menunggu jawaban yang hendak diberikan Rasya. Ia tak sabar dengan apa jawaban Rasya yang akan keluar dari mulutnya.

"Aku..."

"RASYAAAA!!!" teriak suara Herman dari ruang tamu.

Farrel dan Rasya melonjak kaget bersamaan. Seiring Farrel bangkit dan hendak bergegas untuk menghampiri jendela kamar Rasya lagi.

"Eeehh, jangan kesitu!!!" Rasya menarik kemeja Farrel dengan suara yang sangat pelan meski panik.

"Terus gimana???" tanya Farrel yang juga panik tanpa suara.

Rasya lalu menyuruh Farrel untuk bersembunyi di kolong kasurnya lagi.

"Nanti kejedot lagi!" ujar Farrel.

"Pilih mana, benjol karena kejedot apa benjol sama Bapak?" tanya Rasya.

Farrel manyun menjawab, "Gak ada benjol yang enakan dikit apa ya?"

"RASYAAA!!! KENAPA NIH PINTU KE KUNCI???" teriak Herman ketika dia hendak membuka pintu kamar Rasya.

Rasya melotot melihat meja yang masih mengganjal di depan pintu kamarnya. "Mungkin macet, Pak" balas Rasya. Lalu dia beralih pada Farrel lagi, "Diem disitu! Jangan berisik!"

"Iya iya" jawab Farrel, malas.

Rasya lalu menggeser meja belajarnya agar tak menghalangi pintu kamarnya lagi. Seketika dia berteriak pelan guna mengulur waktu, "Pak, ini pintunya emang macet. Bisa di buka paksa aja gak dari sana?" tanya Rasya sambil berusaha menggeser meja.

"Lo jangan macem-macem lo ya! Tadi nih pintu baik-baik aja!" teriak Herman.

Farrel dari bawah sana terlihat kasihan melihat Rasya yang sedikit kewalahan menggeser meja.

Setelah berhasil, Rasya lalu membuka cantelan pintu dari dalam kamarnya dan membukanya seketika.

"HEH!!!" Herman langsung mencekik batang leher Rasya dengan tangan kirinya. "Kenapa lama banget lo bukain pintu, hah???"

Rasya terbatuk dan kesulitan untuk bernapas. Dia mencoba meminta agar Herman melepaskan cekikan dari lehernya. Dia tidak bisa berkata apa-apa dari cekikan Herman yang kuat itu. "Ohokk! Paaak!"

"Aaarrgghhh!!!" Rasya di dorong oleh Herman sampai terjatuh ke lantai.

Farrel melotot ngeri ketika ia mendapati Rasya yang kini tengah berhadapan dengannya.

Rasya buru-buru bangun dari jatuhnya karena takut Herman akan mendapati Farrel dibawah sana. "Ap-apa yang bisa Rasya lakukan, Pak?" tanya Rasya, panik.

"Ikut gua lu sekarang!!!" Herman menarik tangan Rasya dan membawanya ke dapur.

Saat ada kesempatan dan aman, disitulah Farrel segera bergegas keluar dari kamar itu.

~

Pagi itu Rasya berlari menuju gerbang sekolah, tapi naasnya pintu sudah ditutup sepuluh menit yang lalu.

Rasya mengumpat dalam hati. Dia memang sudah menduga akan terlambat sejak berangkat dari rumah. Sebenarnya sudah bangun pagi-pagi buta dan tidak akan terlambat kalau saja Herman tidak menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah sebelum berangkat.

"Walaaaah, Mas Rasyaaaa! Kenapa bisa terlambat toh?" tanya Pak Rakai, security sekolah.

"Maaf, Pak. Saya ada keperluan mendesak tadi. Tolong bukain bisa gak, Pak?" tanya Rasya sambil memohon.

AFTER ON YOU (END 18+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang